Indonesia Terserah Dinilai Respons Negatif Masyarakat Atas Kinerja Pemerintah
Rabu, 20 Mei 2020 - 08:24 WIB
loading...
Direktur Eksekutif LIMA, Ray Rangkuti menganggap, tagar Indonesia Terserah, jelas merupakan respons negatif masyarakat Indonesia atas kinerja pemerintah. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti menganggap, tagar 'Indonesia Terserah' , jelas merupakan respons negatif masyarakat Indonesia atas kinerja pemerintah dalam menanggulangi wabah virus Corona atau Covid-19.
(Baca juga: Indonesia Terserah, PKS Sebut Regulasi Pemerintah Tak Saling Dukung)
Menurutnya, tagar ini menghimpun semua keluh kesah, kekesalan, kebingungan serta sekalian kepasrahan. Tentu saja, nuansa emosi dari tagar ini bisa beragam, dari yang sekedar kritik lunak bahkan mungkin sampai pada taraf kecewa sangat.
"Tagar ini menggambarkan sesuatu yang objektif dalam masyarakat. Tak bisa dipungkiri, kinerja pemerintah dalam menghadapi Covid-19 ini antara ada dan tiada," tutur Ray saat dihubungi SINDOnews, Rabu (20/5/2020).
(Baca juga: Mahfud MD Bilang Siapa Pun Jangan Takut dengan Luhut)
Ray menuturkan, pemerintah dianggap ada hanya ketika membuat aturan. Tapi seperti tidak ada jika berhubungan dengan apakah aturan itu dilaksanakan di lapangan atau tidak. Banyak aturan, bahkan kadang saling tabrakan, tapi hampir semua aturan itu seperti tidak berwujud dalam realitasnya.
"Bukan saja karena publiknya yang mungkin kurang patuh, tapi tak jarang malah pokok soalnya adalah elit politik yang seperti tidak satu pandangan dan suara dalam menjalankan aturan yang dibuat," ujarnya.
(Baca juga: Indonesia Terserah, PKS Sebut Regulasi Pemerintah Tak Saling Dukung)
Menurutnya, tagar ini menghimpun semua keluh kesah, kekesalan, kebingungan serta sekalian kepasrahan. Tentu saja, nuansa emosi dari tagar ini bisa beragam, dari yang sekedar kritik lunak bahkan mungkin sampai pada taraf kecewa sangat.
"Tagar ini menggambarkan sesuatu yang objektif dalam masyarakat. Tak bisa dipungkiri, kinerja pemerintah dalam menghadapi Covid-19 ini antara ada dan tiada," tutur Ray saat dihubungi SINDOnews, Rabu (20/5/2020).
(Baca juga: Mahfud MD Bilang Siapa Pun Jangan Takut dengan Luhut)
Ray menuturkan, pemerintah dianggap ada hanya ketika membuat aturan. Tapi seperti tidak ada jika berhubungan dengan apakah aturan itu dilaksanakan di lapangan atau tidak. Banyak aturan, bahkan kadang saling tabrakan, tapi hampir semua aturan itu seperti tidak berwujud dalam realitasnya.
"Bukan saja karena publiknya yang mungkin kurang patuh, tapi tak jarang malah pokok soalnya adalah elit politik yang seperti tidak satu pandangan dan suara dalam menjalankan aturan yang dibuat," ujarnya.