Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel dan Lingkungan
Rabu, 03 Juni 2026 - 16:30 WIB
loading...
A
A
A
Yang tidak kalah penting adalah menjaga kelestarian alam dan lingkungan yaitu perubahan iklim dengan mengurangi sampah plastik. Setiap jemaah mendapatkan tumbler air minum ketika di ARMUZNA, namun tidak tersedia air minum portable atau dispenser, sehingga jemaah masih mengkonsumsi air minum dalam kemasan botol kecil 220ml. Sehingga 1 jemaah rata-rata butuh 10 botol sehari, jika dikalikan 203 ribu jemaah dari Indonesia saja maka membutuhkan 2 juta botol lebih dalam sehari. Bagaimana jika seluruh dunia? Maka sampah plastik akan sangat tinggi. Maka untuk mengurangi sampah plastik sebaiknya, di hotel dan di ARMUZNA diperlukan dispenser atau air minum portable.
Layanan berbasis digital juga sudah ada, namun mayoritas jemaah belum memiliki literasi digital yang baik atau tidak memperhatikan fasilitas digital yang tersedia, seperti berkode yang sudah ada di gelang masing-masing jemaah untuk memitigasi tersesat di jalan. Juga terdapat aplikasi kawal haji agar jemaah dapat menyampaikan laporan maupun kendala layanan, namun tidak banyak yang menyampaikan aduan. Hal ini dimungkinkan karena jemaah haji berlatar belakang pendidikan SD-SMA, yaitu sekitar 64.2%, atau karena kurang sosialisasi secara masif. Karena itu perlu sosialisasi tertulis tentang layanan digital ini.
Dari sisi pelayanan kesehatan, perlu penambahan jumlah tenaga kesehatan karena menjelang pelaksanaan hingga pasca ARMUZNA banyak jemaah yang membutuhkan layanan medis. Selain itu, diperlukan juga layanan terapi psikolog untuk memitigasi kondisi jemaah yang mengalami kelelahan mental, disorientasi, hingga demensia, terutama pada jemaah lansia. Oleh sebab itu, petugas tidak hanya dari PPIH Arab Saudi, tetapi juga petugas kloter dan daerah harus benar-benar dilatih agar siap melayani dan mendampingi jemaah lansia. Di sisi lain, terdapat masukan terkait penertiban dan pengorganisasian jasa kursi roda bagi lansia, khususnya pasca ARMUZNA saat pelaksanaan tawaf ifadah dan tawaf wada, agar harga tidak dipermainkan mengingat biaya yang dapat mencapai 700 riyal.
Haji masa depan bukan hanya haji yang sukses secara ritual, tetapi juga haji yang memuliakan perempuan, melindungi lansia dan difabel, memanfaatkan teknologi secara inklusif, serta menjaga kelestarian lingkungan. Ukuran keberhasilan haji tidak lagi sekadar berapa banyak jemaah diberangkatkan, tetapi seberapa bermartabat mereka dilayani.
Layanan berbasis digital juga sudah ada, namun mayoritas jemaah belum memiliki literasi digital yang baik atau tidak memperhatikan fasilitas digital yang tersedia, seperti berkode yang sudah ada di gelang masing-masing jemaah untuk memitigasi tersesat di jalan. Juga terdapat aplikasi kawal haji agar jemaah dapat menyampaikan laporan maupun kendala layanan, namun tidak banyak yang menyampaikan aduan. Hal ini dimungkinkan karena jemaah haji berlatar belakang pendidikan SD-SMA, yaitu sekitar 64.2%, atau karena kurang sosialisasi secara masif. Karena itu perlu sosialisasi tertulis tentang layanan digital ini.
Dari sisi pelayanan kesehatan, perlu penambahan jumlah tenaga kesehatan karena menjelang pelaksanaan hingga pasca ARMUZNA banyak jemaah yang membutuhkan layanan medis. Selain itu, diperlukan juga layanan terapi psikolog untuk memitigasi kondisi jemaah yang mengalami kelelahan mental, disorientasi, hingga demensia, terutama pada jemaah lansia. Oleh sebab itu, petugas tidak hanya dari PPIH Arab Saudi, tetapi juga petugas kloter dan daerah harus benar-benar dilatih agar siap melayani dan mendampingi jemaah lansia. Di sisi lain, terdapat masukan terkait penertiban dan pengorganisasian jasa kursi roda bagi lansia, khususnya pasca ARMUZNA saat pelaksanaan tawaf ifadah dan tawaf wada, agar harga tidak dipermainkan mengingat biaya yang dapat mencapai 700 riyal.
Haji masa depan bukan hanya haji yang sukses secara ritual, tetapi juga haji yang memuliakan perempuan, melindungi lansia dan difabel, memanfaatkan teknologi secara inklusif, serta menjaga kelestarian lingkungan. Ukuran keberhasilan haji tidak lagi sekadar berapa banyak jemaah diberangkatkan, tetapi seberapa bermartabat mereka dilayani.
(sto)
Lihat Juga :