Mantan Dubes Indonesia Ungkap Pengalamannya Jadi Diplomat 'Kesasar'
Kamis, 22 Oktober 2020 - 09:11 WIB
loading...
A
A
A
“Hal itulah yang dicontohkan oleh Dubes Eddy Pratomo, sosok diplomat langka yang tak pernah lelah untuk terus bersekolah,” kata Retno, Rabu 21 Oktober 2020.(Baca juga: Diterima Amerika Serikat, Prabowo Diyakini Bisa Jadi Presiden 2024 )
Menurut Menlu Retno, selain tekun belajar hingga meraih gelar doktor dan dikukuhkan sebagai guru besar hukum internasional, ada hal lain yang perlu dijadikan pembelajaran dari sosok Eddy Pratomo, yakni karier nonformal yang harus ditekuni, terutama setelah purnatugas dari Kemlu.
Di samping mengajar di sejumlah kampus, Eddy juga aktif sebagai konsultan hukum di berbagai perusahan dan perbankan nasional serta menjadi pelaku usaha. Mulai dari alat kesehatan, pertambangan hingga barang rongsokan, demikian komentar Dr Hassan Wirajuda (Menteri Luar Negeri 2004- 2014).
“Autobiografi ini menarik dibaca, karena tidak hanya menampilkan ’karier formal’ Mas Eddy sebagai diplomat. Lebih jauh, buku ini juga menyajikan estafet perjalanan hidup beliau yang patut diteladani,” kata Retno yang mengaku telah mengenal Eddy Pratomo sejak 25 tahun lalu. (Baca juga: Mengenal Eurofighter Typhoon yang akan Dibeli Menhan Prabowo dari Austria )
Sementara itu, Dubes Eddy Pratomo menuturkan, autobiografinya tidak melulu bercerita tentang perjalanan karier diplomat yang ia tekuni selama 32 tahun. Di awal, dia mengajak pembaca mengembara ke era 1965-1966 dengan latar kampung halamannya di Kendal, Jawa Tengah.
“Banyak memori pribadi yang sangat membekas, terutama dipicu oleh sengkarut perpolitikan Tanah Air pada masa itu,” katanya.
Menurut Menlu Retno, selain tekun belajar hingga meraih gelar doktor dan dikukuhkan sebagai guru besar hukum internasional, ada hal lain yang perlu dijadikan pembelajaran dari sosok Eddy Pratomo, yakni karier nonformal yang harus ditekuni, terutama setelah purnatugas dari Kemlu.
Di samping mengajar di sejumlah kampus, Eddy juga aktif sebagai konsultan hukum di berbagai perusahan dan perbankan nasional serta menjadi pelaku usaha. Mulai dari alat kesehatan, pertambangan hingga barang rongsokan, demikian komentar Dr Hassan Wirajuda (Menteri Luar Negeri 2004- 2014).
“Autobiografi ini menarik dibaca, karena tidak hanya menampilkan ’karier formal’ Mas Eddy sebagai diplomat. Lebih jauh, buku ini juga menyajikan estafet perjalanan hidup beliau yang patut diteladani,” kata Retno yang mengaku telah mengenal Eddy Pratomo sejak 25 tahun lalu. (Baca juga: Mengenal Eurofighter Typhoon yang akan Dibeli Menhan Prabowo dari Austria )
Sementara itu, Dubes Eddy Pratomo menuturkan, autobiografinya tidak melulu bercerita tentang perjalanan karier diplomat yang ia tekuni selama 32 tahun. Di awal, dia mengajak pembaca mengembara ke era 1965-1966 dengan latar kampung halamannya di Kendal, Jawa Tengah.
“Banyak memori pribadi yang sangat membekas, terutama dipicu oleh sengkarut perpolitikan Tanah Air pada masa itu,” katanya.
Lihat Juga :