Keterlibatan BIN Dalam Penanganan Covid-19 Sesuai UU Intelijen Negara
Senin, 28 September 2020 - 07:32 WIB
loading...
A
A
A
”Oleh karenanya, BIN bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian dan universitas yang memiliki fasilitas laboratorium BSL 2 dan 3 di berbagai daerah. Terutama daerah-daerah yang masuk dalam zona merah Covid-19 untuk meningkatkan kapasitas uji spesimen dengan memberikan berbagai bantuan alat laboratorium, mulai dari RT PCR hingga berbagai peralatan lainnya, seperti reagen dan sebagainya,” katanya.
Selain itu, BIN juga membangun satu laboratorium stasioner berstandar BSL-2+ dan empat unit lab mobile berstandar BSL-2 untuk membantu mempercepat dan memperbanyak kapasitas testing, yang mampu menjangkau zona-zona merah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau. Menurut Nuning, upaya 3T dimaksudkan untuk mencegah Orang Tanpa Gejala (OTG) atau asimpotmatik agar tidak menjadi spreader.
”Ini merupakan perhatian kita bersama dan mengobati pasien Covid-19 kondisi ringan dan sedang yang dideteksi sejak dini dari tes swab berpeluang sembuh lebih besar serta lebih murah. Jangan sampai stigmatisasi masyarakat yang kuat melekat menjadi bagian dari polemik hasil test positif-negatif,” ucapnya.
Tak heran, jika kehadiran Satgas BIN mendapat apresiasi positif dari Kementerian/Lembaga dan pemda. ”Hal itu terlihat dari banyaknya kementerian dan lembaga serta pemda yang menyampaikan permohonan kepada BIN untuk membantu pelaksanaan tracing di wilayah maupun institusinya dengan melakukan tes swab dengan beban anggaran operasi BIN,” katanya.
Banyaknya kementerian/lembaga dan pemda yang mengajukan permohonan kepada BIN, kata Nuning, karena dalam melakukan proses uji spesimen, laboratorium BIN menggunakan 2 jenis mesin Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT PCR), yaitu jenis qiagen dari Jerman dan jenis thermo scientific dari Amerika Serikat dan memiliki sertifikat laboratorium BSL-2 yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium dan telah dilakukan proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional, World Bio Haztec dari Singapore serta kerja sama dengan LBM Eijkman untuk standar hasil tes sehingga layak digunakan untuk analisis RT-PCR yang sesuai standar.
Selain itu, BIN juga membangun satu laboratorium stasioner berstandar BSL-2+ dan empat unit lab mobile berstandar BSL-2 untuk membantu mempercepat dan memperbanyak kapasitas testing, yang mampu menjangkau zona-zona merah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau. Menurut Nuning, upaya 3T dimaksudkan untuk mencegah Orang Tanpa Gejala (OTG) atau asimpotmatik agar tidak menjadi spreader.
”Ini merupakan perhatian kita bersama dan mengobati pasien Covid-19 kondisi ringan dan sedang yang dideteksi sejak dini dari tes swab berpeluang sembuh lebih besar serta lebih murah. Jangan sampai stigmatisasi masyarakat yang kuat melekat menjadi bagian dari polemik hasil test positif-negatif,” ucapnya.
Tak heran, jika kehadiran Satgas BIN mendapat apresiasi positif dari Kementerian/Lembaga dan pemda. ”Hal itu terlihat dari banyaknya kementerian dan lembaga serta pemda yang menyampaikan permohonan kepada BIN untuk membantu pelaksanaan tracing di wilayah maupun institusinya dengan melakukan tes swab dengan beban anggaran operasi BIN,” katanya.
Banyaknya kementerian/lembaga dan pemda yang mengajukan permohonan kepada BIN, kata Nuning, karena dalam melakukan proses uji spesimen, laboratorium BIN menggunakan 2 jenis mesin Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT PCR), yaitu jenis qiagen dari Jerman dan jenis thermo scientific dari Amerika Serikat dan memiliki sertifikat laboratorium BSL-2 yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium dan telah dilakukan proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional, World Bio Haztec dari Singapore serta kerja sama dengan LBM Eijkman untuk standar hasil tes sehingga layak digunakan untuk analisis RT-PCR yang sesuai standar.
Lihat Juga :