Memanfaatkan Penduduk Produktif di Masa Pandemi
Senin, 25 Januari 2021 - 05:10 WIB
loading...
A
A
A
Faktanya, menurut BPS, pada Agustus tahun lalu penduduk yang bekerja didominasi oleh mereka yang pendidikannya SMP ke bawah dengan persentase mencapai 57,16%. Itu setara dengan 73 juta jiwa. Sementara pekerja yang pendidikannya diploma ke atas hanya 12,33% (15,83 juta) dari total penduduk yang bekerja 128,45 juta jiwa.
Adapun jumlah pengangguran per Agustus 2020 lalu tercatat sebanyak 9,77 juta orang atau naik 2,67 juta orang bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan angka pengangguran tersebut disebabkan berkurangnya lapangan kerja akibat pandemi korona (Covid-19).
Melihat data tersebut, para pemangku kepentingan sepertinya harus berpikir lebih keras karena saat ini yang dihadapi bukan semata-mata masalah pengangguran, tetapi juga pandemi korona yang belum juga hilang dari bumi ini.
Terhitung lebih dari 10 bulan sejak diumumkan kasus pertama Covid-19 pada Maret lalu, grafik pandemi di Tanah Air belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Bahkan kasus persebaran Covid justru semakin menjadi-jadi dan kian mendekat ke lingkungan kita.
Data terkini, pada Minggu (24/01), terjadi penambahan kasus positif sebanyak 11.788 orang hingga secara akumulasi menjadi 989.262 orang. Sementara jumlah orang meninggal bertambah 171 orang menjadi total sebanyak 27.835 orang.
Masih banyaknya kasus positif Covid-19 membuat pemerintah berulang kali menerapkan sejumlah kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat. Akan tetapi, seperti kita tahu, efektivitas kebijakan pembatasan tersebut sepertinya masih jauh dari harapan.
Istilah “rem” dan “gas” yang disampaikan Presiden Joko Widodo untuk menggambarkan pengendalian Covid-19 dan pemulihan ekonomi pun tampaknya hanya tinggal slogan semata. Minimnya pengawasan saat “ngerem” masyarakat agar lebih disiplin dan patuh kini mulai pudar di lapangan.
Adapun jumlah pengangguran per Agustus 2020 lalu tercatat sebanyak 9,77 juta orang atau naik 2,67 juta orang bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan angka pengangguran tersebut disebabkan berkurangnya lapangan kerja akibat pandemi korona (Covid-19).
Melihat data tersebut, para pemangku kepentingan sepertinya harus berpikir lebih keras karena saat ini yang dihadapi bukan semata-mata masalah pengangguran, tetapi juga pandemi korona yang belum juga hilang dari bumi ini.
Terhitung lebih dari 10 bulan sejak diumumkan kasus pertama Covid-19 pada Maret lalu, grafik pandemi di Tanah Air belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Bahkan kasus persebaran Covid justru semakin menjadi-jadi dan kian mendekat ke lingkungan kita.
Data terkini, pada Minggu (24/01), terjadi penambahan kasus positif sebanyak 11.788 orang hingga secara akumulasi menjadi 989.262 orang. Sementara jumlah orang meninggal bertambah 171 orang menjadi total sebanyak 27.835 orang.
Masih banyaknya kasus positif Covid-19 membuat pemerintah berulang kali menerapkan sejumlah kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat. Akan tetapi, seperti kita tahu, efektivitas kebijakan pembatasan tersebut sepertinya masih jauh dari harapan.
Istilah “rem” dan “gas” yang disampaikan Presiden Joko Widodo untuk menggambarkan pengendalian Covid-19 dan pemulihan ekonomi pun tampaknya hanya tinggal slogan semata. Minimnya pengawasan saat “ngerem” masyarakat agar lebih disiplin dan patuh kini mulai pudar di lapangan.
Lihat Juga :