Demokrasi Masih Gamang, Parpol Jangan Diam Saja
Jum'at, 12 Februari 2021 - 16:01 WIB
loading...
Bangsa Indonesia kerap menggaungkan penegakan demokrasi dalam kehidupan sistem politiknya. Namun pada pelaksanaannya justru kontradiksi dengan cita-cita yang diinginkan tersebut. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Bangsa Indonesia kerap menggaungkan penegakan demokrasi dalam kehidupan sistem politiknya. Namun pada pelaksanaannya justru kontradiksi dengan cita-cita yang diinginkan tersebut.
Demikian dikemukakan Direktur Eksekutif Moya Institut, Hery Sucipto saat mengantarkan arah diskusi webinar nasional bertema Partai Politik dan Tantangan Demokrasi Terkini, Kamis (11/2/2021). Baca juga: Isu Kudeta Demokrat, Rumah Moeldoko Masih Dikirimi Karangan Bunga
"Iklim demokrasi kita (di Indonesia) nyatanya masih tampak buruk, seperti karena penerapan UU ITE. Belum lagi masalah adanya dinasti politik, perdebatan revisi UU Pemilu, tingginya korupsi," kata Hery.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah menuturkan Indonesia dalam pelaksanaan demokrasi dan politiknya masih kental rasa kegamangannya. Akibatnya juga menimbulkan kebingungan dalam masyarakat.
"Indonesia ini masih bangsa yang mengedepankan simbolik saja. Tidak dapat membedakan mana yang citra (pencitraan) dan riil kerja. Katanya memerlukan kritik tapi orang yang mengkritiknya ditangkap," ucap Fahri.
Demikian dikemukakan Direktur Eksekutif Moya Institut, Hery Sucipto saat mengantarkan arah diskusi webinar nasional bertema Partai Politik dan Tantangan Demokrasi Terkini, Kamis (11/2/2021). Baca juga: Isu Kudeta Demokrat, Rumah Moeldoko Masih Dikirimi Karangan Bunga
"Iklim demokrasi kita (di Indonesia) nyatanya masih tampak buruk, seperti karena penerapan UU ITE. Belum lagi masalah adanya dinasti politik, perdebatan revisi UU Pemilu, tingginya korupsi," kata Hery.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah menuturkan Indonesia dalam pelaksanaan demokrasi dan politiknya masih kental rasa kegamangannya. Akibatnya juga menimbulkan kebingungan dalam masyarakat.
"Indonesia ini masih bangsa yang mengedepankan simbolik saja. Tidak dapat membedakan mana yang citra (pencitraan) dan riil kerja. Katanya memerlukan kritik tapi orang yang mengkritiknya ditangkap," ucap Fahri.
Lihat Juga :