Diduetkan di 2024, Ganjar-Risma Disebut Korban Eksperimen Politik Netizen
Jum'at, 08 Januari 2021 - 08:55 WIB
loading...
Foto duet Ganjar Pranowo-Tri Rismaharini untuk Pilpres 2024 yang diunggah di instagram dinilai sebatas bentuk kegenitan warganet. Foto/instagram
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menyatakan, dalam dunia maya, kebanyakan netizen tidak terlalu memiliki beban untuk memasangkan nama-nama figur calon presiden maupun calon wakil presiden.
(Baca juga : Inilah Rahasianya Khabib Nurmagomedov Tidak Terkalahkan di UFC )
Hal ini dikatakan Karyono untuk menggambarkan aksi para pendukung Ganjar Pranowo yang menduetkan Gubernur Jawa Tengah itu dengan Mensos, Tri Rismaharini ( Risma ) di Pilpres 2024 .
(Baca: Peta Berubah, Sandi Akan Jadi Lawan Anies di Pilpres 2024?)
Menurutnya, munculnya nama Ganjar Pranowo dan Risma telah menjadi sasaran atau boleh disebut korban eksperimen politik para netizen. Padahal keduanya merupakan kader PDIP yang dalam logika politik sulit menjadi pasangan capres.
(Baca juga : Soal Like Akun Porno, Habiburokhman Duga Twitter Fadli Zon Dibajak )
"Sehingga menurut saya, cuitan para netizen ini sekadar sebuah ekspresi spontan. Realitas politiknya bisa berbeda. Tergantung dinamika politik yang berkembang," tutur Karyono saat dihubungi SINDOnews, Jumat (8/1/2021).
(Baca juga : Inilah Rahasianya Khabib Nurmagomedov Tidak Terkalahkan di UFC )
Hal ini dikatakan Karyono untuk menggambarkan aksi para pendukung Ganjar Pranowo yang menduetkan Gubernur Jawa Tengah itu dengan Mensos, Tri Rismaharini ( Risma ) di Pilpres 2024 .
(Baca: Peta Berubah, Sandi Akan Jadi Lawan Anies di Pilpres 2024?)
Menurutnya, munculnya nama Ganjar Pranowo dan Risma telah menjadi sasaran atau boleh disebut korban eksperimen politik para netizen. Padahal keduanya merupakan kader PDIP yang dalam logika politik sulit menjadi pasangan capres.
(Baca juga : Soal Like Akun Porno, Habiburokhman Duga Twitter Fadli Zon Dibajak )
"Sehingga menurut saya, cuitan para netizen ini sekadar sebuah ekspresi spontan. Realitas politiknya bisa berbeda. Tergantung dinamika politik yang berkembang," tutur Karyono saat dihubungi SINDOnews, Jumat (8/1/2021).
Lihat Juga :