Tinjau Teknologi Tanam PM-AAS, Presiden Prabowo Sebut Inovasi Pertanian Revolusioner
Jum'at, 26 Juni 2026 - 13:23 WIB
loading...
A
A
A
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa melalui pendekatan tersebut, produktivitas padi mampu meningkat signifikan hingga mencapai 12,4 ton per hektare, jauh di atas rata-rata produktivitas nasional yang saat ini berada pada kisaran 5,5 ton per hektare.
"Ini adalah penemuan baru dan metode baru yang kami kembangkan dengan memadukan teknologi yang kami temukan di Indonesia, China, dan Arkansas, Amerika Serikat. Alhamdulillah, hasilnya bisa mencapai 12,4 ton per hektare, sementara rata-rata nasional sekitar 5,5 ton per hektare. Kalau kita bisa konsisten di atas 10 ton per hektare saja, itu sudah luar biasa untuk masa depan pertanian Indonesia," jelas Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, peningkatan produktivitas tersebut merupakan bagian dari strategi intensifikasi yang saat ini dijalankan pemerintah secara bersamaan dengan program ekstensifikasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Banyak yang belum memahami bahwa saat ini kita menjalankan intensifikasi dan ekstensifikasi sekaligus. Intensifikasi dilakukan melalui penggunaan benih unggul, pola tanam yang lebih baik, perbaikan irigasi, mekanisasi pertanian, hingga peningkatan indeks pertanaman di lahan rawa dari satu kali tanam menjadi tiga kali tanam dalam setahun," ujarnya.
Mentan Amran menambahkan, keberhasilan peningkatan produktivitas juga ditopang oleh kebijakan pemerintah dalam memastikan ketersediaan sarana produksi pertanian bagi petani, termasuk pupuk bersubsidi yang kini semakin mudah diakses.
"Ini merupakan akumulasi dari penerapan teknologi modern dan perlakuan budidaya yang modern. Ditambah lagi pupuk tersedia dengan baik dan harganya turun sekitar 20 persen berkat kebijakan Bapak Presiden Prabowo. Kondisi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dan menjadi modal besar untuk meningkatkan produksi pangan nasional," ungkapnya.
"Ini adalah penemuan baru dan metode baru yang kami kembangkan dengan memadukan teknologi yang kami temukan di Indonesia, China, dan Arkansas, Amerika Serikat. Alhamdulillah, hasilnya bisa mencapai 12,4 ton per hektare, sementara rata-rata nasional sekitar 5,5 ton per hektare. Kalau kita bisa konsisten di atas 10 ton per hektare saja, itu sudah luar biasa untuk masa depan pertanian Indonesia," jelas Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, peningkatan produktivitas tersebut merupakan bagian dari strategi intensifikasi yang saat ini dijalankan pemerintah secara bersamaan dengan program ekstensifikasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Banyak yang belum memahami bahwa saat ini kita menjalankan intensifikasi dan ekstensifikasi sekaligus. Intensifikasi dilakukan melalui penggunaan benih unggul, pola tanam yang lebih baik, perbaikan irigasi, mekanisasi pertanian, hingga peningkatan indeks pertanaman di lahan rawa dari satu kali tanam menjadi tiga kali tanam dalam setahun," ujarnya.
Mentan Amran menambahkan, keberhasilan peningkatan produktivitas juga ditopang oleh kebijakan pemerintah dalam memastikan ketersediaan sarana produksi pertanian bagi petani, termasuk pupuk bersubsidi yang kini semakin mudah diakses.
"Ini merupakan akumulasi dari penerapan teknologi modern dan perlakuan budidaya yang modern. Ditambah lagi pupuk tersedia dengan baik dan harganya turun sekitar 20 persen berkat kebijakan Bapak Presiden Prabowo. Kondisi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dan menjadi modal besar untuk meningkatkan produksi pangan nasional," ungkapnya.
(abd)
Lihat Juga :