Catatan Akhir Tahun, Kosgoro 1957 Cermati Kasus Korupsi, COVID-19 hingga Papua
Senin, 21 Desember 2020 - 18:00 WIB
loading...
A
A
A
Sementara, Sekjen Kosgoro 1957, M Sabil Rachman memandang bangsa Indonesia berdiri dan dibangun di atas landasan kemajemukan suku, ras, agama dan golongan. Semua kelompok masyarakat perlu membangun kehidupan kebangsaan yang harmoni dengan cara pemahaman agama yang inklusif, mengedepankan kebersamaan, menghormati keyakinan orang lain dan bersedia menerima perbedaan.
"Kosgoro 1957 mengutuk peristiwa pembunuhan warga sipil atas dalih apapun dan oleh siapapun serta dimanapun. Dalam kaitan itulah maka Kosgoro 1957 meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dan transparan baik kasus pembunuhan di Sigi Sulawesi Tengah, maupun penembakan yang ditengarai dilakukan oleh polisi terhadap Front Pembela Islam (FPI)," ujarnya.
Bagi Kosgoro 1957 peristiwa-peristiwa tersebut di atas terjadi antara lain karena kurang kuatnya pemahaman dan praktik kehidupan intoleransi dan radikal oleh sekelompok masyarakat sebagai persoalan. Karena itu, kata Sabil, maka Kosgoro 1957 selain meminta agar pemerintah tidak kehabisan akal dan ikhtiar untuk melalui edukasi kebangsaan dan pluralisme juga sekaligus harus berani menindak tegas terhadap pihak-pihak yang menggangu semangat dan komitmen tolerasi karena akan merusak harmoni kebangsaan. (Baca juga:Kosgoro 1957 Segera Distribusikan 100 Ribu Masker ke Daerah Zona Merah COVID-19)
"Kosgoro 1957 berpendapat bahwa pendekatan kesejahteraan bagi masyarakat terutama di Papua menjadi sangat penting melalui kelanjutan dan peningkatan dana otonomi yang lebih luas jangkauannya. Kosgoro 1957 menegaskan bahwa peningkatan dana otonomi khusus tersebut harus diikuti dengan pengawasan yang ketat guna menghindari terjadinya penyalagunaan dan berharap agar pelaku penyalahgunaan dana otonomi khusus tersebut harus ditindak tegas oleh aparat penegak hukum termasuk KPK dengan hukuman yang seberat-beratnya," pungkasnya.
"Kosgoro 1957 mengutuk peristiwa pembunuhan warga sipil atas dalih apapun dan oleh siapapun serta dimanapun. Dalam kaitan itulah maka Kosgoro 1957 meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dan transparan baik kasus pembunuhan di Sigi Sulawesi Tengah, maupun penembakan yang ditengarai dilakukan oleh polisi terhadap Front Pembela Islam (FPI)," ujarnya.
Bagi Kosgoro 1957 peristiwa-peristiwa tersebut di atas terjadi antara lain karena kurang kuatnya pemahaman dan praktik kehidupan intoleransi dan radikal oleh sekelompok masyarakat sebagai persoalan. Karena itu, kata Sabil, maka Kosgoro 1957 selain meminta agar pemerintah tidak kehabisan akal dan ikhtiar untuk melalui edukasi kebangsaan dan pluralisme juga sekaligus harus berani menindak tegas terhadap pihak-pihak yang menggangu semangat dan komitmen tolerasi karena akan merusak harmoni kebangsaan. (Baca juga:Kosgoro 1957 Segera Distribusikan 100 Ribu Masker ke Daerah Zona Merah COVID-19)
"Kosgoro 1957 berpendapat bahwa pendekatan kesejahteraan bagi masyarakat terutama di Papua menjadi sangat penting melalui kelanjutan dan peningkatan dana otonomi yang lebih luas jangkauannya. Kosgoro 1957 menegaskan bahwa peningkatan dana otonomi khusus tersebut harus diikuti dengan pengawasan yang ketat guna menghindari terjadinya penyalagunaan dan berharap agar pelaku penyalahgunaan dana otonomi khusus tersebut harus ditindak tegas oleh aparat penegak hukum termasuk KPK dengan hukuman yang seberat-beratnya," pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :