Pemerintah Mengembangkan Obat dan Terapi untuk Pasien Covid-19
Jum'at, 06 November 2020 - 20:51 WIB
loading...
Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah tidak hanya menyokong pengembangan vaksin Covid-19 . Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) menyatakan pihaknya mengembangkan obat dan terapi untuk pasien Covid-19 .
Pandemi Covid-19 yang nyaris menghentikan seluruh sendi kehidupan membuat semua elemen bangsa, terutama para peneliti, berusaha menemukan penawarnya. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengakui vaksin akan menjadi penentu untuk menghentikan penyebaran virus Sars Cov-II.
Sementara itu, obat dan terapi hanya untuk orang yang sudah dalam keadaan sakit. "Yang memang kalau belum ada vaksin, bagusnya ada obat. Sampai saat ini di dunia belum ada obat ( Covid-19 ). Kalau ada di berita FDA Amerika merekomendasikan Remdesivir itu hanya untuk emergency use," ujarnya dalam wawancara khusus dengan SINDOnews, Jumat (6/11/2020).
(Baca juga: Data Harian Covid-19: DKI Jakarta 672 Kasus, Jawa Tengah 613 Kasus ).
Beberapa waktu lalu, Universitas Airlangga, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), dan Badan Intelijen Negara (BIN) mengklaim telah menemukan obat untuk Covid-19 . Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum mereken obat ini untuk diproduksi dan digunakan masal.
"Unair masalahnya, uji klinis. Bukannya pemerintah tidak peduli yang namanya obat. Sama dengan vaksin, tidak boleh mengompromikan keamanan," ucap lulusan Universitas Indonesia (UI) itu.
(Baca juga: Bertambah 16 Kasus, Total 1.774 WNI Positif Covid-19 ).
Pandemi Covid-19 yang nyaris menghentikan seluruh sendi kehidupan membuat semua elemen bangsa, terutama para peneliti, berusaha menemukan penawarnya. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengakui vaksin akan menjadi penentu untuk menghentikan penyebaran virus Sars Cov-II.
Sementara itu, obat dan terapi hanya untuk orang yang sudah dalam keadaan sakit. "Yang memang kalau belum ada vaksin, bagusnya ada obat. Sampai saat ini di dunia belum ada obat ( Covid-19 ). Kalau ada di berita FDA Amerika merekomendasikan Remdesivir itu hanya untuk emergency use," ujarnya dalam wawancara khusus dengan SINDOnews, Jumat (6/11/2020).
(Baca juga: Data Harian Covid-19: DKI Jakarta 672 Kasus, Jawa Tengah 613 Kasus ).
Beberapa waktu lalu, Universitas Airlangga, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), dan Badan Intelijen Negara (BIN) mengklaim telah menemukan obat untuk Covid-19 . Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum mereken obat ini untuk diproduksi dan digunakan masal.
"Unair masalahnya, uji klinis. Bukannya pemerintah tidak peduli yang namanya obat. Sama dengan vaksin, tidak boleh mengompromikan keamanan," ucap lulusan Universitas Indonesia (UI) itu.
(Baca juga: Bertambah 16 Kasus, Total 1.774 WNI Positif Covid-19 ).
Lihat Juga :