Lebih Disiplin Yuk
Selasa, 29 September 2020 - 05:58 WIB
loading...
A
A
A
“Jadi dari temuan ini secara umum menggembirakan, tetapi kita perlu memperhatikan penerapan, baik untuk mencuci tangan maupun menjaga jarak. Karena 3M ini pada posisi ideal, tiga komponennya harusnya berjalan secara paralel,” ungkap Suhariyanto.
BPS juga memaparkan, riset menemukan perempuan lebih patuh terhadap protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19 jika dibandingkan dengan laki-laki. Survei juga menemukan tingkat pendidikan memengaruhi tingkat kedisiplinan protokol kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, kepatuhannya semakin meningkat.
Jika dilihat berdasarkan umur, masyarakat yang berumur lebih tinggi jauh lebih patuh protokol kesehatan. Karena itu, Suhariyanto menggarisbawahi perlunya sosialisasi yang bisa spesifik menyentuh kalangan muda.
Suhariyanto berharap temuan ini bisa digunakan untuk pengambilan kebijakan ke depan dalam penanganan Covid-19, terutama untuk mempertajam kebijakan yang selama ini sudah dijalankan. (Baca juga: Pneumonia Butuh Penanganan Serius)
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menegaskan bahwa data dari hasil survei ini penting dan sangat strategis untuk menentukan kebijakan pemerintah ke depan dalam penanganan Covid-19.
“Dalam berbagai kesempatan, Bapak Presiden menekankan pentingnya data. Dan setiap kebijakan yang dilakukan harus berdasarkan data, harus berdasarkan kajian dan juga harus berdasarkan survei,” ungkap Doni dalam Rilis Hasil Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19, di Media Center Satgas Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, kemarin.
Doni melihat survei BPS sangat strategis, karena Covid-19 media transmisinya adalah manusia, bukan hewan seperti halnya flu burung dan flu babi. Dengan demikian, melalui survei ini Satgas bisa mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan masyarakat terhadap ancaman Covid-19.
“Nah, oleh karenanya kita perlu mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan masyarakat terhadap ancaman virus Covid ini. Dan kira-kira, apa saja yang menjadi hambatan-hambatan dalam melaksanakan ketentuan terhadap suatu protokol kesehatan,” katanya.
Selain itu, Doni mengatakan bahwa menangani pandemi Covid-19 tidak bisa mengandalkan tenaga medis saja. Dia pun menegaskan, apa yang dilakukan Satgas selama ini bukan semata-mata operasi medis atau operasi kesehatan, melainkan lebih cenderung pada operasi kemanusiaan.
“Apa maksudnya? Adalah menempatkan masyarakat sebagai garda terdepan sebagai ujung tombak dalam pencegahan. Karena kalau tidak ada upaya maksimal dalam proses pencegahan maka rumah sakit akan banyak terisi oleh pasien Covid,” kata Doni. (Baca juga: Era Teknologi KTP Biometrik Dimulai)
Doni pun menegaskan bahwa tenaga kesehatan adalah benteng terakhir dalam penanganan Covid-19. Karena itu, yang harus ditekankan seperti diminta WHO, pakar-pakar epidemiologi, dan pakar kesehatan, adalah bagaimana masyarakat patuh pada protokol kesehatan.
BPS juga memaparkan, riset menemukan perempuan lebih patuh terhadap protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19 jika dibandingkan dengan laki-laki. Survei juga menemukan tingkat pendidikan memengaruhi tingkat kedisiplinan protokol kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, kepatuhannya semakin meningkat.
Jika dilihat berdasarkan umur, masyarakat yang berumur lebih tinggi jauh lebih patuh protokol kesehatan. Karena itu, Suhariyanto menggarisbawahi perlunya sosialisasi yang bisa spesifik menyentuh kalangan muda.
Suhariyanto berharap temuan ini bisa digunakan untuk pengambilan kebijakan ke depan dalam penanganan Covid-19, terutama untuk mempertajam kebijakan yang selama ini sudah dijalankan. (Baca juga: Pneumonia Butuh Penanganan Serius)
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menegaskan bahwa data dari hasil survei ini penting dan sangat strategis untuk menentukan kebijakan pemerintah ke depan dalam penanganan Covid-19.
“Dalam berbagai kesempatan, Bapak Presiden menekankan pentingnya data. Dan setiap kebijakan yang dilakukan harus berdasarkan data, harus berdasarkan kajian dan juga harus berdasarkan survei,” ungkap Doni dalam Rilis Hasil Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19, di Media Center Satgas Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, kemarin.
Doni melihat survei BPS sangat strategis, karena Covid-19 media transmisinya adalah manusia, bukan hewan seperti halnya flu burung dan flu babi. Dengan demikian, melalui survei ini Satgas bisa mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan masyarakat terhadap ancaman Covid-19.
“Nah, oleh karenanya kita perlu mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan masyarakat terhadap ancaman virus Covid ini. Dan kira-kira, apa saja yang menjadi hambatan-hambatan dalam melaksanakan ketentuan terhadap suatu protokol kesehatan,” katanya.
Selain itu, Doni mengatakan bahwa menangani pandemi Covid-19 tidak bisa mengandalkan tenaga medis saja. Dia pun menegaskan, apa yang dilakukan Satgas selama ini bukan semata-mata operasi medis atau operasi kesehatan, melainkan lebih cenderung pada operasi kemanusiaan.
“Apa maksudnya? Adalah menempatkan masyarakat sebagai garda terdepan sebagai ujung tombak dalam pencegahan. Karena kalau tidak ada upaya maksimal dalam proses pencegahan maka rumah sakit akan banyak terisi oleh pasien Covid,” kata Doni. (Baca juga: Era Teknologi KTP Biometrik Dimulai)
Doni pun menegaskan bahwa tenaga kesehatan adalah benteng terakhir dalam penanganan Covid-19. Karena itu, yang harus ditekankan seperti diminta WHO, pakar-pakar epidemiologi, dan pakar kesehatan, adalah bagaimana masyarakat patuh pada protokol kesehatan.
Lihat Juga :