Pesan Fadli Zon ke TNI: Jangan Tergiur Jadi Alat Kekuasaan
Senin, 05 Oktober 2020 - 15:31 WIB
loading...
A
A
A
Terbukti, lanjut Fadli, menghadapi pandemi ini semua negara cenderung mencari jalan keluar sendiri-sendiri. Tak ada kerja sama internasional. Paling jauh hanya kerja sama multilateral.(Baca juga: Diberi Kejutan oleh Kapolri, Panglima TNI Terharu )
Dari sisi militer, kata dia, kian terkikisnya peran lembaga-lembaga internasional tentu saja harus dicermati. "Ada sejumlah konflik yang saya kira tidak akan pernah bisa diselesaikan tanpa kerja sama internasional yang luas. Misalnya saja konflik Laut Cina Selatan, yang ada di pekarangan kita sendiri. Di tengah perang urat saraf antara Amerika dengan Cina di Laut Cina Selatan, kita berharap TNI tidak kehilangan orientasi strategisnya," tutur politikus Gerindra ini.(Baca juga: PDIP: TNI sebagai Kekuatan Utama Pertahanan Strategis )
Tantangan kedua, kata Fadli dari dalam negeri. Sesudah 20 tahun Reformasi, Indonesia saat ini kembali berada di persimpangan sejarah. Kian terkonsolidasinya kekuasaan di tangan eksekutif, sebagaimana yang terjadi sejak pandemi ini menerjang, tengah menarik mundur praktik demokrasi kita.
"Apakah demokrasi kita akan terus mundur, atau bisa memperbaiki diri, salah satunya juga tergantung pada TNI," tandasnya.
Di tengah tarik-ulur demikian, Fadli berharap agar TNI bisa menjaga profesionalitasnya, tidak tergiur menjadi alat kekuasaan.
Fadli menambahkan, TNI harus menyadari jika dirinya tumbuh dan berkembang sebagai tentara rakyat, sehingga tak boleh dibenturkan dengan rakyat. TNI juga harus bisa menjaga diri agar tak terjerat oleh kekuatan politik mana pun, termasuk para oligarki ekonomi.
Dari sisi militer, kata dia, kian terkikisnya peran lembaga-lembaga internasional tentu saja harus dicermati. "Ada sejumlah konflik yang saya kira tidak akan pernah bisa diselesaikan tanpa kerja sama internasional yang luas. Misalnya saja konflik Laut Cina Selatan, yang ada di pekarangan kita sendiri. Di tengah perang urat saraf antara Amerika dengan Cina di Laut Cina Selatan, kita berharap TNI tidak kehilangan orientasi strategisnya," tutur politikus Gerindra ini.(Baca juga: PDIP: TNI sebagai Kekuatan Utama Pertahanan Strategis )
Tantangan kedua, kata Fadli dari dalam negeri. Sesudah 20 tahun Reformasi, Indonesia saat ini kembali berada di persimpangan sejarah. Kian terkonsolidasinya kekuasaan di tangan eksekutif, sebagaimana yang terjadi sejak pandemi ini menerjang, tengah menarik mundur praktik demokrasi kita.
"Apakah demokrasi kita akan terus mundur, atau bisa memperbaiki diri, salah satunya juga tergantung pada TNI," tandasnya.
Di tengah tarik-ulur demikian, Fadli berharap agar TNI bisa menjaga profesionalitasnya, tidak tergiur menjadi alat kekuasaan.
Fadli menambahkan, TNI harus menyadari jika dirinya tumbuh dan berkembang sebagai tentara rakyat, sehingga tak boleh dibenturkan dengan rakyat. TNI juga harus bisa menjaga diri agar tak terjerat oleh kekuatan politik mana pun, termasuk para oligarki ekonomi.
Lihat Juga :