Lansia Makin Merana
Kamis, 11 Februari 2021 - 05:50 WIB
loading...
A
A
A
Menyikapi Gangguan Kesehatan Jiwa Lansia
Upaya mengelola kesehatan jiwa lansia di masa pandemi, menurut dr Kuntjoro, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Di antaranya, dengan menyampaikan informasi yang benar terkait Covid-19.
Dia mengakui, memang benar virus asal China itu berbahaya. Namun, dengan kepatuhan pada protokol kesehatan, risiko terinfeksi dapat ditekan. Dr Kuntjoro juga menyarankan agar lansia membatasi penggunaan media sosial mengingat mereka bisa mendapatkan informasi yang salah atau hoaks, “Fungsi keluarga adalah menyaring informasi ini agar lansia tidak merasa cemas,” saran dokter yang praktik di RSCM dan di RS Hermina Jatinegara ini.
Kedua, terkait lansia yang harus kontrol ke rumah sakit sebulan sekali, misalnya, dr Kuntjoro mengimbau agar mematuhi protokol kesehatan. Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia juga sudah meminta kepada pihak BPJS memberikan kemudahan bagi lansia dalam mendapatkan obat rutin untuk tiga bulan ke depan atau boleh diambil oleh pihak keluarga saja. “Di RSCM sendiri prosedur ini sudah berjalan dua bulan lalu,” kata dr Kuntjoro.
Baca juga: Orang dengan Komorbid yang Terkontrol Boleh Divaksinasi Covid19
Untuk pemeriksaan tekanan darah atau gula darah bisa dilakukan secara mandiri. Tapi, untuk pemeriksaan HbA1C (tes darah untuk mendiagnosis diabetes melitus tipe serta mengevaluasi efektivitas terapi diabetes) harus dilakukan tiga bulan sekali di rumah sakit. Alternatif lain adalah memanfaatkan layanan telemedicine (konsultasi via online) yang sudah banyak ditawarkan rumah sakit swasta sejak pandemi.
“Kadang lansia hanya butuh bicara dengan dokternya. Kalau sudah ngobrol, ini cukup untuk menenangkan mereka. Kalau hanya ambil obat saja, mereka belum puas,” katanya.
Guna mengurangi kekhawatiran terhadap penularan Covid-19, sebaiknya keluarga yang tinggal bersama lansia benar-benar mematuhi protokol kesehatan sehingga dapat menekan rasa cemas akan tertular pada lansia. Jika ingin berkunjung ke rumah nenek atau kakek di masa pandemi ini, protokol kesehatan mutlak dijalankan.
“Manusia makhluk sosial, bertemu dengan sanak keluarga pasti sangat penting bagi para lansia terutama di masa pandemi,” ujar dr Kuntjoro. Mengingat lansia butuh untuk ditemani dan dihibur sehingga mereka merasa bahagia dan berharga dan jauh dari gangguan kesehatan mental.
Lansia dan Covid-19
Perlu diketahui, lansia yang terkonfirmasi positif Covid-19 tidak memiliki gejala yang khas. Gejala seperti batuk, sesak napas, atau hilangnya indera penciuman dan perasa bisa tidak muncul pada lansia maupun komorbid.
“Lansia dan komorbid perlu perhatian khusus karena gejalanya yang khas seperti nafsu makan hilang tiba-tiba, terjadi perubahan perilaku yang tidak biasa, hingga hilangnya kesadaran,” kata Dr dr Czeresna Heriawan Soejono, Sp.PD K.Ger. Penyakit penyerta yang dialami juga semakin memperburuk keadaan lansia.
Upaya mengelola kesehatan jiwa lansia di masa pandemi, menurut dr Kuntjoro, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Di antaranya, dengan menyampaikan informasi yang benar terkait Covid-19.
Dia mengakui, memang benar virus asal China itu berbahaya. Namun, dengan kepatuhan pada protokol kesehatan, risiko terinfeksi dapat ditekan. Dr Kuntjoro juga menyarankan agar lansia membatasi penggunaan media sosial mengingat mereka bisa mendapatkan informasi yang salah atau hoaks, “Fungsi keluarga adalah menyaring informasi ini agar lansia tidak merasa cemas,” saran dokter yang praktik di RSCM dan di RS Hermina Jatinegara ini.
Kedua, terkait lansia yang harus kontrol ke rumah sakit sebulan sekali, misalnya, dr Kuntjoro mengimbau agar mematuhi protokol kesehatan. Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia juga sudah meminta kepada pihak BPJS memberikan kemudahan bagi lansia dalam mendapatkan obat rutin untuk tiga bulan ke depan atau boleh diambil oleh pihak keluarga saja. “Di RSCM sendiri prosedur ini sudah berjalan dua bulan lalu,” kata dr Kuntjoro.
Baca juga: Orang dengan Komorbid yang Terkontrol Boleh Divaksinasi Covid19
Untuk pemeriksaan tekanan darah atau gula darah bisa dilakukan secara mandiri. Tapi, untuk pemeriksaan HbA1C (tes darah untuk mendiagnosis diabetes melitus tipe serta mengevaluasi efektivitas terapi diabetes) harus dilakukan tiga bulan sekali di rumah sakit. Alternatif lain adalah memanfaatkan layanan telemedicine (konsultasi via online) yang sudah banyak ditawarkan rumah sakit swasta sejak pandemi.
“Kadang lansia hanya butuh bicara dengan dokternya. Kalau sudah ngobrol, ini cukup untuk menenangkan mereka. Kalau hanya ambil obat saja, mereka belum puas,” katanya.
Guna mengurangi kekhawatiran terhadap penularan Covid-19, sebaiknya keluarga yang tinggal bersama lansia benar-benar mematuhi protokol kesehatan sehingga dapat menekan rasa cemas akan tertular pada lansia. Jika ingin berkunjung ke rumah nenek atau kakek di masa pandemi ini, protokol kesehatan mutlak dijalankan.
“Manusia makhluk sosial, bertemu dengan sanak keluarga pasti sangat penting bagi para lansia terutama di masa pandemi,” ujar dr Kuntjoro. Mengingat lansia butuh untuk ditemani dan dihibur sehingga mereka merasa bahagia dan berharga dan jauh dari gangguan kesehatan mental.
Lansia dan Covid-19
Perlu diketahui, lansia yang terkonfirmasi positif Covid-19 tidak memiliki gejala yang khas. Gejala seperti batuk, sesak napas, atau hilangnya indera penciuman dan perasa bisa tidak muncul pada lansia maupun komorbid.
“Lansia dan komorbid perlu perhatian khusus karena gejalanya yang khas seperti nafsu makan hilang tiba-tiba, terjadi perubahan perilaku yang tidak biasa, hingga hilangnya kesadaran,” kata Dr dr Czeresna Heriawan Soejono, Sp.PD K.Ger. Penyakit penyerta yang dialami juga semakin memperburuk keadaan lansia.
Lihat Juga :