Isra Mikraj, Nasaruddin Umar Jabarkan Hikmah Perjalanan Nabi Muhammad
Kamis, 11 Maret 2021 - 15:34 WIB
loading...
Hari ini, umat muslim memperingati Isra Mikraj 27 Rajab 1442 H, Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar pun memberikan hikmah di balik Isra Mikraj. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Hari ini, umat muslim memperingati Isra Mikraj 27 Rajab 1442 H atau bertepatan dengan tanggal 11 Maret 2021. Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar pun memberikan hikmah di balik Isra Mikraj.
"Alhamdulillah pada bulan yang berbahagia ini, hari ini bertepatan pada naiknya Rasulullah ke Sidratul Muntaha yang kemudian membawa oleh-oleh yang sangat penting bagi kita yaitu salat," kata Nasaruddin secara virtual, Kamis (11/2/2021).
Baca juga: Isra Miraj, Momentum Ikhtiar Bersama Pulihkan Ekonomi RI
Nasaruddin mengatakan Isra Mikraj, Maha Suci Allah yang memperjalankan hambanya. "Jadi kalau Allah mengatakan Asra memperjalankan perlu kita perjalankan secara rasio, jaket apa yang diperkenankan Nabi untuk tahan dingin di ketinggian itu. Otomatis all in, karena Allah yang mengundang, termasuk pengamanannya. Dalam waktu singkat, perlu kita pertanyakan juga kendaraan apa yang digunakannya sebab Allah yang mengundang," ucapnya.
Isra Mikraj yang memperjalankan Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha dalam konteks ini, kata Nasaruddin adalah bebas hukum dimensi.
Baca juga: Fakhitah binti Abi Thalib, Saksi Sejarah Perjalanan Isra Mi'raj Nabi SAW
"Nah, Allah wilayahnya spiritual, bebas hukum dimensi. Subhaanal-ladzii asra bi’abdihi. Kenapa Allah tidak mengatakan subhaanal-ladzii asra bi’muhammadin, ya? Maha suci Allah yang memperjalankan Nabi Muhammad. Tapi asra bi’abdihi, isyaratnya yang Isra Mi’raj itu bukan Nabi Muhammad, tapi semua yang Hamba, yang sajid atau sujud itu, itu otomatis sebetulnya Mi’raj," tuturnya.
"Karena sebetulnya Rasulullah mengatakan salat itu Mikraj nya orang-orang yang beriman. Jadi kita pun bisa Mi’raj, karena Allah mengatakan subhaanal-ladzii asra bi’muhammadin," tambah Nasaruddin.
Nasaruddin pun menegaskan, Mikraj dalam konteks ini adalah hamba yang dekat dengan Allah. "Tapi apakah semua hamba itu naik keatas? Tidak. Karena ada huruf ba’ kalau di dalam bahasa arab itu artinya kedekatan, lengket ya, nempel ya, jadi yang Mikraj itu adalah hamba yang lengket dengan Allah, kira-kira sepeti itu. Jadi kalau orang berjarak dengan Tuhannya, tentu tidak bisa Mikraj," ungkap Nasaruddin.
Nasaruddin juga menjelaskan, sebetulnya hamba Allah bisa mendapatkan Mi’raj kapanpun waktunya. "Subhaanal-ladzii asra bi’abdihi lailaa, maha suci Allah yang memperjalankan hambanya keatas lailaa, lailaa ini dua macam pengertiannya bisa berarti fakta bisa berarti simbolik. Lalilaa dalam pengertian fakta, yaitu malam hari. Tandanya adalah gelap," jelasnya.
"Tapi lailaa dalam syair bahasa arab itu juga berarti keheningan, kepasrahan, kesyahduan, kerinduan, kekhusyu’an, kenyamanan, keakraban, itu al lail. Jadi sekalipun di siang bolong kalau kita mampu menghadirkan jiwa kita penuh dengan ketenangan, kesyahduan, kepasrahan, kerinduan, kehangatan, maka itu lailiah juga," tutup Nasaruddin.
"Alhamdulillah pada bulan yang berbahagia ini, hari ini bertepatan pada naiknya Rasulullah ke Sidratul Muntaha yang kemudian membawa oleh-oleh yang sangat penting bagi kita yaitu salat," kata Nasaruddin secara virtual, Kamis (11/2/2021).
Baca juga: Isra Miraj, Momentum Ikhtiar Bersama Pulihkan Ekonomi RI
Nasaruddin mengatakan Isra Mikraj, Maha Suci Allah yang memperjalankan hambanya. "Jadi kalau Allah mengatakan Asra memperjalankan perlu kita perjalankan secara rasio, jaket apa yang diperkenankan Nabi untuk tahan dingin di ketinggian itu. Otomatis all in, karena Allah yang mengundang, termasuk pengamanannya. Dalam waktu singkat, perlu kita pertanyakan juga kendaraan apa yang digunakannya sebab Allah yang mengundang," ucapnya.
Isra Mikraj yang memperjalankan Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha dalam konteks ini, kata Nasaruddin adalah bebas hukum dimensi.
Baca juga: Fakhitah binti Abi Thalib, Saksi Sejarah Perjalanan Isra Mi'raj Nabi SAW
"Nah, Allah wilayahnya spiritual, bebas hukum dimensi. Subhaanal-ladzii asra bi’abdihi. Kenapa Allah tidak mengatakan subhaanal-ladzii asra bi’muhammadin, ya? Maha suci Allah yang memperjalankan Nabi Muhammad. Tapi asra bi’abdihi, isyaratnya yang Isra Mi’raj itu bukan Nabi Muhammad, tapi semua yang Hamba, yang sajid atau sujud itu, itu otomatis sebetulnya Mi’raj," tuturnya.
"Karena sebetulnya Rasulullah mengatakan salat itu Mikraj nya orang-orang yang beriman. Jadi kita pun bisa Mi’raj, karena Allah mengatakan subhaanal-ladzii asra bi’muhammadin," tambah Nasaruddin.
Nasaruddin pun menegaskan, Mikraj dalam konteks ini adalah hamba yang dekat dengan Allah. "Tapi apakah semua hamba itu naik keatas? Tidak. Karena ada huruf ba’ kalau di dalam bahasa arab itu artinya kedekatan, lengket ya, nempel ya, jadi yang Mikraj itu adalah hamba yang lengket dengan Allah, kira-kira sepeti itu. Jadi kalau orang berjarak dengan Tuhannya, tentu tidak bisa Mikraj," ungkap Nasaruddin.
Nasaruddin juga menjelaskan, sebetulnya hamba Allah bisa mendapatkan Mi’raj kapanpun waktunya. "Subhaanal-ladzii asra bi’abdihi lailaa, maha suci Allah yang memperjalankan hambanya keatas lailaa, lailaa ini dua macam pengertiannya bisa berarti fakta bisa berarti simbolik. Lalilaa dalam pengertian fakta, yaitu malam hari. Tandanya adalah gelap," jelasnya.
"Tapi lailaa dalam syair bahasa arab itu juga berarti keheningan, kepasrahan, kesyahduan, kerinduan, kekhusyu’an, kenyamanan, keakraban, itu al lail. Jadi sekalipun di siang bolong kalau kita mampu menghadirkan jiwa kita penuh dengan ketenangan, kesyahduan, kepasrahan, kerinduan, kehangatan, maka itu lailiah juga," tutup Nasaruddin.
(maf)
Lihat Juga :