Indonesia Terserah Dinilai Respons Negatif Masyarakat Atas Kinerja Pemerintah
Rabu, 20 Mei 2020 - 08:24 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan lanjut Ray, sikap dan pernyataan presiden juga ikut membantu ketidakjelasan aturan dimaksud. Sebut saja dengan pernyataan presiden yang terakhir yang menyebut PSBB tetap dan tidak ada pelonggaran. Tapi beberapa ketentuan yang menunjang PSBB malah dibolehkan. Misalnya mudik, transportasi yang dilonggarkan, mall dan pasar yang mulai dibuka kembali.
"Akibatnya, makin banyak warga yang merasa bahwa pemerintah seperti tidak sedang menanggulangi wabah Covidnya, tapi lebih sibuk membenahi sektor ekonominya," ungkap dia.
Menurut Ray, ujung dari pandangan ini adalah sikap pasrah, dan kemudian tidak peduli pada imbauan, sikap, pernyataan, bahkan aturan dari pemerintah sendiri. Kepasrahan yang tidak peduli itulah yang tercermin dalam kata "terserah".
Ray mengatakan, tentu saja jika presiden menghayati betul suasana batin rakyat Indonesia ini, lebih dari cukup untuk mengingatkan dia agar lebih terlihat fokus menghadapi wabah covid ini. Menurut mantan aktivis 98 asal UIN Jakarta ini, makin Presiden terlihat hanya bermain kata, akan makin banyak kegusaran terhimpun.
Untuk itu, sambung dia, Presiden Jokowi mestinya menyadari makin sulit bagi pemerintahannya saat ini menghimpun kerelawanan masyarakat. "Absennya kerelawanan partisipasi masyarakat terhadap berbagai langkah pemerintah, akhir-akhir ini cukup jadi isyarat bahwa masyarakat bisa juga bersikap tidak peduli pada pemerintahan Jokowi," ucapnya.
"Akibatnya, makin banyak warga yang merasa bahwa pemerintah seperti tidak sedang menanggulangi wabah Covidnya, tapi lebih sibuk membenahi sektor ekonominya," ungkap dia.
Menurut Ray, ujung dari pandangan ini adalah sikap pasrah, dan kemudian tidak peduli pada imbauan, sikap, pernyataan, bahkan aturan dari pemerintah sendiri. Kepasrahan yang tidak peduli itulah yang tercermin dalam kata "terserah".
Ray mengatakan, tentu saja jika presiden menghayati betul suasana batin rakyat Indonesia ini, lebih dari cukup untuk mengingatkan dia agar lebih terlihat fokus menghadapi wabah covid ini. Menurut mantan aktivis 98 asal UIN Jakarta ini, makin Presiden terlihat hanya bermain kata, akan makin banyak kegusaran terhimpun.
Untuk itu, sambung dia, Presiden Jokowi mestinya menyadari makin sulit bagi pemerintahannya saat ini menghimpun kerelawanan masyarakat. "Absennya kerelawanan partisipasi masyarakat terhadap berbagai langkah pemerintah, akhir-akhir ini cukup jadi isyarat bahwa masyarakat bisa juga bersikap tidak peduli pada pemerintahan Jokowi," ucapnya.
(maf)