Pemerintah Nilai Kasus Corona Indonesia Masih Moderat di Kawasan Asean

Jum'at, 08 Mei 2020 - 19:24 WIB
loading...
Pemerintah Nilai Kasus...
Menteri Koordinator bidang PMK, Muhadjir Effendy mengatakan bahwa mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kasus tertinggi kedua di Asean. Foto/SINDOphoto
A A A
JAKARTA - Pemerintah menilai bahwa kasus Corona di Indonesia masih pada tataran moderat jika dibandingkan dengan negara-negara di Asean. Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy mengatakan bahwa mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kasus tertinggi kedua di Asean.

Dimana posisi pertama adalah Singapura dan ketiga adalah Filipina. Namun, dia menilai hal ini tidak istimewa mengingat perbedaan jumlah penduduk masing-masing negara.

“Karena jumlah penduduk kita 263 juta dibanding dengan Filipina sekitar 110 juta, apalagi Singapura yang sekitar 6 juta. Ini gambarannya secara umum. Kemudian bagaimana dengan Kawasan Asean pertumbuhan kasusnya. Untuk Singapura pernah sampai di atas 1.400 sehari. Sedangkan Indonesia yang merah tebal. Itu adalah gambaran Indonesia. Kita moderat sekali,” ujarnya saat konfremnsi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (8/5/2020).

Dia pun merasa bersyukur bahwa kasus di Asean tidak terlalu ekstrim sebagaimana yang terjadi di Kawasan Eropa maupun Amerika Utara. Apalagi sampai saat ini prediksi bahwa Indonesia akan mengalami penambahan kasus secara eksponensial ekstrim tidak terjadi.

“Kita bersyukur. Karena angka kasus kita rata-rata masih rendah. Itu bisa dilihat dari grafik yang paling kanan yaitu kasus per hari kita masih di bawah 500 paling tinggi puncaknya. Kemudian kesembuhan semakin tinggi yaitu sudah mendekati 300 per hari. Kemudian untuk angka kematian juga landai tidak ada penambahan yang cukup drastis,” paparnya.

Muhadjir mengatakan wilayah Indonesia saat ini yang penambahan kasusnya cukup dan sangat tinggi ada di Pulau Jawa. Dimana Provinsi yang paling tinggi kasus Corona adalah DKI Jakarta. Kemudian diikuti oleh Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah. Sedangkan di luar Jawa yang harus diwaspadai adalah di wilayah Sulawesi Selatan.

“Semua ini yang sebetulnya dijadikan dasar pemerintah untuk membuat prediksi, perhitungan kira-kira seperti apa skenario penanganan ke depan kasus COVID-19 di Indonesia ini. Jadi semuanya landai-landai. Dan mudah-mudahan ini juga akan terus berlangsung dan akan semakin turun. Sehingga kita bisa mempercepat proses penanganan COVID-19 ini. Dan kita juga bisa segera menangani dampak yang terjadi akibat COVID-19,” paparnya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa terdapat tiga ujung tombak penanganan COVID-19. Ujung tombak pertama adalah sektor kesehatan yang dibawahi oleh Kementerian Kesehatan dan BNPB. Lalu ujung tombak kedua adalah terkait jaring pengaman sossial yang dijalankan Kementerian Sosial dan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi.

Dua ujung tombak ini ada di bawah koordinasi Kemenko PMK. Sementara ujung tombak ketiga adalah survivabilitas ekonomi yang menjadi domain Kemenko Perekonomian dan kementerian d ibawah koordinasinya.

“Untuk sektor kesehatan, kita anggap sudah berada dalam rel yang benar. Dan itu sudah terlihat dengan kondisi atau keadaan COVID-19 yang tadi sudah saya paparkan itu,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa perhatian Kemenko PMK akan lebih fokus pada jaring pengaman sosial. Hal ini mengingat adanya pembatasan-pembatasan yang membuat masyarakat banyak yang terdampak secara sosial ekonomi.

“Karena itu perhatian Kemenko PMK itu sekarang lebih memperhatikan sektor yang biru itu. Yaitu dalam kaitannya dalam jaring pengaman sosial. Kenapa? Karena begitu ada pengetatan-pengetatan PSBB di beberaap daerah terutama di DKI dan sekitarnya. Maka tidak mungkin tidak, segera disusul dengan pemberian bantuan-bantuan sosial, terutama kepada mereka yang sangat membutuhkan,” pungkasnya.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sikapi Penyakit Super...
Sikapi Penyakit Super Flu di Indonesia, Menkes: Tak Mematikan seperti Covid-19
Tantangan Penyakit Menular...
Tantangan Penyakit Menular Kita
Eks Mensos Juliari Batubara...
Eks Mensos Juliari Batubara Diperiksa KPK Terkait Korupsi Bansos Presiden 2020
Kasus APD Covid-19,...
Kasus APD Covid-19, KPK Ajukan Banding atas Vonis 3 Tahun Eks Pejabat Kemenkes
Covid-19 di Asia Naik,...
Covid-19 di Asia Naik, Mantan Komandan Satgas RS Wisma Atlet Imbau Masyarakat Waspada
Kasus Korupsi APD Covid-19,...
Kasus Korupsi APD Covid-19, Mantan Pejabat Kemenkes Divonis 3 Tahun Penjara
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
Rekomendasi
Ini Respons KPAI usai...
Ini Respons KPAI usai Didatangi Ruben Onsu yang Adukan Polemik Hak Asuh Anak
Hadapi Perubahan Dunia...
Hadapi Perubahan Dunia Kerja, Generasi Muda Perlu Dibekali Soft Skills Sejak Dini
MNC Sekuritas dan BRI...
MNC Sekuritas dan BRI Manajemen Investasi Ajak Investor Raih Reward Reksa Dana Total Rp2,5 Juta
Berita Terkini
GIC: Ziarah Kapolri...
GIC: Ziarah Kapolri Bentuk Penghormatan Tulus terhadap Tokoh Bangsa Tanpa Kecuali
Prabowo Bertemu Profesor...
Prabowo Bertemu Profesor Imperial College London di Istana, Bahas Apa?
iPhone XS Mantan Kepala...
iPhone XS Mantan Kepala Dinas Perizinan Jogja Dilelang KPK: Laku Rp34 Juta, tapi Belum Dilunasi Pemenang Lelang
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved