Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan
Minggu, 21 Juni 2026 - 16:46 WIB
loading...
A
A
A
Hitung-hitungan di atas baru untuk gula konsumsi. Belum menimbang gula industri, yang kebutuhannya kira-kira sama dengan gula konsumsi. Sampai saat ini gula rafinasi untuk industri makanan, minuman, dan farmasi seluruh bahan bakunya berasal dari impor. Berupa gula mentah (raw sugar). Kalau gula konsumsi saja masih belum cukup menutup kebutuhan, target swasembada gula industri pada tahun 2030, seperti di Perpres 40/2023, sepertinya sulit dicapai, kalau tidak hendak dikatakan mustahil.
Selama ini pemerintah mengejar target swasembada gula berbasis tebu. At all cost. Padahal, ada sejumlah sumber gula non-tebu yang tidak kalah potensial. Ada stevia, nira dari aren, nira kelapa atau kelapa sawit. Boleh dibilang, potensi ini belum digarap. Dari semua itu, yang potensial adalah nira kelapa sawit. Luas kebun kelapa sawit saat ini sekitar 16,8 juta ha. Mengikuti norma pengelolaan perkebunan sawit yang baik dan benar, perlu 4% replanting kebun sawit tiap tahun atau 672 ribu ha.
Pengalaman petani sawit di berbagai daerah menunjukkan, pohon kelapa sawit yang sudah ditebang dapat menghasilkan nira selama 30-40 hari dengan produksi 5-7 liter per hari per pohon. Dengan tingkat rendemen 20-30%, apabila nira diolah menjadi gula merah, dapat dihasilkan gula merah sawit 1,2–1,75 kg/pohon/hari selama fase produksi nira. Jika rerata populasi pohon sawit 133 per ha, berarti dapat diperoleh sekitar 6,86 ton gula merah dari sawit per ha selama periode replanting. Dengan replanting 672 ribu ha/tahun berarti ada potensi gula merah dari sawit 4,6 juta ton/tahun.
Selain gula merah padat atau bubuk, gula bisa dalam bentuk cair. Di level riset, produksi gula merah sawit baik padat maupun cair sudah dilakukan. Kesimpulannya, usaha ini layak dilakukan. Nilai gizi jumlah sajian per 100 gr dari gula cair sawit juga sudah dipetakan: energi total 232,86 kkal, lemak total 0,02 g, protein 8,65 g, karbohidrat total 49,52 g, gula 49,52 g, dan garam (Natrium) 0 mg. Indeks glikemik gula cair 49,6, lebih rendah dari gula pasir berbasis tebu. Ini berarti gula cair bisa jadi alternatif pengganti gula buat penderita diabetes dan yang obesitas.
Ada sejumlah keunggulan gula merah (padat atau cair) dari nira wasit. Pertama, gula merah sawit merupakan gula fruktosa, bukan gula sukrosa seperti gula dari tebu. Dari aspek kesehatan, salah satunya indeks glikemik, gula merah sawit lebih sehat ketimbang gula berbasis tebu. Di dunia, gula fruktosa bukan hal baru. Amerika Serikat sejak 1970-an mengembangkan sirup fruktosa dari jagung (high fructose corn syrup). Di Indonesia, konsumsi gula merah (padat atau cair) juga bukan hal baru.
Selama ini pemerintah mengejar target swasembada gula berbasis tebu. At all cost. Padahal, ada sejumlah sumber gula non-tebu yang tidak kalah potensial. Ada stevia, nira dari aren, nira kelapa atau kelapa sawit. Boleh dibilang, potensi ini belum digarap. Dari semua itu, yang potensial adalah nira kelapa sawit. Luas kebun kelapa sawit saat ini sekitar 16,8 juta ha. Mengikuti norma pengelolaan perkebunan sawit yang baik dan benar, perlu 4% replanting kebun sawit tiap tahun atau 672 ribu ha.
Pengalaman petani sawit di berbagai daerah menunjukkan, pohon kelapa sawit yang sudah ditebang dapat menghasilkan nira selama 30-40 hari dengan produksi 5-7 liter per hari per pohon. Dengan tingkat rendemen 20-30%, apabila nira diolah menjadi gula merah, dapat dihasilkan gula merah sawit 1,2–1,75 kg/pohon/hari selama fase produksi nira. Jika rerata populasi pohon sawit 133 per ha, berarti dapat diperoleh sekitar 6,86 ton gula merah dari sawit per ha selama periode replanting. Dengan replanting 672 ribu ha/tahun berarti ada potensi gula merah dari sawit 4,6 juta ton/tahun.
Selain gula merah padat atau bubuk, gula bisa dalam bentuk cair. Di level riset, produksi gula merah sawit baik padat maupun cair sudah dilakukan. Kesimpulannya, usaha ini layak dilakukan. Nilai gizi jumlah sajian per 100 gr dari gula cair sawit juga sudah dipetakan: energi total 232,86 kkal, lemak total 0,02 g, protein 8,65 g, karbohidrat total 49,52 g, gula 49,52 g, dan garam (Natrium) 0 mg. Indeks glikemik gula cair 49,6, lebih rendah dari gula pasir berbasis tebu. Ini berarti gula cair bisa jadi alternatif pengganti gula buat penderita diabetes dan yang obesitas.
Ada sejumlah keunggulan gula merah (padat atau cair) dari nira wasit. Pertama, gula merah sawit merupakan gula fruktosa, bukan gula sukrosa seperti gula dari tebu. Dari aspek kesehatan, salah satunya indeks glikemik, gula merah sawit lebih sehat ketimbang gula berbasis tebu. Di dunia, gula fruktosa bukan hal baru. Amerika Serikat sejak 1970-an mengembangkan sirup fruktosa dari jagung (high fructose corn syrup). Di Indonesia, konsumsi gula merah (padat atau cair) juga bukan hal baru.
Lihat Juga :