Ketua Dewan Pembina Pinkan Indonesia Berharap Kolintang Jadi Warisan Budaya
Jum'at, 26 Maret 2021 - 14:51 WIB
loading...
A
A
A
Disebutkan, kekristenan kemudian membuat ritual bunyi-bunyi kayu ini terpinggirkan bahkan nyaris punah dengan menyatakan bahwa ritual atau ritus tersebut sebagai berhala. Akibatnya, kolintang yang telah berkembang dari permainan 3 bilah hingga 7 bilah menjadi permainan musik bagi rakyat yang digunakan pada saat proses olah kelapa membuat kopra di ladang perkebunan.
Marsetio mengungkapkan, keberadaan Nelwan Katuuk, seorang difabel namun memiliki kemampuan bermain kolintang, tentunya memiliki alasan mengapa Kolintang justru dipopulerkan olehnya. Hal ini disebabkan karena Nelwan tidak dilarang oleh komunitas di Tanah Tonsea, termasuk pemimpin umat atau jemaat gereja, karena kuatnya kekristenan yang ada di tanah Minahasa.
Dengan perjuangan gigih Nelwan pula yang kemudian mentransmisikan nilai bunyi-bunyian ke nada-nada universal kepada orang orang di sekitarnya. Ini menjadikan suatu dukungan dengan memberikan tempat untuk Nelwan dalam satu grup permainan musik yang berupa alat-alat musik barat, seperti gitar, banyo, ukulele, dan bas string.
Hal ini bertransmutasi pada kolintang gong ke dalam kolintang kayu, yang kemudian berlanjut dari orkes kolintang menjadi kolintang melulu dan menjadi Ansambel Musik Kolintang Kayu Minahasa. Melalui Nelwan Katuuk, kolintang yang sebelumnya berada di luar garis masyarakat yang sedang berubah dengan masuknya budaya barat, tetap terhubung dengan tradisional dalam lingkup budaya namun tanpa ritual.
“Pada era peperangan, di mana masyarakat sipil mengungsi di hutan atau perkebunan, ada kesulitan tersendiri ketika musik dibutuhkan untuk ibadah, terutama ketiak alat musik barat tersebut putus senarnya. Suasana ini memunculkan perkembangan dengan pemikiran untuk menggantikan alat musik barat tersebut dengan kayu yang memang tersedia di hutan,” ujar Marsetio.
Marsetio mengungkapkan, keberadaan Nelwan Katuuk, seorang difabel namun memiliki kemampuan bermain kolintang, tentunya memiliki alasan mengapa Kolintang justru dipopulerkan olehnya. Hal ini disebabkan karena Nelwan tidak dilarang oleh komunitas di Tanah Tonsea, termasuk pemimpin umat atau jemaat gereja, karena kuatnya kekristenan yang ada di tanah Minahasa.
Dengan perjuangan gigih Nelwan pula yang kemudian mentransmisikan nilai bunyi-bunyian ke nada-nada universal kepada orang orang di sekitarnya. Ini menjadikan suatu dukungan dengan memberikan tempat untuk Nelwan dalam satu grup permainan musik yang berupa alat-alat musik barat, seperti gitar, banyo, ukulele, dan bas string.
Hal ini bertransmutasi pada kolintang gong ke dalam kolintang kayu, yang kemudian berlanjut dari orkes kolintang menjadi kolintang melulu dan menjadi Ansambel Musik Kolintang Kayu Minahasa. Melalui Nelwan Katuuk, kolintang yang sebelumnya berada di luar garis masyarakat yang sedang berubah dengan masuknya budaya barat, tetap terhubung dengan tradisional dalam lingkup budaya namun tanpa ritual.
“Pada era peperangan, di mana masyarakat sipil mengungsi di hutan atau perkebunan, ada kesulitan tersendiri ketika musik dibutuhkan untuk ibadah, terutama ketiak alat musik barat tersebut putus senarnya. Suasana ini memunculkan perkembangan dengan pemikiran untuk menggantikan alat musik barat tersebut dengan kayu yang memang tersedia di hutan,” ujar Marsetio.
Lihat Juga :