Pilpres, Pembelahan Politik Masyarakat AS Dinilai Kian Memprihatinkan
Kamis, 05 November 2020 - 00:59 WIB
loading...
A
A
A
Hingga di penghujung penghitungan, belum bisa ditarik kesimpulan siapa yang unggul karena keduanya berimbang, dan kuncinya berada di kota-kota penentu laiknya Pennsylvania (20), Michigan (16), atau Georgia (16).
"Hal itu menunjukkan, kontroversi, impeachment politik dan kepongahan pemimpin, termasuk dalam penanganan pandemi Covid-19 yang kedodoran, tidak mengubah arah perilaku politik masyarakat Amerika Serikat," katanya.
Trump kata Umam, masih mampu secara kompetitif mempertahankan basis pemilih loyalnya, ditambah dengan kepentingan dunia bisnis yang menghendaki calon dari Partai Republik karena diharapkan tidak mengubah kebijakan pajak dan dunia bisnis yang telah mereka nikmati selama 4 tahun terakhir.
Menurutnya, kualitas demokrasi AS yang semakin kurang sehat itu berpotensi menjalar ke negara-negara berkembang yang sedang berjuang melakukan konsolidasi demokrasi di negara masing-masing.
"Perang opini yang didasarkan pada hate speech, fake news hingga eksploitasi politik identitas berpotensi memunculkan instabilitas politik dan keamanan yang tidak produktif bagi proses recovery ekonomi global di masa pandemi. Terlebih lagi, terkait dengan dinamika Islam, hal ini menjadi ancaman yang semakin mengkhawatirkan," pungkas Umam.
"Hal itu menunjukkan, kontroversi, impeachment politik dan kepongahan pemimpin, termasuk dalam penanganan pandemi Covid-19 yang kedodoran, tidak mengubah arah perilaku politik masyarakat Amerika Serikat," katanya.
Trump kata Umam, masih mampu secara kompetitif mempertahankan basis pemilih loyalnya, ditambah dengan kepentingan dunia bisnis yang menghendaki calon dari Partai Republik karena diharapkan tidak mengubah kebijakan pajak dan dunia bisnis yang telah mereka nikmati selama 4 tahun terakhir.
Menurutnya, kualitas demokrasi AS yang semakin kurang sehat itu berpotensi menjalar ke negara-negara berkembang yang sedang berjuang melakukan konsolidasi demokrasi di negara masing-masing.
"Perang opini yang didasarkan pada hate speech, fake news hingga eksploitasi politik identitas berpotensi memunculkan instabilitas politik dan keamanan yang tidak produktif bagi proses recovery ekonomi global di masa pandemi. Terlebih lagi, terkait dengan dinamika Islam, hal ini menjadi ancaman yang semakin mengkhawatirkan," pungkas Umam.
(maf)
Lihat Juga :