Menyambut Modi, Mengingat Janji Pluralisme India

Sabtu, 04 Juli 2026 - 10:53 WIB
loading...
A A A
Situasi ini menghadirkan sebuah paradoks. Di satu sisi, India dipuji sebagai demokrasi terbesar di dunia. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana demokrasi tersebut tetap mampu menjamin rasa aman dan kesetaraan bagi seluruh kelompok masyarakatnya. Pertanyaan ini penting karena kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh pemilu yang rutin diselenggarakan atau pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Demokrasi juga diukur dari kemampuannya melindungi mereka yang berada di luar lingkaran mayoritas.

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan jika dilihat dari sejarah kelahiran India modern. Ketika India memperoleh kemerdekaan pada 1947, negara itu lahir di tengah trauma besar akibat pemisahan dengan Pakistan. Kekerasan komunal yang menyertai proses tersebut menelan korban dalam jumlah yang sangat besar dan meninggalkan luka mendalam dalam hubungan antar-komunitas.

Dalam situasi yang demikian sulit, para pendiri India menghadapi pilihan bersejarah. Mereka dapat membangun negara yang didefinisikan terutama oleh identitas agama mayoritas. Namun pilihan yang diambil justru berbeda. India dibangun sebagai republik yang memberikan ruang bagi seluruh warga negara, tanpa memandang agama yang mereka anut. Pilihan inilah yang kemudian menjadi salah satu sumber legitimasi moral India di mata dunia.

Warisan tersebut bukan hanya penting bagi India, tetapi juga bagi dunia yang terus menghadapi tantangan keberagaman. India menunjukkan bahwa masyarakat yang terdiri atas ratusan bahasa, berbagai etnis, dan beragam agama tetap dapat dipersatukan dalam satu kerangka kebangsaan. Karena itu, ketika muncul kekhawatiran mengenai meningkatnya sentimen anti-Muslim atau menyempitnya ruang pluralisme, yang dipertaruhkan bukan hanya hubungan antara negara dan komunitas Muslim. Yang dipertaruhkan adalah salah satu janji kebangsaan India itu sendiri.

Sejarah di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa tantangan terhadap pluralisme sering kali muncul bukan ketika negara sedang lemah, melainkan justru ketika negara sedang berada dalam posisi yang kuat. Kemajuan ekonomi, stabilitas politik, dan dukungan mayoritas kadang-kadang menciptakan keyakinan bahwa identitas dominan dapat menjadi dasar yang cukup untuk menopang kehidupan berbangsa. Namun pengalaman banyak negara memperlihatkan bahwa keberhasilan jangka panjang justru bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara aspirasi mayoritas dan perlindungan terhadap kelompok minoritas.

Pengalaman Eropa Timur, Balkan, hingga berbagai konflik sektarian di Timur Tengah menunjukkan bahwa polarisasi identitas sering kali dimulai dari proses yang tampak sederhana: normalisasi stereotip, meningkatnya ujaran kebencian, atau berkembangnya pandangan bahwa sebagian warga negara kurang berhak menikmati ruang publik yang sama. Ketika gejala-gejala tersebut dibiarkan, kohesi sosial perlahan mengalami erosi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PM India Akan ke Indonesia...
PM India Akan ke Indonesia Bertemu Prabowo, Bahas Ketahanan Pangan hingga Pertahanan
Retorika Visual Diplomasi...
Retorika Visual Diplomasi Prabowo dan Lukashenko
Ubedilah Badrun: Kritik...
Ubedilah Badrun: Kritik Rocky Gerung pada Tiyo Ardianto Itu Keliru
Presiden Lukashenko...
Presiden Lukashenko Sebut Indonesia Mitra Penting Belarus di Asia Tenggara
Balas Kunjungan Presiden...
Balas Kunjungan Presiden Lukashenko, Prabowo Bakal ke Belarus
Prabowo: Indonesia-Belarus...
Prabowo: Indonesia-Belarus Sepakat Mendukung Perdamaian dan Stabilitas Dunia
Asosiasi Kepala Desa...
Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia di NTB Dukung MBG Diperluas hingga Pelosok
Diduga Bantu Pemberontak...
Diduga Bantu Pemberontak Myanmar, India Tangkap Tentara Bayaran Ukraina dan AS
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Rekomendasi
Kolombia Singkirkan...
Kolombia Singkirkan Ghana, Gol Arias Antar Los Cafeteros ke 16 Besar
Inayah Wahid Debut di...
Inayah Wahid Debut di Film Foufo, Sempat Mengira Judulnya Fufufafa
Emak-emak Kian Banyak...
Emak-emak Kian Banyak Bergabung, DPD Partai Perindo Kota Palu Perkuat Struktur hingga Akar Rumput
Berita Terkini
PDIP Balas PSI yang...
PDIP Balas PSI yang Ingin Jadikan Jateng 'Kandang Gajah': Jangan Terlalu Sombong!
KPK Ungkap Asal Usul...
KPK Ungkap Asal Usul Uang Dalam Amplop yang Ditinggal Bupati Kuansing saat Audiensi ke Menhut
Tekan Angka Kematian...
Tekan Angka Kematian Jemaah Haji, Menhaj: Istithaah Kesehatan Jadi PR
Menhut Akui Terima Amplop...
Menhut Akui Terima Amplop dari Bupati Kuansing, KPK: Mestinya Laporkan Dugaan Gratifikas
Penasihat Ahli Kapolri:...
Penasihat Ahli Kapolri: Irjen Pol Pipit Rismanto Segera Dilantik Jadi Kapolda Jabar
Sempat Diragukan, Menhaj...
Sempat Diragukan, Menhaj Klaim Haji 2026 Jadi Salah Satu Penyelenggaraan Terbaik dalam Sejarah
Infografis
Perbandingan Jumlah...
Perbandingan Jumlah Muslim antara India, Pakistan, dan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved