Jelang Muktamar ke-35, Calon Ketum PBNU Gus Salam Silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-NTT
Kamis, 11 Juni 2026 - 22:54 WIB
loading...
Calon Ketua Umum PBNU KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam menggelar silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Istimewa
A
A
A
NTT - Calon Ketua Umum PBNU KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam menggelar silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam kunjungannya tersebut, Gus Salam didampingi Masyayikh Pesantren Ploso, Kediri.
Silaturahmi berlangsung di Hotel Neo Aston Kupang, digelar pada Minggu, 7 Juni 2026. "Menjadi pengurus NU di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan pilihan. Tapi, panggilan suci dari nurani terdalam bagi mereka yang ditempa oleh alam," ujar Gus Salam, Kamis (11/6/2026).
Dia mengatakan, NU di ujung timur Indonesia dituntut tumbuh seperti pohon kelor. Akarnya harus lebih dalam, batangnya lebih kuat, karena angin dan tantangannya jauh lebih keras.
Baca juga: Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Menurut dia, berjam’iyyah NU di wilayah berbatasan dengan Timor Leste itu, tidak pernah mudah. Tiga tantangan utama yakni geografis, perbatasan, dan ideologis selalu mengadang.
Di aberpendapat, untuk mencapai pusat pemerintahan provinsi yakni, Kota Kupang, harus ditempuh lebih dari sehari. Itu pun, tidak setiap saat ada transportasi, kadang tiga hari antri untuk bisa kembali.
“Kami hormat dan ta’dhim kepada semua pengurus cabang di NTT yang hadir. Kami ingin mendengar dari mereka tentang apa pun terkait jam’iyyah Nahdlatul Ulama di lingkungan mereka. Terutama harapan mereka ke depan untuk meningkatkan peran keagamaan dan organisasi, di tengah tantangan dan peluang yang ada,” ucapnya.
Dalam paparannya, Gus Salam menyebut pesantren sebagai strategi membendung paparan dan pengaruh ideologis sekaligus inkubasi penggerak kemashalatan. Berabad-abad lamanya para pemuka, ulama dan auliya, menjalankannya. Dan, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan untuk menyatukan barisan ulama pesantren.
“Di dalam pesantren dibangun ketahanan nasional; ditanamkan kepribadian luhur, menjaga kesatuan, cinta masyarakat, agama, dan bangsa serta dari pesantren pula tumbuh para penggerak kemashlahatan umat,” ungkapnya.
Untuk bekal sosial, kata Gus Salam, di dalam pesantren juga diajarkan kemandirian. Sehingga, dari pesantren tumbuh pedagang, pengusaha, petani tangguh dan wiraswasta hebat. "Bila ada dari pesantren ada pejabat dan tokoh nasional, itu kemampuan mereka beradaptasi dengan tantangan dan peluang,” katanya.
Sementara itu, beberapa pengurus PCNU menceritakan kondisi faktual, masalah, dan harapan bagi masa depan NU, baik di daerah maupun di PBNU. Menjaga harmoni sosial menjadi tanggung jawab utama NU NTT dengan mengedepankan toleransi.
Karena, warga NU hidup dalam pluralitas, dituntut aktif menerima dan menghargai perbedaan. Selain itu, dibutuhkan kebersamaan dan kesatuan serta rekonsiliasi nasional menjadi kunci. Tidak hanya itu, PBNU ke depan lebih berperan merangkul dengan kepeduliannya mendampingi dan membimbing NU di Indonesia Timur.
“Harapannya, PBNU turut menjaga dan memelihara, merangkul, serta memiliki kepedulian terhadap pengurus NU di luar Jawa, terkhusus di NTT. Kami juga berharap NU di NTT bisa memiliki pondok pesantren, sama seperti di Jawa,” kata Ketua PCNU Kabupaten Alor Kiai Latif Daka.
Senada, pengurus PCNU Malaka Kiai Zainal Muttaqin juga berharap PBNU ke depan bisa mengembalikan muruah NU. “Saya juga berharap, Ketua Umum PBNU ke depan bisa mengembalikan muruah NU, dan merangkul PCNU di luar Jawa, khususnya dalam mengembangkan program di bidang pendidikan,” ungkapnya.
Dalam pertemuan tersebut, PCNU Manggarai Timur memandang Gus Salam memiliki aura para sesepuh. Begitu juga PCNU Kota Kupang yang menilai Gus Salam mampu mengamalkan arahan dan ajaran sesepuh NU dengan baik, terutama dari Mbah Yai Da (KH Nurul Huda Djazuli).
“Paparan Gus Salam tidak menyudutkan siapa pun dan tidak ada black campaign. Saya apresiasi dorongan program pondok pesantren di NTT, dan syukur-syukur ada program pesantren gratis,” kata PCNU Kota Kupang Ustaz Ajiz Anwar.
Menanggapi pendapat, gagasan, dan harapan dari dialog PCNU yang Gus Salam meminta kepada seluruh pengurus, fungsionaris, kader dan warga NU untuk tetap menjaga harmoni di tengah masyarakat, menjadi pelopor toleransi dan terus mengampanyekan pluralisme di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur.
Silaturahmi berlangsung di Hotel Neo Aston Kupang, digelar pada Minggu, 7 Juni 2026. "Menjadi pengurus NU di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan pilihan. Tapi, panggilan suci dari nurani terdalam bagi mereka yang ditempa oleh alam," ujar Gus Salam, Kamis (11/6/2026).
Dia mengatakan, NU di ujung timur Indonesia dituntut tumbuh seperti pohon kelor. Akarnya harus lebih dalam, batangnya lebih kuat, karena angin dan tantangannya jauh lebih keras.
Baca juga: Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Menurut dia, berjam’iyyah NU di wilayah berbatasan dengan Timor Leste itu, tidak pernah mudah. Tiga tantangan utama yakni geografis, perbatasan, dan ideologis selalu mengadang.
Di aberpendapat, untuk mencapai pusat pemerintahan provinsi yakni, Kota Kupang, harus ditempuh lebih dari sehari. Itu pun, tidak setiap saat ada transportasi, kadang tiga hari antri untuk bisa kembali.
“Kami hormat dan ta’dhim kepada semua pengurus cabang di NTT yang hadir. Kami ingin mendengar dari mereka tentang apa pun terkait jam’iyyah Nahdlatul Ulama di lingkungan mereka. Terutama harapan mereka ke depan untuk meningkatkan peran keagamaan dan organisasi, di tengah tantangan dan peluang yang ada,” ucapnya.
Dalam paparannya, Gus Salam menyebut pesantren sebagai strategi membendung paparan dan pengaruh ideologis sekaligus inkubasi penggerak kemashalatan. Berabad-abad lamanya para pemuka, ulama dan auliya, menjalankannya. Dan, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan untuk menyatukan barisan ulama pesantren.
“Di dalam pesantren dibangun ketahanan nasional; ditanamkan kepribadian luhur, menjaga kesatuan, cinta masyarakat, agama, dan bangsa serta dari pesantren pula tumbuh para penggerak kemashlahatan umat,” ungkapnya.
Untuk bekal sosial, kata Gus Salam, di dalam pesantren juga diajarkan kemandirian. Sehingga, dari pesantren tumbuh pedagang, pengusaha, petani tangguh dan wiraswasta hebat. "Bila ada dari pesantren ada pejabat dan tokoh nasional, itu kemampuan mereka beradaptasi dengan tantangan dan peluang,” katanya.
Sementara itu, beberapa pengurus PCNU menceritakan kondisi faktual, masalah, dan harapan bagi masa depan NU, baik di daerah maupun di PBNU. Menjaga harmoni sosial menjadi tanggung jawab utama NU NTT dengan mengedepankan toleransi.
Karena, warga NU hidup dalam pluralitas, dituntut aktif menerima dan menghargai perbedaan. Selain itu, dibutuhkan kebersamaan dan kesatuan serta rekonsiliasi nasional menjadi kunci. Tidak hanya itu, PBNU ke depan lebih berperan merangkul dengan kepeduliannya mendampingi dan membimbing NU di Indonesia Timur.
“Harapannya, PBNU turut menjaga dan memelihara, merangkul, serta memiliki kepedulian terhadap pengurus NU di luar Jawa, terkhusus di NTT. Kami juga berharap NU di NTT bisa memiliki pondok pesantren, sama seperti di Jawa,” kata Ketua PCNU Kabupaten Alor Kiai Latif Daka.
Senada, pengurus PCNU Malaka Kiai Zainal Muttaqin juga berharap PBNU ke depan bisa mengembalikan muruah NU. “Saya juga berharap, Ketua Umum PBNU ke depan bisa mengembalikan muruah NU, dan merangkul PCNU di luar Jawa, khususnya dalam mengembangkan program di bidang pendidikan,” ungkapnya.
Dalam pertemuan tersebut, PCNU Manggarai Timur memandang Gus Salam memiliki aura para sesepuh. Begitu juga PCNU Kota Kupang yang menilai Gus Salam mampu mengamalkan arahan dan ajaran sesepuh NU dengan baik, terutama dari Mbah Yai Da (KH Nurul Huda Djazuli).
“Paparan Gus Salam tidak menyudutkan siapa pun dan tidak ada black campaign. Saya apresiasi dorongan program pondok pesantren di NTT, dan syukur-syukur ada program pesantren gratis,” kata PCNU Kota Kupang Ustaz Ajiz Anwar.
Menanggapi pendapat, gagasan, dan harapan dari dialog PCNU yang Gus Salam meminta kepada seluruh pengurus, fungsionaris, kader dan warga NU untuk tetap menjaga harmoni di tengah masyarakat, menjadi pelopor toleransi dan terus mengampanyekan pluralisme di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur.
(rca)
Lihat Juga :