Menyorot Kebijakan Bahan Bakar B50
Minggu, 12 Juli 2026 - 18:45 WIB
loading...
A
A
A
Kelima, kontradiksi dengan kebijakan lingkungan. Ini isu yang paling mengkhawatirkan, jika produksi CPO digenjot untuk energi, maka ujung-ujungnya membuka lahan baru untuk sawit, alias terjadi deforestasi (penggundulan hutan). Jika fenomena ini yang terjadi maka kerugian ekonomi, sosial dan ekologis menjadi lebih besar. Tujuan mengusung bahan bakar B50 untuk mengurangi emisi gas buang, pada akhirnya justru sebaliknya, produksi emisi gas buang Indonesia akan menyundul langit, tersebab deforestasi makin meluas. Upaya mewujudkan transisi energi untuk mencapai net zero emission hanyalah omon-omon.
Selain itu, pemerintah jangan hanya terfokus pada bahan bakar B50. Kebijakan kendaraan listrik (EV) yang sekarang sudah bertumbuh, harus terus dikembangkan, sebab kendaraan listrik justru bisa lebih efektif jika tujuannya untuk mengurangi emisi gas buang.
Spirit pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi, apalagi berbasis non fosil, tentu menjadi spirit kebijakan yang positif dan relevan dengan aspek ekologis. Namun, spirit kebijakan yang bagus ini di sisi lain jangan sampai mengorbankan aspek aspek yang lainnya, khususnya aspek lingkungan itu sendiri. Jangan sampai bahan bakar energi B50 mengorbankan lingkungan dengan melakukan deforestasi secara masif dan terstruktur alias "ugal-ugalan". B50 harus mengoptimalkan/peremajaan lahan sawit yang sudah ada, agar lebih produktif; tanpa melakukan aksi penggundulan hutan.
(zik)
Lihat Juga :