Prajurit Marinir 3 Hari 3 Malam Terombang-ambing di Laut Tanpa Makan dan Minum
Minggu, 28 Maret 2021 - 07:30 WIB
loading...
A
A
A
Setiap beristirahat anggota dapat langsung tidur nyenyak karena capeknya bahkan dengan mimpi- mimpi yang indah. Tetapi paling lama anggota tim dapat tidur kurang dari 10 menit. Karena kedinginan dan kelaparan sehingga mudah sekali terbangun. Juga apabila diteruskan tidur khawatir kalau kepala terendam air yang akibatnya akan fatal, yaitu tidak dapat bernafas dan mungkin mati kaku. Untuk menentukan arah tidaklah terlalu sulit. Siang hari anggota tim berpatokan pada puncak-puncak gunung di Alor yang bentuknya lain (yang sebelumnya sudah pernah berkeliling di laut sekitar Alor), dan pada malam hari berpedoman pada bintang-bintang.
Pada 8 Desember 1975 tenaga sudah mulai lemah, namun anggota Tim tidak mengenal arti putus asa dan terus berusaha mencapai Alor. Musuh terberatnya sebenarnya bukanlah gelombang, arus ataupun ikan-ikan buas seperti Paus dan Hiu yang sering dijumpai, tetapi rasa dingin, rasa lelah dan rasa kantuk yang dirasakan sangat berat. Pukul 16.00 pantai Alor mulai membayang samar-samar. Harapan untuk selamat lebih besar lagi. Tetapi justru bayangan daratan ini yang menggoda sehingga Tim terpecah dua. Pelda Mar (anm) Slamet Priyono dengan Serma Mar (anm) Soetardi dan Serka Mar Nurkamid dengan Kopda Mar Soeyono. Karena Pelda Marinir (anm) Slamet Priyono dan Serma Mar (anm) Soetardi berenangnya lebih cepat maka mereka memutuskan untuk berenang duluan.
![Prajurit Marinir 3 Hari 3 Malam Terombang-ambing di Laut Tanpa Makan dan Minum]()
Sebelumnya Pelda Mar (anm) Slamet Priyono berpesan: “Mid… saya dan Tardi akan menuju daratan lebih dulu dan saya akan berusaha cari perahu untuk menolong kamu”, itulah kata-kata terakhir yang disampaikan pada mereka berdua. Perpecahan tersebut seharusnya tidak perlu terjadi, karena sebagai Tim kecil apapun yang terjadi harus tetap kompak.
Dua jam setelah berpisah, sekitar pukul 18.00, Nur Kamid beserta Kopda Marinir Soeyono terjebak dalam pusaran arus, yang sangat kuat, hampir dua jam tidak mampu keluar dari pusaran tersebut, hampir-hampir menyerah. Namun kepada Tuhanlah akhirnya mereka mengadu. Mereka panggil keagungan nama Tuhan untuk dapat membebaskannya. Azanlah mereka sekuat-kuatnya dengan cucuran air mata. Dan Tuhan mendengar dan menerima permohonan mereka karena selesai azan dengan mudah mereka keluar dari pusaran tersebut.
Setelah mereka bebas dari pusaran arus selanjutnya berenang ke arah barat laut karena menurut pengalaman, selama berenang di Selat Ombay tersebut perubahan arus hanya ke arah barat dan timur. Berdasarkan pertimbangan tersebut mereka tidak langsung menuju ujung timur Alor yang jaraknya paling dekat, tetapi mereka memotong agak ke barat, agar bila terjadi perubahan arah arus ke timur mereka tidak terseret ke laut Banda yang sangat luas, dan kalau terjadi perubahan arus ke timur mereka tetap lurus dengan Alor. (Bersambung...)
Pada 8 Desember 1975 tenaga sudah mulai lemah, namun anggota Tim tidak mengenal arti putus asa dan terus berusaha mencapai Alor. Musuh terberatnya sebenarnya bukanlah gelombang, arus ataupun ikan-ikan buas seperti Paus dan Hiu yang sering dijumpai, tetapi rasa dingin, rasa lelah dan rasa kantuk yang dirasakan sangat berat. Pukul 16.00 pantai Alor mulai membayang samar-samar. Harapan untuk selamat lebih besar lagi. Tetapi justru bayangan daratan ini yang menggoda sehingga Tim terpecah dua. Pelda Mar (anm) Slamet Priyono dengan Serma Mar (anm) Soetardi dan Serka Mar Nurkamid dengan Kopda Mar Soeyono. Karena Pelda Marinir (anm) Slamet Priyono dan Serma Mar (anm) Soetardi berenangnya lebih cepat maka mereka memutuskan untuk berenang duluan.

Sebelumnya Pelda Mar (anm) Slamet Priyono berpesan: “Mid… saya dan Tardi akan menuju daratan lebih dulu dan saya akan berusaha cari perahu untuk menolong kamu”, itulah kata-kata terakhir yang disampaikan pada mereka berdua. Perpecahan tersebut seharusnya tidak perlu terjadi, karena sebagai Tim kecil apapun yang terjadi harus tetap kompak.
Dua jam setelah berpisah, sekitar pukul 18.00, Nur Kamid beserta Kopda Marinir Soeyono terjebak dalam pusaran arus, yang sangat kuat, hampir dua jam tidak mampu keluar dari pusaran tersebut, hampir-hampir menyerah. Namun kepada Tuhanlah akhirnya mereka mengadu. Mereka panggil keagungan nama Tuhan untuk dapat membebaskannya. Azanlah mereka sekuat-kuatnya dengan cucuran air mata. Dan Tuhan mendengar dan menerima permohonan mereka karena selesai azan dengan mudah mereka keluar dari pusaran tersebut.
Setelah mereka bebas dari pusaran arus selanjutnya berenang ke arah barat laut karena menurut pengalaman, selama berenang di Selat Ombay tersebut perubahan arus hanya ke arah barat dan timur. Berdasarkan pertimbangan tersebut mereka tidak langsung menuju ujung timur Alor yang jaraknya paling dekat, tetapi mereka memotong agak ke barat, agar bila terjadi perubahan arah arus ke timur mereka tidak terseret ke laut Banda yang sangat luas, dan kalau terjadi perubahan arus ke timur mereka tetap lurus dengan Alor. (Bersambung...)
(cip)
Lihat Juga :