Dilema Bank Indonesia: Menjaga Rupiah demi Menjaga Masa Depan Ekonomi

Selasa, 26 Mei 2026 - 07:32 WIB
loading...
Dilema Bank Indonesia:...
Listya Endang Artiani, Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia (UII). Foto/Dok. Pribadi
A A A
Listya Endang Artiani
Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia (UII)

“DI TENGAH dunia yang makin tidak pasti, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate menjadi 5,25 persen bukan sekadar kebijakan moneter, melainkan pernyataan bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak boleh dipertaruhkan.”

Di tengah gejolak geopolitik global, Bank Indonesia (BI) kembali menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dijaga dengan kebijakan populis jangka pendek.

Ketika sebagian pelaku pasar berharap suku bunga segera diturunkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, BI justru memilih memperkuat stabilitas dengan menaikkan BI-Rate menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 19–20 Mei 2026. Bersamaan dengan itu, suku bunga Deposit Facility dinaikkan menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6,00 persen.

Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa BI sedang mengirim pesan yang sangat kuat: menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas rupiah saat ini jauh lebih penting dibanding menciptakan euforia pertumbuhan sesaat.

Tekanan Global dan Pilihan Sulit Bank Indonesia


Keputusan tersebut memang tidak lahir disaat dunia sedang menghadapi tekanan yang kompleks. Konflik Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar risiko inflasi global. Materi Bank Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan melambat menjadi 3,0 persen. Sementara inflasi global meningkat menjadi 4,2 persen.

Pada saat yang sama, arus modal global bergerak menuju aset aman di Amerika Serikat akibat tingginya ketidakpastian global. Dalam kondisi seperti itu, keputusan BI menaikkan suku bunga sebenarnya bukan sekadar respons teknis moneter, melainkan langkah strategis menjaga kredibilitas ekonomi nasional.

Banyak negara berkembang gagal membaca dinamika global dan akhirnya terjebak pada pelemahan mata uang, lonjakan inflasi, dan keluarnya modal asing secara besar-besaran. BI tampaknya tidak ingin Indonesia mengulangi pengalaman pahit tersebut.

Menjaga Kredibilitas Rupiah


Secara teoritis, langkah BI sangat relevan dengan kerangka inflation targeting framework dan teori ekspektasi rasional (rational expectations). Dalam teori ini, stabilitas ekonomi sangat bergantung pada kepercayaan pelaku pasar terhadap komitmen bank sentral.

Ketika bank sentral dianggap lambat atau ragu mengambil keputusan, pasar akan menghukum melalui pelemahan mata uang dan capital outflow. Karena itu, kenaikan BI-Rate justru menjadi instrumen untuk menjaga kredibilitas dan membentuk ekspektasi bahwa BI tetap serius menjaga inflasi dan stabilitas rupiah.

Di sinilah letak ketajaman kebijakan BI, disaat banyak pihak hanya melihat kenaikan suku bunga sebagai ancaman bagi pertumbuhan ekonomi. Padahal, bagi negara berkembang seperti Indonesia stabilitas nilai tukar adalah fondasi utama pertumbuhan itu sendiri.

Rupiah yang terdepresiasi terlalu dalam akan memicu imported inflation, meningkatkan biaya impor energi dan pangan, serta menekan daya beli masyarakat. Dalam jangka panjang, dampaknya justru lebih merusak dibanding kenaikan suku bunga itu sendiri.

Langkah BI juga memperlihatkan pemahaman yang realistis terhadap teori impossible trinity atau trilema kebijakan moneter. Dalam ekonomi terbuka dengan arus modal bebas, suatu negara tidak dapat secara bersamaan mempertahankan kebijakan moneter independen, nilai tukar stabil, dan mobilitas modal bebas. Artinya, ketika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, ruang kebijakan BI otomatis menjadi lebih terbatas.

Jika BI tidak menaikkan suku bunga, selisih imbal hasil dengan AS akan semakin sempit dan investor asing berpotensi menarik dananya dari pasar domestik. Karena itu, keputusan menaikkan BI-Rate menjadi 5,25 persen harus dibaca sebagai langkah preventif untuk menjaga stabilitas eksternal Indonesia.

Kebijakan ini sekaligus menunjukkan bahwa BI tidak ingin tertinggal dari dinamika global. Dalam konteks pasar keuangan modern, persepsi sering kali sama pentingnya dengan fundamental ekonomi. Ketika pasar melihat BI responsif dan kredibel, tekanan terhadap rupiah dapat lebih terkendali.

Stabilitas atau Pertumbuhan?


Hal yang menarik, BI tidak hanya mengandalkan suku bunga sebagai instrumen tunggal. Materi BI menunjukkan bahwa bank sentral kini menggunakan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran secara terintegrasi.

Di satu sisi BI memperkuat stabilitas rupiah melalui kebijakan suku bunga dan intervensi pasar valas. Tetapi di sisi lain BI tetap menjaga likuiditas domestik dan mendorong kredit produktif melalui insentif makroprudensial.

Pendekatan ini penting untuk dipahami bahwa BI tampaknya menunjukkan bahwa stabilitas tanpa pertumbuhan akan menciptakan stagnasi, tetapi pertumbuhan tanpa stabilitas justru jauh lebih berbahaya. Karena itu, strategi yang ditempuh bukan memilih salah satu, melainkan menjaga keseimbangan keduanya secara hati-hati.

Menjaga Fondasi Ekonomi Nasional


Fakta menunjukkan bahwa strategi tersebut cukup berhasil. Inflasi Indonesia tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen. Cadangan devisa juga masih kuat dan mampu menopang stabilitas eksternal. Pertumbuhan ekonomi nasional pun masih diproyeksikan berada pada kisaran 4,9–5,7 persen di tengah perlambatan global.

Artinya, kenaikan BI-Rate bukanlah sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang melemah. Sebaliknya, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa BI sedang menjaga agar ekonomi Indonesia tidak kehilangan fondasi stabilitasnya.

Dalam ekonomi modern, pertumbuhan yang sehat hanya mungkin terjadi apabila inflasi terkendali, nilai tukar stabil, dan kepercayaan investor tetap terjaga. Pada akhirnya, keberanian BI menaikkan suku bunga di tengah tekanan populisme ekonomi menunjukkan kualitas kepemimpinan kebijakan moneter Indonesia.

Bank sentral tidak sedang mengejar popularitas jangka pendek, melainkan menjaga keberlanjutan ekonomi nasional di tengah dunia yang makin tidak pasti. Dalam konteks itulah, menjaga rupiah sejatinya bukan sekadar menjaga mata uang.

Menjaga rupiah berarti menjaga kepercayaan pasar, daya beli masyarakat, dan masa depan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sendiri.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kepercayaan Publik terhadap...
Kepercayaan Publik terhadap Polri Meningkat Jadi Modal Sosial yang Harus Diperkuat
Survei Puspoll Indonesia,...
Survei Puspoll Indonesia, Kepuasan Publik Atas Kinerja Presiden Prabowo Capai 64,8 Persen
Kemenag-BI Dorong Rohis...
Kemenag-BI Dorong Rohis Jadi Penggerak Literasi Syariah di Ruang Digital
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Bea Cukai Soetta Gagalkan...
Bea Cukai Soetta Gagalkan Masuknya Uang Asing Senilai Rp6,3 Miliar Tanpa Izin
LPS Naikkan Tingkat...
LPS Naikkan Tingkat Bunga Penjaminan Bank Umum Jadi 3,75%
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Rekomendasi
Telepon dari Customer...
Telepon dari Customer Bikin Syok! Siapa Sosok yang Sebenarnya Dibonceng Ojol Ini?
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Mau Beli Mobil Baru...
Mau Beli Mobil Baru atau Bekas? OLX Kini Sediakan Keduanya dalam Satu Platform
Berita Terkini
Dokter Icha Akhiri Hidup...
Dokter Icha Akhiri Hidup usai Diduga Diintimidasi Legislator Daerah, Puan: Penyelidikan Harus Tuntas
Soroti Kejanggalan,...
Soroti Kejanggalan, Tim Hukum MNC Asia Surati KY dan MA untuk Awasi Sidang Banding Perkara CMNP
Jokowi Lakukan Safari...
Jokowi Lakukan Safari Politik, Puan: Alangkah Baiknya Jaga Situasi Tetap Kondusif
Divonis 10 Tahun Penjara,...
Divonis 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Ajukan Banding
Polda Metro Bakal Limpahkan...
Polda Metro Bakal Limpahkan Kurnia Tri Royani, Rustam Effendi, dan Rizal Fadillah ke Kejati DKI
Nasaruddin Umar Usul...
Nasaruddin Umar Usul 18.000 Guru Agama Honorer Diprioritaskan Diangkat ASN
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved