Raih Doktor di Unair, Pangi Chaniago Tawarkan Model Baru Jelaskan Split Ticket Voting di Indonesia
Senin, 20 Juli 2026 - 21:07 WIB
loading...
A
A
A
Adapun penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 1.600 responden, masing-masing 800 responden di Sumatera Barat dan 800 responden di Nusa Tenggara Timur (NTT). Data dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS).
Hasil penelitian menunjukkan tingkat split ticket voting di Sumatera Barat mencapai 37,5 persen, lebih tinggi dibandingkan NTT yang sebesar 20,2 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mekanisme pengambilan keputusan pemilih di kedua daerah berbeda sehingga faktor yang memengaruhi perilaku memilih juga tidak sama.
Penelitian menguji empat variabel utama, yakni identifikasi partai (party identification atau Party-ID), orientasi isu, personalisasi kandidat, dan orientasi persamaan kepentingan. Hasilnya, Party-ID terbukti berpengaruh negatif terhadap split ticket voting di kedua wilayah.
Semakin kuat kedekatan psikologis pemilih dengan partai politik, semakin kecil kecenderungan mereka membagi pilihan antara pemilu legislatif dan pemilu presiden. Sementara itu, orientasi isu menunjukkan pengaruh yang berbeda.
Di Sumatera Barat, perhatian terhadap isu politik justru meningkatkan kecenderungan pemilih melakukan split ticket voting. Sebaliknya, di NTT, orientasi isu memperkuat konsistensi pilihan sehingga menurunkan kecenderungan pembelahan suara.
Perbedaan juga ditemukan pada orientasi persamaan kepentingan. Di Sumatera Barat, kesamaan kepentingan antara pemilih dengan partai atau kandidat memperkuat konsistensi pilihan politik.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat split ticket voting di Sumatera Barat mencapai 37,5 persen, lebih tinggi dibandingkan NTT yang sebesar 20,2 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mekanisme pengambilan keputusan pemilih di kedua daerah berbeda sehingga faktor yang memengaruhi perilaku memilih juga tidak sama.
Penelitian menguji empat variabel utama, yakni identifikasi partai (party identification atau Party-ID), orientasi isu, personalisasi kandidat, dan orientasi persamaan kepentingan. Hasilnya, Party-ID terbukti berpengaruh negatif terhadap split ticket voting di kedua wilayah.
Semakin kuat kedekatan psikologis pemilih dengan partai politik, semakin kecil kecenderungan mereka membagi pilihan antara pemilu legislatif dan pemilu presiden. Sementara itu, orientasi isu menunjukkan pengaruh yang berbeda.
Di Sumatera Barat, perhatian terhadap isu politik justru meningkatkan kecenderungan pemilih melakukan split ticket voting. Sebaliknya, di NTT, orientasi isu memperkuat konsistensi pilihan sehingga menurunkan kecenderungan pembelahan suara.
Perbedaan juga ditemukan pada orientasi persamaan kepentingan. Di Sumatera Barat, kesamaan kepentingan antara pemilih dengan partai atau kandidat memperkuat konsistensi pilihan politik.
Lihat Juga :