Cegah Stunting Selama Pandemi, BKKBN Tingkatkan Layanan IUD Post Partum
Rabu, 14 Oktober 2020 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Semua teori menyatakan spacing dan stunting itu menjadi satu sebab akibat. Mereka yang pengaturan jaraknya (spacing) bagus atau birth to birth interval atau birth to pregnancy interval, atau dengan kata lain, jarak antara hamil dan melahirkan atau melahirkan dengan melahirkan yang jaraknya lebih dari 3 tahun terbukti tidak stunting. Berbeda halnya dengan jaraknya yang kurang dari 2 tahun, hampir dua kali lipat kejadian stuntingnya. “Inilah makanya spacing atau jarak antara kehamilan dan kehamilan berikutnya atau kelahiran dengan kelahiran berikutnya sangat berpengaruh pada kejadian stunting,” jelas Hasto.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus tertinggi di Asia. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8%. Sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20%. Anak yang stunting bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang akan sangat memengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, serta produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.
”Peran BKKBN dalam penurunan stunting adalah dengan Program Pengendalian jarak dan jumlah kelahiran dengan KB Pasca Persalinan/Post Partum. Sehinga kotrasepsi menjadi pilihan, dengan kontrasepsi kemudian jaraknya bisa lebih dari 36 bulan harapannya,” katanya.
Dalam hal ini ada kontrasepsi IUD yang mempunyai tiga keuntungan ketika dipasang setelah melahirkan. “yang pertama tidak sakit itu sudah jelas, kemudian yang kedua itu memasangnya relatif mudah, sebetulnya ngajarin ibu-ibu bidan masang IUD pascapersalinan itu jauh lebih mudah daripada ngajarin masang yang interval yang uterusnya kecil, karena jalannya juga masih lebar dan resikonya juga lebih kecil, serta yang ketiga, IUD itu tidak memengaruhi ASI. Inilah yang penting sekali saya sampaikan tiga hal yang penting,” ungkap Hasto.
Selain itu, pelayanan KB tetap dilaksanakan selama pandemi Covid-19 dengan aturan protokol kesehatan yang ketat, sehingga akseptor dan provider terhindar dari penularan. ”Pasanglah IUD post partum atau pasca melahirkan karena memang tidak sakit memasangnya mudah kemudian tidak mengganggu ASI, ini saya kira keuntungan-keuntungan yang sangat baik untuk kemudian kita bisa menjaga jarak dalam interval kehamilan,” katanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus tertinggi di Asia. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8%. Sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20%. Anak yang stunting bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang akan sangat memengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, serta produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.
”Peran BKKBN dalam penurunan stunting adalah dengan Program Pengendalian jarak dan jumlah kelahiran dengan KB Pasca Persalinan/Post Partum. Sehinga kotrasepsi menjadi pilihan, dengan kontrasepsi kemudian jaraknya bisa lebih dari 36 bulan harapannya,” katanya.
Dalam hal ini ada kontrasepsi IUD yang mempunyai tiga keuntungan ketika dipasang setelah melahirkan. “yang pertama tidak sakit itu sudah jelas, kemudian yang kedua itu memasangnya relatif mudah, sebetulnya ngajarin ibu-ibu bidan masang IUD pascapersalinan itu jauh lebih mudah daripada ngajarin masang yang interval yang uterusnya kecil, karena jalannya juga masih lebar dan resikonya juga lebih kecil, serta yang ketiga, IUD itu tidak memengaruhi ASI. Inilah yang penting sekali saya sampaikan tiga hal yang penting,” ungkap Hasto.
Selain itu, pelayanan KB tetap dilaksanakan selama pandemi Covid-19 dengan aturan protokol kesehatan yang ketat, sehingga akseptor dan provider terhindar dari penularan. ”Pasanglah IUD post partum atau pasca melahirkan karena memang tidak sakit memasangnya mudah kemudian tidak mengganggu ASI, ini saya kira keuntungan-keuntungan yang sangat baik untuk kemudian kita bisa menjaga jarak dalam interval kehamilan,” katanya.
Lihat Juga :