Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel dan Lingkungan
Rabu, 03 Juni 2026 - 16:30 WIB
loading...
A
A
A
Dari sisi konsumsi, para jemaah merasa terpenuhi dengan baik, karena sehari mendapatkan 3x makan berupa fresh meal dengan menu ala nusantara. Dari sisi transportasi, mereka merasa tidak kesulitan karena disiapkan bus selawat yang dapat antar jemput jemaah dari berbagai sektor menuju masajaidil haram. Adapun akomodasi memang beragam, namun dengan plus minus di masing-masing sektor.
Terdapat hotel yang jaraknya kurang lebih 12 km namun akses ke Masjidil Haram dapat ditempuh lebih cepat sekitar 20 menit daripada hotel yang jaraknya lebih dekat namun jarak tempuhnya lebih lama, karena harus berputar arah jika menggunakan bus selawat. Begitu juga dari sisi layanan kesehatan, masing-masing kloter terdapat Nakes (tenaga kesehatan) 1 orang dokter dan 1 perawat. Para Nakes Juga dinilai fast respon dalam memberikan layanan. Selain Nakes di setiap kloter, terdapat klinik satelit di setiap sektor, dan ada KKHI (klinik Kesehatan Haji Indonesia), namun jumlah Nakes ini dirasa kurang karena jemaah haji yang memiliki risiko tinggi sebesar 84.1%, dan jumlah lansia sebesar 21,9%. Selain itu KKHI tidak melayani rawat inap karena sesuai peraturan pemerintah Arab Saudi batas waktu perawatan KKHI hanya 4 jam. Jika ada jemaah yang butuh waktu perawatan lebih 4 jam maka harus dirujuk ke rumah sakit yang sudah ditunjuk untuk melakukan kerjasama, yaitu rumah sakit internasional yaitu rumah sakit Saudi Germant Hospital. Namun demikian, kebanyakan jemaah enggan dirujuk ke rumah sakit karena adanya larangan didampingi keluarga.
Terdapat dua syarikat yang menyediakan layanan di ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, Mina), yaitu Syarikat Rakeen dan Duyuful Bait. Informasi dari para jemaah dapat diketahui bahwa layanan transportasi sangat baik walau ada keterlambatan kedatangan armada menuju ARMUZNA di beberapa sektor. Hal ini disebabkan adanya penutupan jalan dan juga kemacetan di berbagai rute. Adapun layanan konsumsi di ARMUZNA berupa RTE (Ready to Eat). Hal ini sebagai mitigasi keterlambatan suplay makanan. Karena RTE dapat dikirim sebelum pelaksanaan ARMUZNA. Selain RTE, juga disiapkan makanan ringan seperti mi siap saji, buah, dan minuman. Para jemaah merasa ketersediaan makanan sangat berlebih, bahkan banyak dibawa pulang kembali ke hotel.
Dari sisi akomodasi, tenda di Arafah sudah cukup memadai, begitu juga di Mina. Namun demikian, yang dikeluhkan jemaah adalah antrean toilet yang cukup panjang, khususnya di bagian jemaah perempuan. Mengapa hal ini terjadi? Karena jemaah perempuan lebih banyak daripada jemaah laki-laki, yaitu sejumlah 55.8% dari jumlah jemaah kurang lebih 203 ribu jemaah. Selain itu jemaah perempuan memerlukan waktu yang lebih lama dari laki-laki ketika menggunakan toilet, juga intensitas ke toilet lebih sering, khususnya perempuan yang sedang mengalami siklus haid yang tidak normal.
Dari catatan penyelenggaraan haji tahun ini, tata kelola sudah termanage dengan baik dengan melakukan mitigasi risiko. Seperti pengangkutan jemaah ke ARMUZNA sudah dimitigasi keterlambatan, dengan membagi 3 gelombang, yaitu pemberangkatan di pagi, siang, dan sore hari, namun masih ada beberapa keterlambatan armada di beberapa sektor dikarenakan kemacetan yang terjadi.
Oleh sebab itu, perlu penekanan kepada syarikat penyedia armada transportasi untuk datang lebih awal sebelum jam keberangkatan yang telah ditentukan.
Selain masalah keterlambatan transportasi, akomodasi di ARMUZNA perlu penambahan jumlah toilet bagi perempuan khususnya, juga toilet khusus bagi penyintas difabel. Begitu juga di Jamarat, jemaah sangat sulit menemukan toilet.
Jika diijinkan pemerintah Saudi, dapat disiapkan toilet portable khusus jamah haji Indonesia. Selain itu batas privasi tenda antara lak-laki dan perempuan juga sangat diperlukan. Begitu juga dengan bimbingan ibadah bagi perempuan, sangat diperlukan sosialisasi baik berupa buku saku atau pengarahan lebih inten tentang fiqih perempuan dan lansia, juga fiqih petugas.
Terdapat hotel yang jaraknya kurang lebih 12 km namun akses ke Masjidil Haram dapat ditempuh lebih cepat sekitar 20 menit daripada hotel yang jaraknya lebih dekat namun jarak tempuhnya lebih lama, karena harus berputar arah jika menggunakan bus selawat. Begitu juga dari sisi layanan kesehatan, masing-masing kloter terdapat Nakes (tenaga kesehatan) 1 orang dokter dan 1 perawat. Para Nakes Juga dinilai fast respon dalam memberikan layanan. Selain Nakes di setiap kloter, terdapat klinik satelit di setiap sektor, dan ada KKHI (klinik Kesehatan Haji Indonesia), namun jumlah Nakes ini dirasa kurang karena jemaah haji yang memiliki risiko tinggi sebesar 84.1%, dan jumlah lansia sebesar 21,9%. Selain itu KKHI tidak melayani rawat inap karena sesuai peraturan pemerintah Arab Saudi batas waktu perawatan KKHI hanya 4 jam. Jika ada jemaah yang butuh waktu perawatan lebih 4 jam maka harus dirujuk ke rumah sakit yang sudah ditunjuk untuk melakukan kerjasama, yaitu rumah sakit internasional yaitu rumah sakit Saudi Germant Hospital. Namun demikian, kebanyakan jemaah enggan dirujuk ke rumah sakit karena adanya larangan didampingi keluarga.
LAYANAN ARMUZNA
Terdapat dua syarikat yang menyediakan layanan di ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, Mina), yaitu Syarikat Rakeen dan Duyuful Bait. Informasi dari para jemaah dapat diketahui bahwa layanan transportasi sangat baik walau ada keterlambatan kedatangan armada menuju ARMUZNA di beberapa sektor. Hal ini disebabkan adanya penutupan jalan dan juga kemacetan di berbagai rute. Adapun layanan konsumsi di ARMUZNA berupa RTE (Ready to Eat). Hal ini sebagai mitigasi keterlambatan suplay makanan. Karena RTE dapat dikirim sebelum pelaksanaan ARMUZNA. Selain RTE, juga disiapkan makanan ringan seperti mi siap saji, buah, dan minuman. Para jemaah merasa ketersediaan makanan sangat berlebih, bahkan banyak dibawa pulang kembali ke hotel.
Dari sisi akomodasi, tenda di Arafah sudah cukup memadai, begitu juga di Mina. Namun demikian, yang dikeluhkan jemaah adalah antrean toilet yang cukup panjang, khususnya di bagian jemaah perempuan. Mengapa hal ini terjadi? Karena jemaah perempuan lebih banyak daripada jemaah laki-laki, yaitu sejumlah 55.8% dari jumlah jemaah kurang lebih 203 ribu jemaah. Selain itu jemaah perempuan memerlukan waktu yang lebih lama dari laki-laki ketika menggunakan toilet, juga intensitas ke toilet lebih sering, khususnya perempuan yang sedang mengalami siklus haid yang tidak normal.
TRANSFORMASI LAYANAN RAMAH PEREMPUAN, DIFABEL, LANSIA
Dari catatan penyelenggaraan haji tahun ini, tata kelola sudah termanage dengan baik dengan melakukan mitigasi risiko. Seperti pengangkutan jemaah ke ARMUZNA sudah dimitigasi keterlambatan, dengan membagi 3 gelombang, yaitu pemberangkatan di pagi, siang, dan sore hari, namun masih ada beberapa keterlambatan armada di beberapa sektor dikarenakan kemacetan yang terjadi.
Oleh sebab itu, perlu penekanan kepada syarikat penyedia armada transportasi untuk datang lebih awal sebelum jam keberangkatan yang telah ditentukan.
Selain masalah keterlambatan transportasi, akomodasi di ARMUZNA perlu penambahan jumlah toilet bagi perempuan khususnya, juga toilet khusus bagi penyintas difabel. Begitu juga di Jamarat, jemaah sangat sulit menemukan toilet.
Jika diijinkan pemerintah Saudi, dapat disiapkan toilet portable khusus jamah haji Indonesia. Selain itu batas privasi tenda antara lak-laki dan perempuan juga sangat diperlukan. Begitu juga dengan bimbingan ibadah bagi perempuan, sangat diperlukan sosialisasi baik berupa buku saku atau pengarahan lebih inten tentang fiqih perempuan dan lansia, juga fiqih petugas.
Lihat Juga :