PBNU: Iduladha 2026 Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka
Minggu, 24 Mei 2026 - 14:54 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, ujian ketaatan saat ini hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari godaan berbuat curang, mengabaikan tanggung jawab, hingga memilih keuntungan sesaat meskipun merugikan orang lain. Karena itu, ia mengingatkan bahwa iman tidak cukup berhenti pada simbol dan ucapan, tetapi harus tercermin dalam sikap hidup yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
![PBNU: Iduladha 2026 Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka]()
Dalam kesempatan itu, Gus Macshoem juga menyoroti pentingnya nilai pengorbanan yang terkandung dalam ibadah kurban. Ia menyebut dunia modern cenderung membentuk manusia untuk terus mengambil, bukan memberi. “Padahal inti Idul Adha adalah kesediaan mengorbankan ego demi kebaikan yang lebih besar,” ucapnya.
Ia mengatakan, pengorbanan tidak selalu berbentuk hal besar, tetapi juga bisa diwujudkan melalui kepedulian sosial, membantu sesama, hingga menjaga perasaan orang lain di tengah kehidupan yang semakin keras. Menurut Gus Macshoem, pembagian daging kurban menjadi simbol penting bahwa kebahagiaan tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus dirasakan bersama, terutama oleh masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.
“Dunia hari ini mungkin tidak kekurangan orang pintar dan kuat. Tetapi dunia sangat membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap tenang saat diuji, tetap jujur saat tergoda, dan tetap peduli ketika banyak orang sibuk dengan dirinya sendiri,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Macshoem juga menyoroti pentingnya nilai pengorbanan yang terkandung dalam ibadah kurban. Ia menyebut dunia modern cenderung membentuk manusia untuk terus mengambil, bukan memberi. “Padahal inti Idul Adha adalah kesediaan mengorbankan ego demi kebaikan yang lebih besar,” ucapnya.
Ia mengatakan, pengorbanan tidak selalu berbentuk hal besar, tetapi juga bisa diwujudkan melalui kepedulian sosial, membantu sesama, hingga menjaga perasaan orang lain di tengah kehidupan yang semakin keras. Menurut Gus Macshoem, pembagian daging kurban menjadi simbol penting bahwa kebahagiaan tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus dirasakan bersama, terutama oleh masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.
“Dunia hari ini mungkin tidak kekurangan orang pintar dan kuat. Tetapi dunia sangat membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap tenang saat diuji, tetap jujur saat tergoda, dan tetap peduli ketika banyak orang sibuk dengan dirinya sendiri,” pungkasnya.
(cip)
Lihat Juga :