Demokrat Ungkap Influencer dan Buzzer Istana Terlibat Isu Kudeta AHY, Ada Apa?
Senin, 08 Februari 2021 - 04:39 WIB
loading...
A
A
A
“Upaya pengambilalihan paksa ini melejitkan popularitas dan favorabilitas Partai Demokrat maupun Ketum AHY, bahkan dibanding partai dan tokoh yang lain,” ungkapnya.
Dengan demikian, Tomi menyimpulkan bahwa klaim Moeldoko bahwa pengambilalihan paksa Demokrat ini urusan pribadi bukan sebagai KSP dengan sendirinya terbantahkan dengan hadirnya akun-akun pemerintah dengan konten yang masif melakukan kontra narasi.
“Akun Pak Moeldoko praktis tak terlihat, seharusnya kalau urusan pribadi akunnya yang terlihat tapi yang dominan akun-akun influencer dan buzzer yang selama ini dekat Istana,” imbuh Tomi.
Adapun kontra narasi dengan doxing, hoaks dan disinformasi, dia menilai bahwa hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak punya argumen yang substantif. Publik pun tidak bersimpati dengan argument persoalan internal yang dieksternalisasi maupun argument ‘ngopi-ngopi’. Baca juga: Survei Index Politica: Prabowo Dibuntuti Anies, AHY Salip Ganjar
“Selain popularitas dan favorabilitas yang melejit, manuver Pak Moeldoko tidak mengundang simpati publik. Terlihat besarnya sentimen yang ada, padahal pemerintah sedang membutuhkan dukungan publik. Kita mendapat kabar Presiden Jokowi menegur Pak Moeldoko, kemudian menjadi beban dan bukan menjadi keuntungan bagi pemerintah,” pungkasnya.
Dengan demikian, Tomi menyimpulkan bahwa klaim Moeldoko bahwa pengambilalihan paksa Demokrat ini urusan pribadi bukan sebagai KSP dengan sendirinya terbantahkan dengan hadirnya akun-akun pemerintah dengan konten yang masif melakukan kontra narasi.
“Akun Pak Moeldoko praktis tak terlihat, seharusnya kalau urusan pribadi akunnya yang terlihat tapi yang dominan akun-akun influencer dan buzzer yang selama ini dekat Istana,” imbuh Tomi.
Adapun kontra narasi dengan doxing, hoaks dan disinformasi, dia menilai bahwa hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak punya argumen yang substantif. Publik pun tidak bersimpati dengan argument persoalan internal yang dieksternalisasi maupun argument ‘ngopi-ngopi’. Baca juga: Survei Index Politica: Prabowo Dibuntuti Anies, AHY Salip Ganjar
“Selain popularitas dan favorabilitas yang melejit, manuver Pak Moeldoko tidak mengundang simpati publik. Terlihat besarnya sentimen yang ada, padahal pemerintah sedang membutuhkan dukungan publik. Kita mendapat kabar Presiden Jokowi menegur Pak Moeldoko, kemudian menjadi beban dan bukan menjadi keuntungan bagi pemerintah,” pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :