Rayakan Imlek, NU Antisipasi Bangkitnya Politik Kebencian dan Diskriminasi Etnis
Senin, 15 Februari 2021 - 08:30 WIB
loading...
Ketua PBNU KH. Robikin Emhas mengikuti diskusi daring NU & Tionghoa: Merayakan Imlek ala Santri. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Di tengah perayaan Imlek, para santri Nahdlatul Ulama (NU) menyelenggarakan diskusi untuk mengkaji bangkitnya politik etnis dan kebencian, serta bagaimana mengantisipasinya. Nahdlatul Ulama berkomitmen untuk menjaga harmoni di Indonesia.
Pandangan ini menjadi inti dari diskusi daring "NU & Tionghoa: Merayakan Imlek ala Santri" pada Minggu (14/02/2021) malam tadi. Agenda ini diselenggarakan kolaborasi antata Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom (PCINU UK), Aseng.id, dan 164 Channel/Media PBNU serta Penerbit Buku Kompas dan NUPro. Baca juga: Peran Besar Gus Dur dan Perayaan Imlek di Indonesia
Diskusi daring ini dipandu host sekaligus Sekretaris PCINU UK Munawir Aziz dan moderator Novi Basuki yang merupakan mahasiswa Doktoral Sun Yat Sen University China. Hadir dalam agenda ini Ketua PBNU KH. Robikin Emhas dan beberapa narasumber yakni, Ketua Umum PP Pagar Nusa Nahdlatul Ulama Gus Nabil Haroen, Wasekjen PERPIT/Waketum PSMTI Richard Tan dan dosen senior SOAS University of London Soe Tjen Marching. Diskusi ini juga sekaligus soft launching buku "Bapak Tionghoa Nusantara: Gus Dur, Politik Minoritas dan Strategi Kebusayaan" karya Munawir Aziz dan "Islam di China: Dulu dan Kini" karya Novi Basuki. Baca juga: Imlek 2021, Ketua DPR: Keberagaman adalah Taman Sarinya Indonesia
KH. M. Robikin Emhas menyampaikan Nahdlatul Ulama berkomitmen untuk terus menjaga keharmonisan di Indonesia, seraya melawan diskriminasi etnis. "Islam hadir tidak hanya diperuntukkan sebagai jalan kebahagiaan dunia akhirat serta perilaku umat Islam semata, tapi Islam mengatur juga bagaimana cara bergaul dengan penganut agama lain, juga yang berbeda etnis dan agama. Kesanggupan umat Islam untuk membangun harmoni dengan pihak yang berbeda apakah mayoritas atau minoritas, itulah yang antara lain umat Islam berperilaku benar atau tidak," demikian pendapat KH. Robikin.
Pandangan ini menjadi inti dari diskusi daring "NU & Tionghoa: Merayakan Imlek ala Santri" pada Minggu (14/02/2021) malam tadi. Agenda ini diselenggarakan kolaborasi antata Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom (PCINU UK), Aseng.id, dan 164 Channel/Media PBNU serta Penerbit Buku Kompas dan NUPro. Baca juga: Peran Besar Gus Dur dan Perayaan Imlek di Indonesia
Diskusi daring ini dipandu host sekaligus Sekretaris PCINU UK Munawir Aziz dan moderator Novi Basuki yang merupakan mahasiswa Doktoral Sun Yat Sen University China. Hadir dalam agenda ini Ketua PBNU KH. Robikin Emhas dan beberapa narasumber yakni, Ketua Umum PP Pagar Nusa Nahdlatul Ulama Gus Nabil Haroen, Wasekjen PERPIT/Waketum PSMTI Richard Tan dan dosen senior SOAS University of London Soe Tjen Marching. Diskusi ini juga sekaligus soft launching buku "Bapak Tionghoa Nusantara: Gus Dur, Politik Minoritas dan Strategi Kebusayaan" karya Munawir Aziz dan "Islam di China: Dulu dan Kini" karya Novi Basuki. Baca juga: Imlek 2021, Ketua DPR: Keberagaman adalah Taman Sarinya Indonesia
KH. M. Robikin Emhas menyampaikan Nahdlatul Ulama berkomitmen untuk terus menjaga keharmonisan di Indonesia, seraya melawan diskriminasi etnis. "Islam hadir tidak hanya diperuntukkan sebagai jalan kebahagiaan dunia akhirat serta perilaku umat Islam semata, tapi Islam mengatur juga bagaimana cara bergaul dengan penganut agama lain, juga yang berbeda etnis dan agama. Kesanggupan umat Islam untuk membangun harmoni dengan pihak yang berbeda apakah mayoritas atau minoritas, itulah yang antara lain umat Islam berperilaku benar atau tidak," demikian pendapat KH. Robikin.

Lihat Juga :