Aliansi Kebangsaan Serukan Indonesia Berdamai dengan Alam Hadapi Krisis Iklim
Jum'at, 17 Juli 2026 - 19:08 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut Pontjo mengatakan, perubahan iklim juga memperbesar intensitas berbagai cuaca ekstrem. Salah satunya, apa yang sekarang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat seharusnya menjadi peringatan bagi Indonesia.
Pada Juni 2026, suhu di sejumlah wilayah Eropa mencapai sekitar 42,2 derajat Celsius. Rata-rata suhu daratan Eropa pada bulan itu menjadi salah satu yang tertinggi dalam catatan.
Pontjo mengungkapkan, Italia pada Juli 2026 bahkan menghadapi kemungkinan suhu mencapai 44 derajat celsius. Gelombang panas dan kondisi kering turut memperbesar kebakaran hutan di Prancis, Spanyol, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat.
Di Amerika, gelombang panas berbahaya diperkirakan menjangkau sebagian besar wilayah negara tersebut, dengan suhu di sejumlah tempat melampaui 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 37,8 derajat Celsius. "Fenomena ini menunjukkan bahwa ‘amuk alam’ bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia sedang berlangsung di depan mata," ujarnya.
Pontjo menilai bahwa Indonesia dalam menghadapi keadaan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan rapat, seminar, slogan, dan seremoni Hari Lingkungan Hidup. Dia berpendapat, dibutuhkan gerakan nyata yang masif, sistematis, dan berkelanjutan.
Salah satunya, Pontjo memberikan contoh bahwa langkah paling sederhana tetapi sangat penting adalah gerakan nasional menanam dan merawat pohon. Kata “merawat”, menurut Pontjo, harus selalu mengikuti kata “menanam”.
Pada Juni 2026, suhu di sejumlah wilayah Eropa mencapai sekitar 42,2 derajat Celsius. Rata-rata suhu daratan Eropa pada bulan itu menjadi salah satu yang tertinggi dalam catatan.
Pontjo mengungkapkan, Italia pada Juli 2026 bahkan menghadapi kemungkinan suhu mencapai 44 derajat celsius. Gelombang panas dan kondisi kering turut memperbesar kebakaran hutan di Prancis, Spanyol, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat.
Di Amerika, gelombang panas berbahaya diperkirakan menjangkau sebagian besar wilayah negara tersebut, dengan suhu di sejumlah tempat melampaui 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 37,8 derajat Celsius. "Fenomena ini menunjukkan bahwa ‘amuk alam’ bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia sedang berlangsung di depan mata," ujarnya.
Pontjo menilai bahwa Indonesia dalam menghadapi keadaan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan rapat, seminar, slogan, dan seremoni Hari Lingkungan Hidup. Dia berpendapat, dibutuhkan gerakan nyata yang masif, sistematis, dan berkelanjutan.
Salah satunya, Pontjo memberikan contoh bahwa langkah paling sederhana tetapi sangat penting adalah gerakan nasional menanam dan merawat pohon. Kata “merawat”, menurut Pontjo, harus selalu mengikuti kata “menanam”.
Lihat Juga :