Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan
Minggu, 21 Juni 2026 - 16:46 WIB
loading...
A
A
A
Dari sisi ketersediaan, gula merah sawit bisa tersedia sepanjang tahun selama proses peremajaan sawit tidak ada kendala. Sebaliknya, produksi gula berbasis tebu musiman. Sampai saat ini target peremajaan sawit rakyat (PSR) masih terbentur status lahan. Tanpa upaya serius mengurai kendala PSR, program ini akan membentur tembok. Secara ekonomi gula merah sawit lebih terjangkau. Secara spasial, karena sawit tersebar di 250 kabupaten di 26 provinsi, gula merah sawit secara alami akan terdistribusi luas.
Dengan kondisi seperti ini, produksi dan konsumsi gula merah sawit akan berbasiskan lokalitas. Implikasinya, produksi gula merah sawit memiliki jejak karbon (carbon footprint) rendah. Ini amat bermakna menekan emisi gas rumah kaca. Selain itu, produksi gula merah sawit dengan memanfaatkan pohon sawit tak produktif dapat menekan hama kumbang tanduk (oryctes), musuh utama tanaman sawit, selain mempercepat pengolahan batang kelapa sawit dan mengurangi biaya replanting.
Sudah barang tentu, merealisasikan potensi menjadi kenyataan tidak bisa seperti tukang sulap: sim salabim dan jadi. Perlu kebijakan yang memungkinkan potensi menjadi sesuatu yang berwujud. Dimulai dengan analisis mendalam: memetakan potensi, peluang, kendala, dan hambatan. Kementerian Peridustrian pernah meluncurkan proyek gula sawit sebagai bagian hilirisasi. Ini bisa dimaknai sebagai keberanian memulai dan menggali sesuatu yang baru. Karena potensi ada di depan mata. Tanpa perlu menambah lahan dan menanam. Bukan mustahil swasembada gula lebih cepat dicapai.
Dengan kondisi seperti ini, produksi dan konsumsi gula merah sawit akan berbasiskan lokalitas. Implikasinya, produksi gula merah sawit memiliki jejak karbon (carbon footprint) rendah. Ini amat bermakna menekan emisi gas rumah kaca. Selain itu, produksi gula merah sawit dengan memanfaatkan pohon sawit tak produktif dapat menekan hama kumbang tanduk (oryctes), musuh utama tanaman sawit, selain mempercepat pengolahan batang kelapa sawit dan mengurangi biaya replanting.
Sudah barang tentu, merealisasikan potensi menjadi kenyataan tidak bisa seperti tukang sulap: sim salabim dan jadi. Perlu kebijakan yang memungkinkan potensi menjadi sesuatu yang berwujud. Dimulai dengan analisis mendalam: memetakan potensi, peluang, kendala, dan hambatan. Kementerian Peridustrian pernah meluncurkan proyek gula sawit sebagai bagian hilirisasi. Ini bisa dimaknai sebagai keberanian memulai dan menggali sesuatu yang baru. Karena potensi ada di depan mata. Tanpa perlu menambah lahan dan menanam. Bukan mustahil swasembada gula lebih cepat dicapai.
(wur)
Lihat Juga :