Portal A Gama, 'Menggagahi Warisan, Menggilai Siborg'
Sabtu, 03 Oktober 2020 - 12:15 WIB
loading...
A
A
A
Dahulu Haidar muda pembaca rakus akademikus. Kini Haidar penulis produktif dengan minat kajian mondial. Haidar galak selagi terjadi olok-olok terhadap agama gegara sains yang diunggul-unggulkan.
Contoh cubitan menyengatnya, agama “gagal” dan “kalah” menangkal wabah Covid-19. Umat beragama dan agamawan harus menuruti protokol kesehatan. Implikasinya, sains menjadi mutlak otoritas sains (kedokteran) untuk menghadapi pandemi. Ibadah berjamaah tersingkir. (Baca juga: Peneliti Temukan Danau Air Asin di Planet Mars)
Nah, tak sedikit orang-orang mencemooh agama? Mulailah Haidar “menghajar” para bigot yang tentunya bigotri. Mereka itu intelek, tetapi mendadak dungu. Agama? Warisan? Gagah? Haruskah bersitegang agama-filsafat-sains? Apa gunanya gimik otoritas atas nama kebenaran jika hasilnya “pembenaran neraka”? Kemalasan berpikir!
Gatallah Haidar. Tantangnya, sudahkah semua pustaka filsafat, dari Phytagoras, Pascal, dan Plato, hingga al-Ghazali, al-Razi, serta Mulla Sadra, sampai William James, Heidegger, dan Wittgenstein, mereka jelajah semua sudutnya dengan membaca teks aslinya dengan hati terbuka? Camkan, membaca dengan lembaran hati terbuka!
Di sinilah repotnya. Kita kewalahan dengan para pengikut agama yang mau menang sendiri dan mengafir-ngafirkan sains dan filsafat. Alih-alih, kita jumpai juga pemuja sains yang menyangkal filsafat dan membodoh-bodohkan pemikiran agama. Kapan manusia benar-benar bisa bebas dari para bigot dan ekstremis yang ada di berbagai kelompok ini? (hlm.31)
Ulil beruntung lahir dari tradisi Islam pesantren. Artinya, sejak dini Ulil matang di kawah khazanah intelektual Islam klasik yang mahakaya. Ulil tangguh menggumuli Islam bukan semata-mata sebagai iman dan agama, melainkan sebagai tradisi pemikiran yang menyuguhkan arsitektur intelektual yang memukau. Ulil mencari!
Tak bisa ingkar, Ulil dewasa (19 tahun) nyaris tergelincir sesat karena tersihir pikir Qutbisme dari sosok Sayyid Qutb (“jemawa sebagai kebenaran mutlak dan paling saleh-homo religiosus). Ulil merasa jemawa bahwa semua orang di sekitarnya adalah jahiliyah, berada dalam kegelapan akidah. Ulillah satu-satunya pemegang teguh akidah terbenar. Untunglah, tualang gila Ulil sembuh. (Baca juga: Din Syamsuddin Minta Moeldoko Tak Mudah Lempar Tuduhan)
Alkisah, Ulil muda terpukau figur kampiun Cak Nur. Ulil gerah menatap kekayaan literasi Cak Nur (Arab, Inggris, Persia, Prancis) yang mencetak pribadi Cak Nur menjadi orator memikat.
Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Fakhruddin al-Razi, al-Taftazani, Ibn ‘Arabi, al-Thusi, Suhrawardi, pun Mulla Sadra adalah benteng pikirnya. Para sarjana klasik Islam ini sebanding dengan para raksasa pikir atau filsuf Eropa modern. Sebutlah Bertrand Russell, Alfred N. Whitehead, Louis Althusser, Jacques Derrida, Michel Foucault, Theodor W. Adorno, pun Jurgen Habermas.
Contoh cubitan menyengatnya, agama “gagal” dan “kalah” menangkal wabah Covid-19. Umat beragama dan agamawan harus menuruti protokol kesehatan. Implikasinya, sains menjadi mutlak otoritas sains (kedokteran) untuk menghadapi pandemi. Ibadah berjamaah tersingkir. (Baca juga: Peneliti Temukan Danau Air Asin di Planet Mars)
Nah, tak sedikit orang-orang mencemooh agama? Mulailah Haidar “menghajar” para bigot yang tentunya bigotri. Mereka itu intelek, tetapi mendadak dungu. Agama? Warisan? Gagah? Haruskah bersitegang agama-filsafat-sains? Apa gunanya gimik otoritas atas nama kebenaran jika hasilnya “pembenaran neraka”? Kemalasan berpikir!
Gatallah Haidar. Tantangnya, sudahkah semua pustaka filsafat, dari Phytagoras, Pascal, dan Plato, hingga al-Ghazali, al-Razi, serta Mulla Sadra, sampai William James, Heidegger, dan Wittgenstein, mereka jelajah semua sudutnya dengan membaca teks aslinya dengan hati terbuka? Camkan, membaca dengan lembaran hati terbuka!
Di sinilah repotnya. Kita kewalahan dengan para pengikut agama yang mau menang sendiri dan mengafir-ngafirkan sains dan filsafat. Alih-alih, kita jumpai juga pemuja sains yang menyangkal filsafat dan membodoh-bodohkan pemikiran agama. Kapan manusia benar-benar bisa bebas dari para bigot dan ekstremis yang ada di berbagai kelompok ini? (hlm.31)
Ulil beruntung lahir dari tradisi Islam pesantren. Artinya, sejak dini Ulil matang di kawah khazanah intelektual Islam klasik yang mahakaya. Ulil tangguh menggumuli Islam bukan semata-mata sebagai iman dan agama, melainkan sebagai tradisi pemikiran yang menyuguhkan arsitektur intelektual yang memukau. Ulil mencari!
Tak bisa ingkar, Ulil dewasa (19 tahun) nyaris tergelincir sesat karena tersihir pikir Qutbisme dari sosok Sayyid Qutb (“jemawa sebagai kebenaran mutlak dan paling saleh-homo religiosus). Ulil merasa jemawa bahwa semua orang di sekitarnya adalah jahiliyah, berada dalam kegelapan akidah. Ulillah satu-satunya pemegang teguh akidah terbenar. Untunglah, tualang gila Ulil sembuh. (Baca juga: Din Syamsuddin Minta Moeldoko Tak Mudah Lempar Tuduhan)
Alkisah, Ulil muda terpukau figur kampiun Cak Nur. Ulil gerah menatap kekayaan literasi Cak Nur (Arab, Inggris, Persia, Prancis) yang mencetak pribadi Cak Nur menjadi orator memikat.
Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Fakhruddin al-Razi, al-Taftazani, Ibn ‘Arabi, al-Thusi, Suhrawardi, pun Mulla Sadra adalah benteng pikirnya. Para sarjana klasik Islam ini sebanding dengan para raksasa pikir atau filsuf Eropa modern. Sebutlah Bertrand Russell, Alfred N. Whitehead, Louis Althusser, Jacques Derrida, Michel Foucault, Theodor W. Adorno, pun Jurgen Habermas.
Lihat Juga :