Perilaku dan Pengelolaan Manusia sebagai Konsumen di Era Pandemi
Rabu, 10 Februari 2021 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Animal spirits tentu juga dapat diletakkan dalam kerangka aktivitas manusia sebagai makhluk ekonomi. Apa ciri-ciri yang paling dominan di dalam konteks ekonomi? Yang paling menonjol adalah manusia sebagai manusia pengonsumsi atau konsumen.
Manusia sebagai Konsumen
Satu Kahkonen, Country Director World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste, dalam seminar tentang outlook ekonomi Indonesia 2021, Senin, 8 Februari lalu, menggambarkan bahwa tidak ada satu pun negara yang memprediksi bahwa dunia mengalami pandemi yang sedemikian luas dan berlangsung dalam skala yang panjang. Ia menggambarkan bahwa pada awal abad ke-20 dunia juga mengalami pandemi influenza yang disebut Spain Influenza, tetapi dampak kesehatan dan ekonominya sangat jauh berbeda karena infrastrukturnya sudah sangat jauh berbeda. Yang menarik dari pandangan Kahkonen, keberhasilan atau kegagalan upaya pemulihan ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi ini ditentukan oleh kemampuan untuk memulihkan aktivitas konsumsi, baik pada level individu, bangsa maupun antarbangsa.
Pertanyaannya, bagaimana kita melihat masyarakat Indonesia hari ini dari sudut pandang konsumen di tengah pandemi seperti sekarang? Banyak pengamat mengatakan bahwa kerusakan ekonomi yang diakibatkan pandemi memerlukan waktu 2–5 tahun untuk pulih seperti sedia kala.
Dengan rentang waktu yang sedemikian lama, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hari-hari dalam perjalanan kita menuju normal?
Manusia Indonesia jika dilihat dari sudut pandang konsumsi memiliki ukuran yang luar biasa mengingat jumlahnya yang sedemikian besar, yakni sekitar 270 juta jiwa, dan dalam dua atau tiga tahun mendatang akan segera menembus angka 300 juta orang. Bagaimana negara harus mengelola konsumen yang sedemikian banyaknya dan bagaimana konsumen seharusnya memosisikan diri dalam transisi menuju kondisi normal pascapandemi?
Manusia sebagai Konsumen
Satu Kahkonen, Country Director World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste, dalam seminar tentang outlook ekonomi Indonesia 2021, Senin, 8 Februari lalu, menggambarkan bahwa tidak ada satu pun negara yang memprediksi bahwa dunia mengalami pandemi yang sedemikian luas dan berlangsung dalam skala yang panjang. Ia menggambarkan bahwa pada awal abad ke-20 dunia juga mengalami pandemi influenza yang disebut Spain Influenza, tetapi dampak kesehatan dan ekonominya sangat jauh berbeda karena infrastrukturnya sudah sangat jauh berbeda. Yang menarik dari pandangan Kahkonen, keberhasilan atau kegagalan upaya pemulihan ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi ini ditentukan oleh kemampuan untuk memulihkan aktivitas konsumsi, baik pada level individu, bangsa maupun antarbangsa.
Pertanyaannya, bagaimana kita melihat masyarakat Indonesia hari ini dari sudut pandang konsumen di tengah pandemi seperti sekarang? Banyak pengamat mengatakan bahwa kerusakan ekonomi yang diakibatkan pandemi memerlukan waktu 2–5 tahun untuk pulih seperti sedia kala.
Dengan rentang waktu yang sedemikian lama, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hari-hari dalam perjalanan kita menuju normal?
Manusia Indonesia jika dilihat dari sudut pandang konsumsi memiliki ukuran yang luar biasa mengingat jumlahnya yang sedemikian besar, yakni sekitar 270 juta jiwa, dan dalam dua atau tiga tahun mendatang akan segera menembus angka 300 juta orang. Bagaimana negara harus mengelola konsumen yang sedemikian banyaknya dan bagaimana konsumen seharusnya memosisikan diri dalam transisi menuju kondisi normal pascapandemi?
Lihat Juga :