Keluarga Titik Awal Penentu Kualitas Bangsa

Selasa, 22 Desember 2020 - 06:50 WIB
loading...
Keluarga Titik Awal...
Talk show interaktif BKKBN dengan tema Membangun Keluarga Berkualitas di Jakarta yang disiarkan secara virtual, Senin (21/12/2020). FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Keluarga merupakan fondasi terpenting dalam pembentukan karakter manusia. Bahkan keluarga bisa menjadi titik awal penentu kualitas bangsa. Di sisi lain, membangun keluarga bukan hal mudah, tapi juga bukan sesuatu yang sulit. Memang, belum ada sekolah khusus di bidang ini, tapi keluarga sebagai unit terkecil dari suatu bangsa memiliki peran sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa.

Demikian benang merah yang mengemuka dari talk show interaktif BKKBN dengan tema "Membangun Keluarga Berkualitas" di Jakarta yang disiarkan secara virtual, Senin (21/12/2020). Hadir sebagai pembicara kunci Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhajir Effendy, dan pembicara lainnya Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, psikolog/pakar parenting Rose Mini, dan Staf Ahli Mendagri Hamdani.

Dalam talk show itu, ada dua hal penting yang ditegaskan Muhajir Effendy. "Dua hal yang harus menjadi perhatian bersama, yakni masalah kemiskinan dan kebodohan. Dua hal ini harus diperangi, terutama dalam keluarga," kata Muhajir pada acara yang dihadiri jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan BKKBN serta pihak-pihak terkait. (Baca juga: Pelayanan KB Capai 85,7%, Pemkab Luwu Terima Penghargaan BKKBN )

Muhajir mengatakan, ketika bangsa ini bicara tentang negara, persoalan keluarga tidak bisa dilepaskan. "Kita tidak bisa lepas dari keluarga. Kalau keluarga bagus, asumsinya bangsa akan bagus. Begitu pula sebaliknya," ujar Muhajir.

Untuk itu, Muhajir memandang bahwa membangun keluarga harus dimulai melalui sejumlah pendekatan. Yaitu, pendidikan bagaimana cara berkeluarga, pendidikan tentang pranikah, hingga pola asuh anak. "Harus didesain sebaik mungkin pola-pola pendidikan itu karena dijadikan dasar untuk membangun keluarga," ujar Muhajir.

Menko PMK menilai bahwa BKKBN adalah lembaga yang memiliki posisi strategis dalam membangun Indonesia dari sisi keluarga. Dia juga menilai strategis sederet inovasi program yang diluncurkan BKKBN. Termasuk peluncuran Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga).

"Saya memberi apresiasi tinggi kepada BKKBN yang telah menetapkan iBangga. Dengan begitu pembangunan manusia akan lebih terukur dari sisi pembangunan keluarga," tutur Muhajir seraya menambahkan bahwa indeks itu akan bersinergi dengan antara lain Indeks Revolusi Mental, Indeks Pendidikan, hingga Indeks Kemiskinan dalam membangun bangsa. (Baca juga: Tekan Stunting, BKKBN Dorong Kemandirian Pangan di Daerah Rentan )

Menurut Muhajir, iBangga sangat dibutuhkan saat ini dalam upaya pemerintah menekan laju angka stunting, SDM yang belum terlalu kompetitif dan belum memiliki kemampuan memadai hingga angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi. "Menurut riset, angkatan kerja Indonesia saat ini 54% adalah mantan stunting," ungkap Muhajir.

Menggaris-bawahi pernyataan Menko PMK, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan bahwa iBangga diluncurkan oleh BKKBN karena lembaga ini menilai bahwa keluarga sebagai unit analisis terkecil dalam masyarakat perlu diketahui secara mikro.

"Untuk pembangunan kita bicara secara makro sehingga tidak menyentuh hal-hal mikro keluarga. Seperti apa problem keluarga. Maka, kita tidak bisa memberi treatment yang tepat. Perlu mendiagnosis keluarga sebelum dilakukan treatment. Untuk itulah iBangga kami luncurkan," jelas Hasto.

Menurut Hasto, iBangga berbeda dengan Indek Pembangunan Manusia (IPM). Melalui iBangga, masing-masing keluarga bisa dipotret secara mikro, untuk kemudian dikelompokkan dalam indeks dengan unsur Tenteram, Mandiri, Bahagia. Ketiganya itu menjadi indeks iBangga. Dengan iBangga, potret keluarga menjadi lebih jelas. Masing-masing keluarga terdata dengan jelas dari banyak sisi. Termasuk adakah kasus KDRT, bagaimana ibadahnya, apakah sempat rekreasi.

"Tahun 2021 kita akan lakukan pendataan dengan mendatangi 77 juta keluarga. Masing-masing keluarga kita potret. Apakah ada kasus KDRT, apakah ibadah bagus, apa sempat rekreasi. Indikator yang ada untuk lihat apakah keluarga itu tenteram, mandiri, bahagia," urai Hasto dengan berharap pembangunan nasional yang dikembangkan berbasis keluarga.



Intervensi terhadap keluarga penting mengingat Indonesia tengah memasuki jendela peluang bonus demografi. "Stunting, putus sekolah, angka kematian ibu dan bayi yang tinggi, kawin muda, ciri-ciri ini tidak bisa petik bonus demografi yang akan menghasilkan bonus kesejahteraan," ujar guru iBangga, julukan untuk Kepala BKKBN ini.

Pada bagian lain penjelasannya, Hasto mengatakan bahwa tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini berbeda dengan sebelumnya. Hal ini karena BKKBN berada pada era di mana generasi muda saat ini berbeda ekosistem dengan para orang tuanya. Padahal, generasi ini cukup berpengaruh pada keberlangsungan pembangunan Indonesia di masa depan karena jumlahnya cukup banyak, mencapai 64 juta. Mereka ini generasi yang akan membentuk keluarga.

"Kita (para orang tua) agak tergagap dalam mentransformasikan nilai-nilai luhur keluarga. Untuk itu, pola pewarisan perlu dicari bentuk yang tepat. Karena saat ini belum ada bentuk yang formulasinya tepat," terang Hasto.

Tugas itu memang menjadi tanggung jawab BKKBN. "BKKBN punya pekerjaan rumah karena menjalankan 8 fungsi keluarga. Untuk itu, kami membangun kerja sama dengan perguruan tinggi dan pakar untuk mencari pola itu," sambung Hasto Wardoyo.

Selain itu, BKKBN juga telah membangun dan mengembangkan program agar lebih terhubung dengan remaja. "Strateginya kita bikin teman sebaya. Contoh dengan meluncurkan tagline 'Hidup Berencana Itu Keren'. Biar BKKBN terhubung dengan milenial," kata Hasto.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengubah Ledakan Populasi...
Mengubah Ledakan Populasi Lansia Indonesia Menjadi Kekuatan Emas: Menjemput Bonus Demografi Kedua
Sambut Hari Kartini,...
Sambut Hari Kartini, Rustini Muhaimin Serukan Penguatan Pendidikan Karakter Keluarga
Sesmendukbangga Dorong...
Sesmendukbangga Dorong Daerah Serius Memanfaatkan Bonus Demografi
GENTING Collaboration...
GENTING Collaboration Summit 2025 Teguhkan Sinergi Pentahelix untuk Arah Kebijakan 2026
Generasi Muda Dukung...
Generasi Muda Dukung Program Prioritas BKKBN
Kreator Konten Aryo...
Kreator Konten Aryo Bimo Berbagi Cerita Menyayangi Keluarga
MBG Jadi Instrumen Ganda:...
MBG Jadi Instrumen Ganda: Atasi Stunting dan Tekan Beban Ekonomi Keluarga
Didukung Keluarga Rentan,...
Didukung Keluarga Rentan, Program MBG Dinilai Ringankan Beban Ekonomi Orang Tua
Orang Tua Sering Bertengkar...
Orang Tua Sering Bertengkar di Rumah? Ini Dampaknya pada Otak Anak!
Rekomendasi
Bek Arab Saudi Abdulelah...
Bek Arab Saudi Abdulelah al-Amri Koyak Gawang Uruguay di Babak Pertama
Belgia vs Mesir Imbang...
Belgia vs Mesir Imbang 1-1 di Piala Dunia 2026, Mo Salah Moncer
FIFA Putar Balik Aturan...
FIFA Putar Balik Aturan Aneh usai Insiden Konferensi Pers Hakimi dan Vinicius di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Gelombang I Berakhir,...
Gelombang I Berakhir, 245 Kloter Jemaah Haji Telah Diberangkatkan ke Tanah Air
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Telusuri Aset Tersangka...
Telusuri Aset Tersangka Kasus Kuota Haji, KPK Periksa Pengelola Apartemen
Tahun Baru Islam, Menag:...
Tahun Baru Islam, Menag: Momentum Pentingnya Dialog dan Merangkul Perbedaan
KPU Kaji Penerapan E-Voting...
KPU Kaji Penerapan E-Voting untuk Pemilu di Luar Negeri, Ini Alasannya
Infografis
Deretan Tokoh Bangsa...
Deretan Tokoh Bangsa Lulusan Pesantren, Ada Gus Dur hingga Haedar Nashir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved