DPR Minta Petugas Terapkan Prokes secara Ketat pada Malam Tahun Baru
Kamis, 31 Desember 2020 - 11:38 WIB
loading...
A
A
A
Komisi IX berharap kehadiran Budi Gunadi Sadikin sebagai nakhoda baru dapat memperbaiki manajerial Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dia tak menutup mata, jika selama ini kemenkes telah bekerja keras dalam menanggulangi pandemi Covid-19. “Maka dengan kepemimpinan baru diharapkan akan ada inovasi-inovasi dan kebijakan strategis untuk penanganan pandemi. Untuk kasus di sejumlah faskes yang mengalami overload, kami akan terus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit (RS) dan otoritas di atasnya, untuk mencari solusi dan langkah terbaik,” ungkapnya.
Sementara itu, anggota Komisi IX lainnya, Kurniasih Mufidayati mengusulkan agar tetap ada kegiatan di tengah masyarakat saat tahun baru. Hal itu dikarenakan masyarakat sudah jenuh selama sembilan bulan ini, maka membutuhkan hiburan. Dia mengatakan kegiatan yang dimaksud hanya boleh di lingkup rukun tetangga (RT) saja. “Sekupnya lebih kecil. RT-nya juga kenal, ini siapa, sakit atau tidak. Tentu saja kegiatannya dengan menerapkan prokes. Artinya hiburan masih bisa, tapi dengan cara apa? Per kelompok atau per RT, kemudian dipersilakan, misalnya pengajian atau kegiatan lain, yang penting tidak menerapkan 3M. media-media juga bisa memberikan opsi hiburan (yang menarik),” ucapnya.
Di tengah situasi yang serba sulit dalam menghadapi pandemi ini, suara-suara meminta lockdown kerap muncul. Namun, Epidemiolog Riris Andono Ahmad menyebut lockdown itu membutuhkan sejumlah syarat dan memiliki konsekuensi tinggi. Dia mencontohkan peristiwa di India yang justru meningkatkan transmisi karena masyarakat yang kehilangan pekerjaan berbondong pulang kampung.
Beda di negara-negara Eropa yang lockdown-nya berjalan efektif. Menurut dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, hal tersebut disebabkan masyarakat tetap bisa menjalankan kehidupannya dalam situasi dibatasi ketat. Maka, dia menyarankan pemerintah untuk memilih aktivitas apa, terutama yang tidak terlalu esensial, dihentikan atau dibatasi dulu.
Bisa saja menerapkan seperti awal, yakni bekerja, beribadah, dan sekolah di rumah. Juga meniadakan kerumunan. “Itu sudah menghentikan mobilitas. Kalau itu bisa efektif, 70% penduduk ada di rumah dalam jangka waktu dua mingguan karena periode infeksi Covid-19 ini sekitar seminggu-dua minggu, strategi (ini) bisa mengendalikan,” pungkasnya. Fahmi Bahtiar
Sementara itu, anggota Komisi IX lainnya, Kurniasih Mufidayati mengusulkan agar tetap ada kegiatan di tengah masyarakat saat tahun baru. Hal itu dikarenakan masyarakat sudah jenuh selama sembilan bulan ini, maka membutuhkan hiburan. Dia mengatakan kegiatan yang dimaksud hanya boleh di lingkup rukun tetangga (RT) saja. “Sekupnya lebih kecil. RT-nya juga kenal, ini siapa, sakit atau tidak. Tentu saja kegiatannya dengan menerapkan prokes. Artinya hiburan masih bisa, tapi dengan cara apa? Per kelompok atau per RT, kemudian dipersilakan, misalnya pengajian atau kegiatan lain, yang penting tidak menerapkan 3M. media-media juga bisa memberikan opsi hiburan (yang menarik),” ucapnya.
Di tengah situasi yang serba sulit dalam menghadapi pandemi ini, suara-suara meminta lockdown kerap muncul. Namun, Epidemiolog Riris Andono Ahmad menyebut lockdown itu membutuhkan sejumlah syarat dan memiliki konsekuensi tinggi. Dia mencontohkan peristiwa di India yang justru meningkatkan transmisi karena masyarakat yang kehilangan pekerjaan berbondong pulang kampung.
Beda di negara-negara Eropa yang lockdown-nya berjalan efektif. Menurut dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, hal tersebut disebabkan masyarakat tetap bisa menjalankan kehidupannya dalam situasi dibatasi ketat. Maka, dia menyarankan pemerintah untuk memilih aktivitas apa, terutama yang tidak terlalu esensial, dihentikan atau dibatasi dulu.
Bisa saja menerapkan seperti awal, yakni bekerja, beribadah, dan sekolah di rumah. Juga meniadakan kerumunan. “Itu sudah menghentikan mobilitas. Kalau itu bisa efektif, 70% penduduk ada di rumah dalam jangka waktu dua mingguan karena periode infeksi Covid-19 ini sekitar seminggu-dua minggu, strategi (ini) bisa mengendalikan,” pungkasnya. Fahmi Bahtiar
(cip)
Lihat Juga :