Sastra Indonesia Mendunia: Karya Denny JA Segera Hadir dalam 35 Bahasa
Senin, 13 Juli 2026 - 23:45 WIB
loading...
Buku puisi esai karya Sastrawan Indonesia, Denny JA mencetak sejarah baru dalam dunia literasi nasional. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Buku puisi esai karya Sastrawan Indonesia, Denny JA mencetak sejarah baru dalam dunia literasi nasional. Menyusul keberhasilannya meraih penghargaan internasional BRICS Award 2025 untuk kategori Inovasi Sastra .
Buku bertajuk “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” dipastikan akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa asing. Penerbit CBI mengonfirmasi bahwa proyek ambisius ini awalnya lahir dari gagasan panitia BRICS Award untuk menerjemahkan karya Denny JA ke negara-negara anggota. Namun, ide tersebut berkembang menjadi gerakan literasi yang lebih luas untuk menyebarkan pesan kemanusiaan universal ke berbagai belahan dunia.
“Bagi kami, penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemahan adalah cara memperluas empati antarmanusia,” ujar Dirut Penerbit CBI, Ari Nugroho, Senin (13/7/2026).
Baca juga: Puncak Kalpasastra 2026, BEMP Sastra Indonesia UNJ Hadirkan Salman Aristo
Buku “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” dipilih dari delapan karya Denny JA karena dinilai memiliki tema yang paling universal. Buku ini merangkum 15 puisi esai yang memotret berbagai tragedi besar dunia, mulai dari Perang Dunia Pertama, Holocaust, bom Hiroshima, Revolusi Prancis, hingga kisah pilu boat people (manusia perahu) asal Vietnam.
Uniknya, buku ini tidak berfokus pada para penguasa atau pemenang sejarah, melainkan pada suara-suara lirih yang kerap terlupakan.
“Sejarah biasanya mengingat para pemenang. Sastra mengingat mereka yang nyaris dilupakan. Sejarah menjelaskan apa yang terjadi, tetapi puisi membantu kita merasakan bagaimana rasanya berada di dalam peristiwa itu,” tuturnya.
Lihat video: Sudi Bahasa dan Sastra Indonesia Jadi Budaya di Kancah Internasional
Melalui genre puisi esai—sebuah perpaduan antara puisi naratif dan catatan kaki faktual—pembaca diajak merasakan beban emosional para korban yang didasarkan pada peristiwa sejarah yang terdokumentasi.
Salah satu puisi yang paling menyentuh dalam buku ini berkisah tentang keluarga Nguyen, pengungsi Vietnam yang berlayar di Laut Cina Selatan. Di tengah ombak dan ancaman kematian, seorang ayah hanya mampu meminta putrinya memejamkan mata dan membayangkan sebuah negeri yang ramah.
“Bagi kami, adegan itu menunjukkan hakikat sastra. Statistik mampu mengejutkan, tetapi satu wajah manusia sering kali jauh lebih sulit dilupakan daripada jutaan angka,” ucapnya.
Karena itulah buku ini dipandang memiliki daya jangkau universal. Tangisan seorang ibu di Hiroshima dapat dipahami di Brasil.
Ketakutan seorang anak Yahudi dapat dirasakan di Mesir. Harapan seorang pengungsi Vietnam dapat dimengerti di Afrika Selatan. Bahasa yang sesungguhnya dipakai buku ini bukanlah bahasa Indonesia ataupun Inggris, melainkan bahasa kemanusiaan.
Ari Nugroho menilai dunia saat ini memerlukan lebih banyak karya yang membangun empati lintas budaya. Proyek penerjemahan ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama telah rampung, mencakup enam bahasa utama dunia yakni, Inggris, Prancis, Spanyol, Arab, Rusia, dan Mandarin. Keenam bahasa ini dipilih karena mewakili cakupan pembaca terbesar di lima benua sekaligus merepresentasikan bahasa resmi PBB dan bahasa kerja negara-negara anggota BRICS.
Tahap kedua akan memperluas jangkauan ke 29 bahasa tambahan dari berbagai negara di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan Oseania, dengan target penyelesaian pada akhir 2027. Ketika seluruh proses rampung, “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” akan tersedia dalam 35 bahasa—menjadikannya salah satu karya sastra Indonesia dengan jangkauan bahasa terluas hingga saat ini.
Seluruh edisi terjemahan akan dipublikasikan secara terbuka dan dapat diakses melalui Google Books, sehingga pembaca dari negara mana pun dapat mengunduh dan membacanya tanpa hambatan geografis. Format digital ini dipilih agar karya benar-benar menjangkau pembaca lintas budaya, sejalan dengan semangat universalitas yang menjadi jiwa buku ini.
Untuk merealisasikan proyek ini, Penerbit CBI menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak penerjemahan, serta pihak BRICS yang di Indonesia dikoordinasikan oleh Sastri Bakry, sastrawan dan tokoh sastra yang menjadi koordinator Indonesia untuk inisiatif BRICS Literary Innovation.
Menanggapi proyek besar ini, Denny JA menegaskan target puluhan bahasa tersebut bukanlah pencapaian utama yang ia kejar, melainkan sebuah jembatan empati. "Tiga puluh lima bahasa bukanlah tujuan akhir. Yang ingin saya sebarkan bukan sekadar puisi, melainkan kemampuan manusia untuk ikut merasakan penderitaan manusia lain," katanya.
Buku bertajuk “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” dipastikan akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa asing. Penerbit CBI mengonfirmasi bahwa proyek ambisius ini awalnya lahir dari gagasan panitia BRICS Award untuk menerjemahkan karya Denny JA ke negara-negara anggota. Namun, ide tersebut berkembang menjadi gerakan literasi yang lebih luas untuk menyebarkan pesan kemanusiaan universal ke berbagai belahan dunia.
“Bagi kami, penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemahan adalah cara memperluas empati antarmanusia,” ujar Dirut Penerbit CBI, Ari Nugroho, Senin (13/7/2026).
Baca juga: Puncak Kalpasastra 2026, BEMP Sastra Indonesia UNJ Hadirkan Salman Aristo
Buku “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” dipilih dari delapan karya Denny JA karena dinilai memiliki tema yang paling universal. Buku ini merangkum 15 puisi esai yang memotret berbagai tragedi besar dunia, mulai dari Perang Dunia Pertama, Holocaust, bom Hiroshima, Revolusi Prancis, hingga kisah pilu boat people (manusia perahu) asal Vietnam.
Uniknya, buku ini tidak berfokus pada para penguasa atau pemenang sejarah, melainkan pada suara-suara lirih yang kerap terlupakan.
“Sejarah biasanya mengingat para pemenang. Sastra mengingat mereka yang nyaris dilupakan. Sejarah menjelaskan apa yang terjadi, tetapi puisi membantu kita merasakan bagaimana rasanya berada di dalam peristiwa itu,” tuturnya.
Lihat video: Sudi Bahasa dan Sastra Indonesia Jadi Budaya di Kancah Internasional
Melalui genre puisi esai—sebuah perpaduan antara puisi naratif dan catatan kaki faktual—pembaca diajak merasakan beban emosional para korban yang didasarkan pada peristiwa sejarah yang terdokumentasi.
Salah satu puisi yang paling menyentuh dalam buku ini berkisah tentang keluarga Nguyen, pengungsi Vietnam yang berlayar di Laut Cina Selatan. Di tengah ombak dan ancaman kematian, seorang ayah hanya mampu meminta putrinya memejamkan mata dan membayangkan sebuah negeri yang ramah.
“Bagi kami, adegan itu menunjukkan hakikat sastra. Statistik mampu mengejutkan, tetapi satu wajah manusia sering kali jauh lebih sulit dilupakan daripada jutaan angka,” ucapnya.
Karena itulah buku ini dipandang memiliki daya jangkau universal. Tangisan seorang ibu di Hiroshima dapat dipahami di Brasil.
Ketakutan seorang anak Yahudi dapat dirasakan di Mesir. Harapan seorang pengungsi Vietnam dapat dimengerti di Afrika Selatan. Bahasa yang sesungguhnya dipakai buku ini bukanlah bahasa Indonesia ataupun Inggris, melainkan bahasa kemanusiaan.
Ari Nugroho menilai dunia saat ini memerlukan lebih banyak karya yang membangun empati lintas budaya. Proyek penerjemahan ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama telah rampung, mencakup enam bahasa utama dunia yakni, Inggris, Prancis, Spanyol, Arab, Rusia, dan Mandarin. Keenam bahasa ini dipilih karena mewakili cakupan pembaca terbesar di lima benua sekaligus merepresentasikan bahasa resmi PBB dan bahasa kerja negara-negara anggota BRICS.
Tahap kedua akan memperluas jangkauan ke 29 bahasa tambahan dari berbagai negara di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan Oseania, dengan target penyelesaian pada akhir 2027. Ketika seluruh proses rampung, “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” akan tersedia dalam 35 bahasa—menjadikannya salah satu karya sastra Indonesia dengan jangkauan bahasa terluas hingga saat ini.
Seluruh edisi terjemahan akan dipublikasikan secara terbuka dan dapat diakses melalui Google Books, sehingga pembaca dari negara mana pun dapat mengunduh dan membacanya tanpa hambatan geografis. Format digital ini dipilih agar karya benar-benar menjangkau pembaca lintas budaya, sejalan dengan semangat universalitas yang menjadi jiwa buku ini.
Untuk merealisasikan proyek ini, Penerbit CBI menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak penerjemahan, serta pihak BRICS yang di Indonesia dikoordinasikan oleh Sastri Bakry, sastrawan dan tokoh sastra yang menjadi koordinator Indonesia untuk inisiatif BRICS Literary Innovation.
Menanggapi proyek besar ini, Denny JA menegaskan target puluhan bahasa tersebut bukanlah pencapaian utama yang ia kejar, melainkan sebuah jembatan empati. "Tiga puluh lima bahasa bukanlah tujuan akhir. Yang ingin saya sebarkan bukan sekadar puisi, melainkan kemampuan manusia untuk ikut merasakan penderitaan manusia lain," katanya.
(cip)
Lihat Juga :