Komdigi Siapkan Roadmap AI, Pesantren Didorong Jadi Jangkar Moral Sosial
Rabu, 20 Mei 2026 - 20:09 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Meutya Sebut Pemerintah dan DPR Mulai Bahas Pembentukan Lembaga PDP
"Peta jalan ini sudah kami susun, dan sedang ada di meja presiden untuk mendapatkan persetujuan," tutur Wijaya.
Sebagai salah satu lembaga pendidikan penting yang bersentuhan langaung dengan anak dan generrasi muda Wijaya mendorong keterlibatan pesantren dalam perkembangan teknologi AI khususnya di bidang pendidikan dan perlindungan anak. “Kami mendorong keterlibatan pesantren, seluruh pihak, akademisi, termasuk para ahli di pesantren,” katanya.
Menurutnya, pengawasan terhadap teknologi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga keluarga dan lingkungan terdekat anak. “Agar orang tua turut bertanggung jawab dalam pengawasan. Pemerintah mengawasi platform, namun untuk pengguna, keluarga harus terlibat,” ujarnya.
Dalam pidato kuncinya, Said Aqil Siroj menegaskan bahwa AI harus dipahami dan dikuasai sebagai alat yang dapat memberi manfaat besar bagi manusia. “Manfaatnya besar sekali, tetapi harus sadar ada mudarat besar. Jangan dimusuhi, jangan dihindari, tetapi diarahkan,” katanya.
Sedangkan Anggia Ermarini menilai kemunculan teknologi AI sudah tidak lagi dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Bahkan, AI disebut bukan sekadar alat teknologi, melainkan telah berkembang menjadi struktur sosial baru. AI, lanjut Anggi, bukan sekadar inovasi teknologi yang berdiri sendiri, tetapi struktur sosial baru.
"Perkembangan AI membentuk pola komunikasi, relasi sosial, hingga cara manipulasi informasi melalui algoritma digital dan turut memunculkan risiko baru seperti kekerasan digital, penipuan, hingga eksploitasi data yang sering kali terjadi tanpa disadari masyarakat," tegasnya sambil menegaskan pentingnya maqashid syariah sebagai prinsip dalam menjaga serta mengarahkan penggunaan teknologi AI agar tetap berpihak pada kemaslahatan manusia.
"Peta jalan ini sudah kami susun, dan sedang ada di meja presiden untuk mendapatkan persetujuan," tutur Wijaya.
Sebagai salah satu lembaga pendidikan penting yang bersentuhan langaung dengan anak dan generrasi muda Wijaya mendorong keterlibatan pesantren dalam perkembangan teknologi AI khususnya di bidang pendidikan dan perlindungan anak. “Kami mendorong keterlibatan pesantren, seluruh pihak, akademisi, termasuk para ahli di pesantren,” katanya.
Menurutnya, pengawasan terhadap teknologi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga keluarga dan lingkungan terdekat anak. “Agar orang tua turut bertanggung jawab dalam pengawasan. Pemerintah mengawasi platform, namun untuk pengguna, keluarga harus terlibat,” ujarnya.
Dalam pidato kuncinya, Said Aqil Siroj menegaskan bahwa AI harus dipahami dan dikuasai sebagai alat yang dapat memberi manfaat besar bagi manusia. “Manfaatnya besar sekali, tetapi harus sadar ada mudarat besar. Jangan dimusuhi, jangan dihindari, tetapi diarahkan,” katanya.
Sedangkan Anggia Ermarini menilai kemunculan teknologi AI sudah tidak lagi dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Bahkan, AI disebut bukan sekadar alat teknologi, melainkan telah berkembang menjadi struktur sosial baru. AI, lanjut Anggi, bukan sekadar inovasi teknologi yang berdiri sendiri, tetapi struktur sosial baru.
"Perkembangan AI membentuk pola komunikasi, relasi sosial, hingga cara manipulasi informasi melalui algoritma digital dan turut memunculkan risiko baru seperti kekerasan digital, penipuan, hingga eksploitasi data yang sering kali terjadi tanpa disadari masyarakat," tegasnya sambil menegaskan pentingnya maqashid syariah sebagai prinsip dalam menjaga serta mengarahkan penggunaan teknologi AI agar tetap berpihak pada kemaslahatan manusia.
Lihat Juga :