Demokrasi Indonesia Butuh Banyak Jawaban
Selasa, 27 Oktober 2020 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
Tak salah kiranya, demokrasi masih dianggap sebatas prosedural, belum substantif. Benar memang pemilu telah digelar rutin secara periodik dan diikuti semua lapisan masyarakat. Namun, keterlibatan publik lebih sekadar cara menggugurkan tahapan demokrasi, belum menyentuh intinya. Lagi-lagi tak salah kiranya jika demokrasi Indonesia masih sebatas vote, belum menjangkar ke voice.
Indikasi ini tak berlebihan. Kedamaian (peace) dan keadilan (justice) yang menjadi muara utama demokrasi belum sepenuhnya dirasakan semua anak negeri. Tebang pilih penegakan hukum, pengabaian kekerasan terhadap suatu kelompok, hingga pengekangan kebebasan masih sering kita saksikan di negeri ini. Fakta ini dikuatkan hasil survei Indikator Politik Indonesia terakhir (24-30 September 2020) yang mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat cenderung takut menyatakan pendapat.
Ini menjadi pekerjaan rumah sekaligus alarm besar pemerintah untuk membenahi agar bolong-bolong demokrasi tak kian menganga. Kita sepakat, demokrasi bukanlah sistem yang sepenuhnya ideal. Namun, saat ini, diakui demokrasi menjadi sistem yang lebih baik dibandingkan yang lain. Seperti dikatakan Robert Dahl dalam Democracy and Its Critics (1989), yang salah bukanlah demokrasi, tetapi orang yang mempraktikkanya.
Ada banyak kemuliaan pada sistem ini. Di situ ada kebebasan, kesetaraan, dan kemerdekaan berpikir. Nilai-nilai positif inilah yang harus ditransformasikan, terutama ke kaum muda, agar mereka juga bisa berpikir makin matang. Kaum muda, termasuk generasi milenial adalah potensi besar bangsa ini. Ketidakpuasan yang muncul bisa jadi mereka hidup di zaman keterbukaan sehingga tak mampu membandingkan represivitas di era Orde Baru. Mereka perlu didekati dan dipahami. Kegagalan menyapa mereka hakikatnya memendam masalah besar di kemudian hari. Bahkan, terhadap eksistensi sistem demokrasi ini sendiri.
Indikasi ini tak berlebihan. Kedamaian (peace) dan keadilan (justice) yang menjadi muara utama demokrasi belum sepenuhnya dirasakan semua anak negeri. Tebang pilih penegakan hukum, pengabaian kekerasan terhadap suatu kelompok, hingga pengekangan kebebasan masih sering kita saksikan di negeri ini. Fakta ini dikuatkan hasil survei Indikator Politik Indonesia terakhir (24-30 September 2020) yang mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat cenderung takut menyatakan pendapat.
Ini menjadi pekerjaan rumah sekaligus alarm besar pemerintah untuk membenahi agar bolong-bolong demokrasi tak kian menganga. Kita sepakat, demokrasi bukanlah sistem yang sepenuhnya ideal. Namun, saat ini, diakui demokrasi menjadi sistem yang lebih baik dibandingkan yang lain. Seperti dikatakan Robert Dahl dalam Democracy and Its Critics (1989), yang salah bukanlah demokrasi, tetapi orang yang mempraktikkanya.
Ada banyak kemuliaan pada sistem ini. Di situ ada kebebasan, kesetaraan, dan kemerdekaan berpikir. Nilai-nilai positif inilah yang harus ditransformasikan, terutama ke kaum muda, agar mereka juga bisa berpikir makin matang. Kaum muda, termasuk generasi milenial adalah potensi besar bangsa ini. Ketidakpuasan yang muncul bisa jadi mereka hidup di zaman keterbukaan sehingga tak mampu membandingkan represivitas di era Orde Baru. Mereka perlu didekati dan dipahami. Kegagalan menyapa mereka hakikatnya memendam masalah besar di kemudian hari. Bahkan, terhadap eksistensi sistem demokrasi ini sendiri.
(bmm)
Lihat Juga :