UMKM Naik Kelas via Ekonomi Digital
Jum'at, 30 Oktober 2020 - 05:40 WIB
loading...
Pemasaran produk UMKM melalui platform e-commerce terbukti ampuh saat pandemi Covid-19
A
A
A
EKONOMI digital adalah sebuah jalan terang benderang bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk naik kelas. Sayangnya, data terbaru yang dipublikasikan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop dan UKM) baru sekitar sembilan juta UMKM atau sekitar 13% yang terhubung dengan ekonomi digital. Akhir tahun ini, Kemenkop dan UKM yang digawangi Teten Masduki optimistis melampaui target yang dipatok sebanyak 10 juta UMKM sudah berselancar pada ekonomi digital.
Bicara ekonomi digital bagi UMKM tidak terbatas pada aktivitas bagaimana berjualan atau menawarkan barang secara daring kepada konsumen. Manfaat tak kalah pentingnya UMKM bisa mempermudah mencari sumber pembiayaan dalam mengembangkan usaha. Selama ini pencarian sumber pendanaan konvensional sering kali menyulitkan karena harus dilengkapi jaminan, sementara para pelaku UMKM kebanyakan tidak mempunyai aset yang bisa dijaminkan untuk meminjam modal usaha. Jadi, melalui ekonomi digital UMKM bukan sekadar bisa mengakses pasar lebih luas, tetapi juga membuka sumber pembiayaan yang lebih ramah dibandingkan sumber pembiayaan konvensional yang mensyaratkan jaminan.
Untuk mengetahui seberapa besar potensi ekonomi digital Indonesia, tak ada salahnya mengintip hasil riset Google bersama Temasek dan Bain & Company yang dirilis sebelum pandemi Covid-19. Laporan riset yang dipublikasikan pada akhir tahun lalu meneropong seputar tren pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara bertajuk “e-Conomy SEA 2019” ini menyebutkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berpotensi menembus sebesar USD133 miliar dalam lima tahun ke depan.
Selain itu, dalam laporan tersebut juga memprediksi pertumbuhan sektor e-commerce sebanyak 12 kali lipat dan sektor transportasi daring enam kali lipat dalam empat tahun ke depan. Potensi ekonomi digital yang disurvei meliputi lima sektor, yakni e-commerce, media daring, wisata dan perjalanan, serta jasa keuangan. Apalagi, saat ini tren pertumbuhan ekonomi digital makin subur sebagai hikmah dari pandemi Covid-19, meski untuk sektor transportasi alami keterpurukan yang sangat dalam.
Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), M Ikhsan Ingratubun, terus meminta pelaku UMKM beralih memasarkan produk melalui platform e-commerce. Meski ekonomi digital memiliki potensi besar, Akumindo sadar diri bahwa kendala sangat besar justru dari pelaku UMKM sendiri. Pelaku yang berkecimpung dalam dunia usaha itu umumnya berusia di atas 40 tahun. Usia tersebut termasuk kelompok yang sulit bergaul dengan kemajuan teknologi digital dengan alasan ribet. Berdasarkan data publikasi terbaru dari Akumindo menyebutkan sekitar 30 juta UMKM yang rontok karena dampak dari pendemi Covid-19.
Bicara ekonomi digital bagi UMKM tidak terbatas pada aktivitas bagaimana berjualan atau menawarkan barang secara daring kepada konsumen. Manfaat tak kalah pentingnya UMKM bisa mempermudah mencari sumber pembiayaan dalam mengembangkan usaha. Selama ini pencarian sumber pendanaan konvensional sering kali menyulitkan karena harus dilengkapi jaminan, sementara para pelaku UMKM kebanyakan tidak mempunyai aset yang bisa dijaminkan untuk meminjam modal usaha. Jadi, melalui ekonomi digital UMKM bukan sekadar bisa mengakses pasar lebih luas, tetapi juga membuka sumber pembiayaan yang lebih ramah dibandingkan sumber pembiayaan konvensional yang mensyaratkan jaminan.
Untuk mengetahui seberapa besar potensi ekonomi digital Indonesia, tak ada salahnya mengintip hasil riset Google bersama Temasek dan Bain & Company yang dirilis sebelum pandemi Covid-19. Laporan riset yang dipublikasikan pada akhir tahun lalu meneropong seputar tren pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara bertajuk “e-Conomy SEA 2019” ini menyebutkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berpotensi menembus sebesar USD133 miliar dalam lima tahun ke depan.
Selain itu, dalam laporan tersebut juga memprediksi pertumbuhan sektor e-commerce sebanyak 12 kali lipat dan sektor transportasi daring enam kali lipat dalam empat tahun ke depan. Potensi ekonomi digital yang disurvei meliputi lima sektor, yakni e-commerce, media daring, wisata dan perjalanan, serta jasa keuangan. Apalagi, saat ini tren pertumbuhan ekonomi digital makin subur sebagai hikmah dari pandemi Covid-19, meski untuk sektor transportasi alami keterpurukan yang sangat dalam.
Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), M Ikhsan Ingratubun, terus meminta pelaku UMKM beralih memasarkan produk melalui platform e-commerce. Meski ekonomi digital memiliki potensi besar, Akumindo sadar diri bahwa kendala sangat besar justru dari pelaku UMKM sendiri. Pelaku yang berkecimpung dalam dunia usaha itu umumnya berusia di atas 40 tahun. Usia tersebut termasuk kelompok yang sulit bergaul dengan kemajuan teknologi digital dengan alasan ribet. Berdasarkan data publikasi terbaru dari Akumindo menyebutkan sekitar 30 juta UMKM yang rontok karena dampak dari pendemi Covid-19.
Lihat Juga :