LSI Denny JA: Efek Pemberlakuan PSBB Belum Maksimal
Sabtu, 09 Mei 2020 - 16:45 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, para pengusaha juga dinilai kurang menerapkan jarak antar pembeli ketika mereka antre di pasar/toko. Kepala rumah tangga kurang menjaga anak-anak mudanya untuk tidak dulu berkumpul di area umum, terutama setelah berbuka puasa.
"Pemerintah daerah juga kurang mengawasi pelaksanaan PSBB itu. Sementara kesadaran masyarakat sendiri banyak yang belum tumbuh akan pentingnya social distancing dan aneka protokol kesehatan," urainya.
Dengan data, fakta dan analisa tersebut, kata Denny JA, ada sejumlah langkah yang perlu dilakukan. Menurutnya, pandemi ini memang terlalu besar dan terlalu penting jika hanya diserahkan kepada pemerintah pusat atau kepada Gugus Tugas saja. "Pemerintah daerah bersama dengan pemimpin masyarakat, ulama, bahkan ketua RT, para influencer, juga kepala rumah tangga harus lebih giat lagi menerapkan PSBB," katanya.
Selain itu, inilah saatnya para relawan terpanggil melakukan perannya masing-masing. Misalnya para influencer, dapat ikut berkampanye pentingnya protokol kesehatan seperti social distancing, memakai masker, cuci tangan, dan ibadah di rumah saja.
Menurut Denny JA, karena hingga saat ini vaksin belum ditemukan maka satu satunya senjata yang adalah PSBB dan protokol kesehatan. "Bersama kita targetkan, di bulan ini, Mei 2020, kasus baru terpapar COVID-19 harus menurun drastis. Selesai Lebaran, kita harap perlahan kita mulai kembali kehidupan usaha kita, kantor kita, sekolah kita, agar ekonomi tidak merosot tajam. Namun ini hanya mungkin dilakukan jika kasus baru terpapar Corona merosot dratis dan warga patuh dengan aneka protokol kesehatan," urainya.
Riset LSI Denny JA ini dilakukan dengan menggunaka metode riset kualitatif dengan kajian data sekunder dari tiga lembaga yakni Gugus Tugas Nasional COVID-19 (data harian 18 wilayah PSBB dari awal Maret–6 Mei 2020, Worldometer, dan WHO.
"Pemerintah daerah juga kurang mengawasi pelaksanaan PSBB itu. Sementara kesadaran masyarakat sendiri banyak yang belum tumbuh akan pentingnya social distancing dan aneka protokol kesehatan," urainya.
Dengan data, fakta dan analisa tersebut, kata Denny JA, ada sejumlah langkah yang perlu dilakukan. Menurutnya, pandemi ini memang terlalu besar dan terlalu penting jika hanya diserahkan kepada pemerintah pusat atau kepada Gugus Tugas saja. "Pemerintah daerah bersama dengan pemimpin masyarakat, ulama, bahkan ketua RT, para influencer, juga kepala rumah tangga harus lebih giat lagi menerapkan PSBB," katanya.
Selain itu, inilah saatnya para relawan terpanggil melakukan perannya masing-masing. Misalnya para influencer, dapat ikut berkampanye pentingnya protokol kesehatan seperti social distancing, memakai masker, cuci tangan, dan ibadah di rumah saja.
Menurut Denny JA, karena hingga saat ini vaksin belum ditemukan maka satu satunya senjata yang adalah PSBB dan protokol kesehatan. "Bersama kita targetkan, di bulan ini, Mei 2020, kasus baru terpapar COVID-19 harus menurun drastis. Selesai Lebaran, kita harap perlahan kita mulai kembali kehidupan usaha kita, kantor kita, sekolah kita, agar ekonomi tidak merosot tajam. Namun ini hanya mungkin dilakukan jika kasus baru terpapar Corona merosot dratis dan warga patuh dengan aneka protokol kesehatan," urainya.
Riset LSI Denny JA ini dilakukan dengan menggunaka metode riset kualitatif dengan kajian data sekunder dari tiga lembaga yakni Gugus Tugas Nasional COVID-19 (data harian 18 wilayah PSBB dari awal Maret–6 Mei 2020, Worldometer, dan WHO.
(kri)
Lihat Juga :