Gelagat Kuat Versi Partai Ummat Ada Upaya Jabatan Presiden Tiga Periode
Rabu, 17 Maret 2021 - 10:45 WIB
loading...
Inisiator Partai Ummat, Agung Mozin ikut berkomentar terkait isu masa jabatan Presiden tiga periode yang menjadi polemik dan sempat dibantah pihak Istana. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Inisiator Partai Ummat, Agung Mozin ikut berkomentar terkait isu masa jabatan Presiden tiga periode yang menjadi polemik dan sempat dibantah pihak Istana dalam merespons pernyataan Amien Rais yang ditayangkan di Channel Youtube milik mantan Ketua MPR tersebut.
Baca juga: Presiden 3 Periode, Politikus Demokrat: Berhenti Sosialisasi Ide Buruk Ini
"Maka saya menegaskan kembali bahwa apa yang disampaikan oleh Amien Rais adalah tepat, mengapa?" kata Agung Mozin kepada wartawan, Rabu (17/3/2021).
Agung menuturkan, masih melekat diingatan publik bahwa ketika Presiden Jokowi sebagai Gunernur DKI dan ditanyakan mau nyapres atau tidak? Dia menjawab apa itu 'copras-capres' dan apa itu survei-survei, tapi faktanya dia maju sebagai capres.
"Itu artinya apa? Silakan publik menyimpulkan sendiri," ujar Loyalis Amien Rais saat di Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
Menurut Mozin, sapaan akrabnya, jika meilhat konfigurasi politik di Parlemen yang sudah dikuasai oleh rezim saat ini, maka perubahan undang-undang apapun sangat mungkin terjadi, apalagi mendengar pernyataan dari Pimpinan MPR dari PKB dan Nasdem yang menyatakan bahwa jika itu kehendak rakyat yang katanya mereka wakili di Parlemen maka itu bukan hal yang ditabukan.
Baca juga: Jokowi Tidak Niat Jadi Presiden Tiga Periode, Jimly: Ini Bukan Soal Minat dan Tidak
Di sisi lain, drama Kongres Luar Biasa (KLB) yang menerpa Partai Demokrat oleh kubu Moeldoko tidak bisa dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, tapi diduga ada 'kerdipan mata' dari istana dan, Amien Rais mendesak agar nama Jokowi yang diseret-seret dalam tragedi itu segera memberhentikan Moeldoko sebagai upaya membersihkan namanya, tapi faktanya hal itu tidak kunjung dilakukan.
Baca juga: Muncul sejak Zaman SBY, Ini Agenda Tersembunyi di Balik Wacana Presiden Tiga Periode
"Terlihat dengan mata telanjang bahwa kuatnya oligarchi partai dengan para taipan yang menguasai hampir seluruh lembaga negara yang disinyalir sudah dalam taraf akut," ujarnya.
Selain itu, Mozin juga mensinyalir ada upaya dari rezim ini untuk menarik TNI dan Polri dalam pusaran kekuasaan yang digunakan sebagai pemukul kepada suara-suara yang kritis terhadap rezim yang berkuasa saat ini.
"Undang-Undang ITE menjadi undang-undang karet yang berpotensi membungkam siapa saja yang menyuarakan kebenaran yang tidak disukai oleh sang penguasa dengan pengusaha sebagai saudara kembarnya," tandasnya.
Dia juga melihat, masih banyak lagi indikator atau parameter yang digunakan oleh Amien Rais untuk menyuarakan dugaan kuat adanya skenario presiden tiga periode.
Termasuk, keberadaan media sosial yang diramaikan dengan jutaan kekhawatiran akan kembalinya rezim otoritarian yang dikoreksi oleh Amien Rais dengan gerakan reformasi tahun 1998 yang menghentikan Soeharto.
"Maka saya mengharapkan berhentilah rezim ini menciptakan kegaduhan di negeri ini dengan keserakahan-keserakahan karena sungguh Allah membenci orang-orang yang serakah," ungkap Mozin.
Baca juga: Presiden 3 Periode, Politikus Demokrat: Berhenti Sosialisasi Ide Buruk Ini
"Maka saya menegaskan kembali bahwa apa yang disampaikan oleh Amien Rais adalah tepat, mengapa?" kata Agung Mozin kepada wartawan, Rabu (17/3/2021).
Agung menuturkan, masih melekat diingatan publik bahwa ketika Presiden Jokowi sebagai Gunernur DKI dan ditanyakan mau nyapres atau tidak? Dia menjawab apa itu 'copras-capres' dan apa itu survei-survei, tapi faktanya dia maju sebagai capres.
"Itu artinya apa? Silakan publik menyimpulkan sendiri," ujar Loyalis Amien Rais saat di Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
Menurut Mozin, sapaan akrabnya, jika meilhat konfigurasi politik di Parlemen yang sudah dikuasai oleh rezim saat ini, maka perubahan undang-undang apapun sangat mungkin terjadi, apalagi mendengar pernyataan dari Pimpinan MPR dari PKB dan Nasdem yang menyatakan bahwa jika itu kehendak rakyat yang katanya mereka wakili di Parlemen maka itu bukan hal yang ditabukan.
Baca juga: Jokowi Tidak Niat Jadi Presiden Tiga Periode, Jimly: Ini Bukan Soal Minat dan Tidak
Di sisi lain, drama Kongres Luar Biasa (KLB) yang menerpa Partai Demokrat oleh kubu Moeldoko tidak bisa dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, tapi diduga ada 'kerdipan mata' dari istana dan, Amien Rais mendesak agar nama Jokowi yang diseret-seret dalam tragedi itu segera memberhentikan Moeldoko sebagai upaya membersihkan namanya, tapi faktanya hal itu tidak kunjung dilakukan.
Baca juga: Muncul sejak Zaman SBY, Ini Agenda Tersembunyi di Balik Wacana Presiden Tiga Periode
"Terlihat dengan mata telanjang bahwa kuatnya oligarchi partai dengan para taipan yang menguasai hampir seluruh lembaga negara yang disinyalir sudah dalam taraf akut," ujarnya.
Selain itu, Mozin juga mensinyalir ada upaya dari rezim ini untuk menarik TNI dan Polri dalam pusaran kekuasaan yang digunakan sebagai pemukul kepada suara-suara yang kritis terhadap rezim yang berkuasa saat ini.
"Undang-Undang ITE menjadi undang-undang karet yang berpotensi membungkam siapa saja yang menyuarakan kebenaran yang tidak disukai oleh sang penguasa dengan pengusaha sebagai saudara kembarnya," tandasnya.
Dia juga melihat, masih banyak lagi indikator atau parameter yang digunakan oleh Amien Rais untuk menyuarakan dugaan kuat adanya skenario presiden tiga periode.
Termasuk, keberadaan media sosial yang diramaikan dengan jutaan kekhawatiran akan kembalinya rezim otoritarian yang dikoreksi oleh Amien Rais dengan gerakan reformasi tahun 1998 yang menghentikan Soeharto.
"Maka saya mengharapkan berhentilah rezim ini menciptakan kegaduhan di negeri ini dengan keserakahan-keserakahan karena sungguh Allah membenci orang-orang yang serakah," ungkap Mozin.
(maf)
Lihat Juga :