Berhasil Atasi Kudeta, Demokrat Jangan Andalkan Lagi Senioritas
Minggu, 14 Februari 2021 - 15:01 WIB
loading...
A
A
A
Firman menyoroti isu senioritas dan forum pendiri yang dijadikan dalih oleh sekelompok mantan kader dan kader Demokrat untuk menggelar KLB guna mengganti Ketum yang sah saat ini yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (41) dengan Kepala KSP Moeldoko (64).
“Senioritas bukanlah jawaban yang relevan untuk menyongsong Pemilu 2024 dengan jumlah pemilih muda yang makin banyak,” tandas Firman. Ia melihat pengambilan keputusan politik berbasis data yang dilakukan Ketum AHY dan kepengurusan sekarang, lebih relevan menjawab tantangan zaman.
Ubedilah Badrun, yang menjadi salah satu motor penting penggerak mahasiswa saat Reformasi 1998 juga menandaskan pentingnya kemampuan partai politik untuk memahami aspirasi masyarakat. “Sejarah menunjukkan ketika partai politik gagal faham, aspirasi masyarakat tersumbat dan akhirnya tumpah menjadi demokrasi jalanan. Ada jarak pikiran antara polisi partai yang terlalu senior dan generasi muda yang berfikiran baru dan maju,” ujar Ubedilah yang kini mengajar Sosiologi Politik di UNJ. Baca juga: Ini Cara Moeldoko Nikmati Akhir Pekan di Pelosok Jonggol Bogor
Dalam konteks itu, ia mengingatkan regenerasi kepemimpinan partai politik menjadi kunci penting untuk bisa tetap relevan dengan perkembangan zaman. “Sayangnya, sebagian besar partai politik kita masih didominasi oleh gerontokrasi, yaitu kepemimpinan orang-orang yang secara signifikan jauh lebih tua dari populasi pemilihnya,” kata Ubedilah.
“Sejauh ini secara umum dari kepengurusan 34 provinsi dan ratusan kabupaten, Partai Demokrat cukup berhasil melakukan regenerasi,” imbuh Ubedilah.
“Senioritas bukanlah jawaban yang relevan untuk menyongsong Pemilu 2024 dengan jumlah pemilih muda yang makin banyak,” tandas Firman. Ia melihat pengambilan keputusan politik berbasis data yang dilakukan Ketum AHY dan kepengurusan sekarang, lebih relevan menjawab tantangan zaman.
Ubedilah Badrun, yang menjadi salah satu motor penting penggerak mahasiswa saat Reformasi 1998 juga menandaskan pentingnya kemampuan partai politik untuk memahami aspirasi masyarakat. “Sejarah menunjukkan ketika partai politik gagal faham, aspirasi masyarakat tersumbat dan akhirnya tumpah menjadi demokrasi jalanan. Ada jarak pikiran antara polisi partai yang terlalu senior dan generasi muda yang berfikiran baru dan maju,” ujar Ubedilah yang kini mengajar Sosiologi Politik di UNJ. Baca juga: Ini Cara Moeldoko Nikmati Akhir Pekan di Pelosok Jonggol Bogor
Dalam konteks itu, ia mengingatkan regenerasi kepemimpinan partai politik menjadi kunci penting untuk bisa tetap relevan dengan perkembangan zaman. “Sayangnya, sebagian besar partai politik kita masih didominasi oleh gerontokrasi, yaitu kepemimpinan orang-orang yang secara signifikan jauh lebih tua dari populasi pemilihnya,” kata Ubedilah.
“Sejauh ini secara umum dari kepengurusan 34 provinsi dan ratusan kabupaten, Partai Demokrat cukup berhasil melakukan regenerasi,” imbuh Ubedilah.
Lihat Juga :