PKS Calonkan Kader Sendiri di Pilpres 2024, Mungkinkah?
Minggu, 10 Januari 2021 - 14:12 WIB
loading...
A
A
A
Lalu, kenapa PKS tidak pernah jadi mengusung kadernya sendiri di pilpres? "Porsi suara PKS skala nasional belum memungkinkan, meskipun mereka menjual soliditas kader tetapi porsi pemilih PKS sudah terbaca stagnan," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah kepada SINDOnews, Jumat (8/1/2021).
Menurut Dedi, sulit ada pergerakan besar mengingat cara gerilya yang dilakukan PKS hingga kini, juga karakter kader PKS yang terbatas pada identitas gerakan politik Islam. "Tentu hitungan itu bisa saja menjadi dasar PKS untuk tetap menjadi penyokong koalisi, bukan memimpin," katanya.
Dia pun membaca pernyataan elite PKS yang mengatakan akan mengusung kader internal di Pilpres 2024 hanyalah untuk menarik perhatian publik. "Sekaligus menguji popularitas tokoh yang dimunculkan. Cara semacam ini tidak jauh berbeda dengan PKB yang rutin mempromosikan tokohnya untuk kancah pilpres, meskipun tidak benar-benar terjadi," tuturnya.
(Baca juga : Hizbullah: AS Sekarang Tuai Apa yang Dulu Mereka Tanam di Tempat Lain )
Namun, menurut dia, PKS memiliki elite yang bisa dijual pada Pilpres 2024. "Dari sisi ketokohan dan intelektual birokrat tentu saja ada. Ahmad Heryawan, Tifatul Sembiring, menjadi dua nama mungkin paling menonjol, atau Hidayat Nur Wahid," pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan, PKS adalah partai kader. "Setiap pertarungan politik itu dimaknai dua hal. Pertama, dia wajib memajukan kadernya sebagai upaya untuk menokohkan ya. Jadi, kalah menang itu bagi PKS bonus," kata Adi Prayitno secara terpisah.
Bagi PKS, lanjut Adi, memunculkan figur internal sebagai tokoh nasional adalah hal paling penting. "Jadi tidak berlebihan kalau kemudian PKS itu menyebut 2024 akan mengusung internal sendiri. Intinya, PKS ingin punya kader sendiri yang cukup diperhitungkan juga dalam pertarungan di 2024, ketimbang dukung yang lain, untung juga enggak," ujarnya.
Menurut Dedi, sulit ada pergerakan besar mengingat cara gerilya yang dilakukan PKS hingga kini, juga karakter kader PKS yang terbatas pada identitas gerakan politik Islam. "Tentu hitungan itu bisa saja menjadi dasar PKS untuk tetap menjadi penyokong koalisi, bukan memimpin," katanya.
Dia pun membaca pernyataan elite PKS yang mengatakan akan mengusung kader internal di Pilpres 2024 hanyalah untuk menarik perhatian publik. "Sekaligus menguji popularitas tokoh yang dimunculkan. Cara semacam ini tidak jauh berbeda dengan PKB yang rutin mempromosikan tokohnya untuk kancah pilpres, meskipun tidak benar-benar terjadi," tuturnya.
(Baca juga : Hizbullah: AS Sekarang Tuai Apa yang Dulu Mereka Tanam di Tempat Lain )
Namun, menurut dia, PKS memiliki elite yang bisa dijual pada Pilpres 2024. "Dari sisi ketokohan dan intelektual birokrat tentu saja ada. Ahmad Heryawan, Tifatul Sembiring, menjadi dua nama mungkin paling menonjol, atau Hidayat Nur Wahid," pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan, PKS adalah partai kader. "Setiap pertarungan politik itu dimaknai dua hal. Pertama, dia wajib memajukan kadernya sebagai upaya untuk menokohkan ya. Jadi, kalah menang itu bagi PKS bonus," kata Adi Prayitno secara terpisah.
Bagi PKS, lanjut Adi, memunculkan figur internal sebagai tokoh nasional adalah hal paling penting. "Jadi tidak berlebihan kalau kemudian PKS itu menyebut 2024 akan mengusung internal sendiri. Intinya, PKS ingin punya kader sendiri yang cukup diperhitungkan juga dalam pertarungan di 2024, ketimbang dukung yang lain, untung juga enggak," ujarnya.
Lihat Juga :