Aliansi Kebangsaan Serukan Indonesia Berdamai dengan Alam Hadapi Krisis Iklim
Jum'at, 17 Juli 2026 - 19:08 WIB
loading...
A
A
A
Sebab selama ini tidak sedikit kegiatan penanaman pohon berhenti setelah acara selesai, foto bersama dilakukan dan bibit ditancapkan. Setelah itu, pohonnya mati tidak dirawat.
Dia berpendapat, gerakan penghijauan harus diukur bukan dari berapa juta bibit yang dibagikan, melainkan berapa banyak pohon yang hidup setelah satu, tiga, lima hingga sepuluh tahun. "Yang tak kalah penting dari itu, berapa banyak rakyat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Karena itu, gerakan ini harus menjadi budaya bangsa kita," imbuhnya.
Dia pun menegaskan bahwa alam adalah rumah bersama. Hutan adalah penjaga air. Pohon adalah pelindung tanah. Sungai adalah urat nadi kehidupan. Laut adalah sumber pangan dan pengatur iklim.
"Menanam pohon hari ini bukan sekadar menanam batang dan daun. Kita sedang menanam air, udara bersih, keselamatan, pekerjaan dan harapan bagi anak cucu Indonesia," pungkasnya.
Dia berpendapat, gerakan penghijauan harus diukur bukan dari berapa juta bibit yang dibagikan, melainkan berapa banyak pohon yang hidup setelah satu, tiga, lima hingga sepuluh tahun. "Yang tak kalah penting dari itu, berapa banyak rakyat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Karena itu, gerakan ini harus menjadi budaya bangsa kita," imbuhnya.
Dia pun menegaskan bahwa alam adalah rumah bersama. Hutan adalah penjaga air. Pohon adalah pelindung tanah. Sungai adalah urat nadi kehidupan. Laut adalah sumber pangan dan pengatur iklim.
"Menanam pohon hari ini bukan sekadar menanam batang dan daun. Kita sedang menanam air, udara bersih, keselamatan, pekerjaan dan harapan bagi anak cucu Indonesia," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :