Indonesia Emas 2045 Taruhannya: Ketika Pundak Gen Z Rapuh Tanpa Jangkar Moral
Kamis, 18 Juni 2026 - 16:33 WIB
loading...
A
A
A
Tokoh-tokoh agama sebagai pengelola rumah ibadah harus mampu mengemas internalisasi nilai ketakwaan secara dialogis, kontekstif, bersahabat, bukan doktrinal yang kaku. Relevan dengan dilema kehidupan modern remaja, sehingga menjadi imunitas internal. Ketika nilai ketakwaan dan toleransi telah mengakar kuat di dalam jiwa pemuda, mereka akan memiliki benteng internal yang kokoh untuk menolak paparan radikalisme maupun paham hedonisme ekstrem.
Terakhir yang kelima adalah ekosistem ruang digital: garis depan literasi berbasis moral. Ruang digital, garis depan literasi baru dengan tingkat penetrasi internet Indonesia yang masif, ruang digital kini menjelma menjadi ruang kelas kedua bagi generasi muda. Di sinilah pertempuran karakter yang sesungguhnya terjadi. Strategi pengentasan pada ekosistem ini wajib menyentuh aspek literasi digital yang berbasis moral (netiket).
Selain itu, regulasi digital yang tegas dan sistem moderasi konten yang proaktif dari regulator menjadi harga mati untuk melindungi anak-anak dari paparan judi online, pornografi, dan ujaran kebencian. Masyarakat dan kreator konten harus berkolaborasi secara masif untuk membanjiri lini masa dengan konten-konten edukatif demi mengimbangi banjir narasi toksik di ruang siber. Kita membutuhkan gerakan bersama untuk membanjiri lini masa dengan konten-konten edukatif dan inspiratif guna mengimbangi narasi toksik.
Menyelamatkan karakter generasi muda tidak bisa diselesaikan dengan jargon politik atau sekadar statistik kemajuan di atas kertas. Krisis ini menuntut kerja kolaboratif yang tersinkronisasi antara orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama di rumah ibadah, warga di lingkungan tetangga, hingga para kreator di ruang siber.
Hanya dengan orkestrasi yang kokoh antara keteladanan orang tua di rumah, ketegasan nilai di sekolah, kepedulian warga di masyarakat, jangkar moral di rumah ibadah, serta regulasi inovatif pemerintah di ruang digital, kita dapat memastikan bahwa jutaan pemuda yang kita miliki hari ini akan tumbuh menjadi tulang punggung bangsa yang kokoh, berintegritas, dan membawa Indonesia memimpin dunia dengan martabat yang luhur. Jutaan pemuda Indonesia akan tumbuh menjadi generasi emas yang cerdas sekaligus mulia budi pekertinya.
Penulis: Muktiani Asrie Suryaningrum, S.Sos., MPH
Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (Penata KKB) Ahli Madya,
Pengurus Pusat Koalissi Kependudukan Indonesia (KKI) dan,
Pengurus Pusat Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI)
Terakhir yang kelima adalah ekosistem ruang digital: garis depan literasi berbasis moral. Ruang digital, garis depan literasi baru dengan tingkat penetrasi internet Indonesia yang masif, ruang digital kini menjelma menjadi ruang kelas kedua bagi generasi muda. Di sinilah pertempuran karakter yang sesungguhnya terjadi. Strategi pengentasan pada ekosistem ini wajib menyentuh aspek literasi digital yang berbasis moral (netiket).
Selain itu, regulasi digital yang tegas dan sistem moderasi konten yang proaktif dari regulator menjadi harga mati untuk melindungi anak-anak dari paparan judi online, pornografi, dan ujaran kebencian. Masyarakat dan kreator konten harus berkolaborasi secara masif untuk membanjiri lini masa dengan konten-konten edukatif demi mengimbangi banjir narasi toksik di ruang siber. Kita membutuhkan gerakan bersama untuk membanjiri lini masa dengan konten-konten edukatif dan inspiratif guna mengimbangi narasi toksik.
Menyelamatkan karakter generasi muda tidak bisa diselesaikan dengan jargon politik atau sekadar statistik kemajuan di atas kertas. Krisis ini menuntut kerja kolaboratif yang tersinkronisasi antara orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama di rumah ibadah, warga di lingkungan tetangga, hingga para kreator di ruang siber.
Hanya dengan orkestrasi yang kokoh antara keteladanan orang tua di rumah, ketegasan nilai di sekolah, kepedulian warga di masyarakat, jangkar moral di rumah ibadah, serta regulasi inovatif pemerintah di ruang digital, kita dapat memastikan bahwa jutaan pemuda yang kita miliki hari ini akan tumbuh menjadi tulang punggung bangsa yang kokoh, berintegritas, dan membawa Indonesia memimpin dunia dengan martabat yang luhur. Jutaan pemuda Indonesia akan tumbuh menjadi generasi emas yang cerdas sekaligus mulia budi pekertinya.
Penulis: Muktiani Asrie Suryaningrum, S.Sos., MPH
Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (Penata KKB) Ahli Madya,
Pengurus Pusat Koalissi Kependudukan Indonesia (KKI) dan,
Pengurus Pusat Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI)
(nnz)
Lihat Juga :