Menimbang Work From Home dan Keniscayaan Hybrid Working
Rabu, 10 Maret 2021 - 05:09 WIB
loading...
A
A
A
Secara umum, sebenarnya prinsip bekerja dari mana saja mengandaikan patokan umum yang diterima dalam model kerja di seluruh dunia, yakni 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Sistem WFH secara umum memiliki kelebihan antara lain: penciptaan kemandirian dan keleluasaan menentukan jadwal kerja, berkurangnya waktu perjalanan ke kantor dan biaya-biaya yang ditimbulkannya, meningkatnya produktivitas pekerja bilamana diukur dari jumlah jam kerja per minggu yang dapat dicapai oleh setiap pekerja. WFH juga dinilai mengurangi tekanan office politics antarpegawai, menekan timbulnya kasak-kusuk antarpegawai baik secara vertikal maupun horizontal.
Namun, WFH juga memberikan dampak negatif, mulai berkurangnya ikatan dan komitmen emosional antarpegawai akibat minimnya interaksi fisik, menurunnya kualitas dan produktivitas pegawai akibat keterbatasan sarana dan fasilitas kerja di rumah dibandingkan dengan fasilitas kantor, dan yang paling sering dikeluhkan sebagaimana disampaikan di bagian awal tulisan ini: kelelahan (fatique) akibat terlalu lama berada di depan laptop.
Pandemi sepertinya sudah memasuki ujung akhir. Vaksinasi sudah tiba. Ruang-ruang publik tak lagi lengang. Warga sudah terbiasa beraktivitas dan berkumpul, dengan kebiasaan dan kesadaran baru tentang protokol kesehatan. Pertanyaannya, apakah suasana kerja akan kembali normal, di mana setiap pagi orang akan berbondong-bondong menuju tempat kerja dan sore hari juga sama untuk kembali pulang ke rumah masing-masing?
Saya memperkirakan bahwa suasana itu akan tetap ada, tetapi bekerja secara hybrid akan menjadi pilihan yang lebih rasional, baik dari sisi pekerja/pegawai maupun pemberi kerja. Kerja kombinasi –di kantor dan di rumah– akan menjadi keniscayaan baru dalam dunia kerja kita.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menyiapkan dukungan regulasi yang memberikan kepastian bagi para pemberi kerja ataupun pekerja itu sendiri. Regulasi tersebut harus mengakomodasi seluruh proses bisnis baru berbasis kondisi hari ini, sehingga mengurangi perselisihan antara organisasi dengan para pekerjanya, dan mendorong produktivitas mereka ke level yang lebih tinggi.
Namun, WFH juga memberikan dampak negatif, mulai berkurangnya ikatan dan komitmen emosional antarpegawai akibat minimnya interaksi fisik, menurunnya kualitas dan produktivitas pegawai akibat keterbatasan sarana dan fasilitas kerja di rumah dibandingkan dengan fasilitas kantor, dan yang paling sering dikeluhkan sebagaimana disampaikan di bagian awal tulisan ini: kelelahan (fatique) akibat terlalu lama berada di depan laptop.
Pandemi sepertinya sudah memasuki ujung akhir. Vaksinasi sudah tiba. Ruang-ruang publik tak lagi lengang. Warga sudah terbiasa beraktivitas dan berkumpul, dengan kebiasaan dan kesadaran baru tentang protokol kesehatan. Pertanyaannya, apakah suasana kerja akan kembali normal, di mana setiap pagi orang akan berbondong-bondong menuju tempat kerja dan sore hari juga sama untuk kembali pulang ke rumah masing-masing?
Saya memperkirakan bahwa suasana itu akan tetap ada, tetapi bekerja secara hybrid akan menjadi pilihan yang lebih rasional, baik dari sisi pekerja/pegawai maupun pemberi kerja. Kerja kombinasi –di kantor dan di rumah– akan menjadi keniscayaan baru dalam dunia kerja kita.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menyiapkan dukungan regulasi yang memberikan kepastian bagi para pemberi kerja ataupun pekerja itu sendiri. Regulasi tersebut harus mengakomodasi seluruh proses bisnis baru berbasis kondisi hari ini, sehingga mengurangi perselisihan antara organisasi dengan para pekerjanya, dan mendorong produktivitas mereka ke level yang lebih tinggi.
(bmm)
Lihat Juga :