Ketum Gerakan Cinta Prabowo Sebut Film Pesta Babi Provokatif
Selasa, 19 Mei 2026 - 21:15 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, tidak semua penonton memiliki pemahaman yang sama terhadap pesan yang disampaikan dalam film dokumenter tersebut. Karena itu, ia menilai isi film berpotensi menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.
"Ini tidak boleh terjadi, karena pemahaman dari film ini, nggak semua orang yang nonton film ini bisa memahami maksud dan tujuan dari adegan-adegan yang ada di film itu," katanya.
Kurniawan mengatakan, pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo disebut terus berupaya merangkul masyarakat Papua meski diakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam proses pembangunan. "Prabowo merangkul semuanya. Kalaupun terjadi kekurangan-kekurangan, tentu akan menjadi evaluasi supaya ke depannya bisa ditingkatkan," ujarnya.
Ia juga mempertanyakan arah pesan yang ingin dibangun dalam film tersebut karena dinilai hanya menonjolkan persoalan yang terjadi di Papua tanpa memberikan ruang terhadap capaian pembangunan pemerintah.
"Jadi intinya saya garis bawahi bahwa apa yang dilakukan pemerintah di Papua harus diapresiasi juga dong ya, jangan semua salah," katanya.
![Ketum Gerakan Cinta Prabowo Sebut Film Pesta Babi Provokatif]()
Emrus Sihombing. Foto/Tangkapan layar iNews
Sementara, pengamat politik Emrus Sihombing menyebut, pelarangan pemutaran film berjudul Pesta Babi di sejumlah wilayah di Indonesia justru membuat film tersebut semakin meledak. Menurutnya, hal itu merupakan efek pantul cermin.
"Saya prihatin terhadap kasus ini, kenapa ada pelarangan, tetapi di sisi lain kalau kita lihat teori efek cermin justru yang melarang itu mempromosikan film itu. Kalau tidak dilarang tidak se-booming itu. Jadi justru dia membantu, inilah efek pantul cermin," ujarnya.
Menurut Emrus, dia memiliki riwayat pendidikan S2 Komunikasi Pembangunan dari IPB, sehingga tahu betul tentang bagaimana pelaksanaan pembangunan. Dalam pembangunan, khususnya dalam konteks komunikasi pembangunan, selalu dilupakan tentang komunikasi.
"Ini tidak boleh terjadi, karena pemahaman dari film ini, nggak semua orang yang nonton film ini bisa memahami maksud dan tujuan dari adegan-adegan yang ada di film itu," katanya.
Kurniawan mengatakan, pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo disebut terus berupaya merangkul masyarakat Papua meski diakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam proses pembangunan. "Prabowo merangkul semuanya. Kalaupun terjadi kekurangan-kekurangan, tentu akan menjadi evaluasi supaya ke depannya bisa ditingkatkan," ujarnya.
Ia juga mempertanyakan arah pesan yang ingin dibangun dalam film tersebut karena dinilai hanya menonjolkan persoalan yang terjadi di Papua tanpa memberikan ruang terhadap capaian pembangunan pemerintah.
"Jadi intinya saya garis bawahi bahwa apa yang dilakukan pemerintah di Papua harus diapresiasi juga dong ya, jangan semua salah," katanya.

Emrus Sihombing. Foto/Tangkapan layar iNews
Sementara, pengamat politik Emrus Sihombing menyebut, pelarangan pemutaran film berjudul Pesta Babi di sejumlah wilayah di Indonesia justru membuat film tersebut semakin meledak. Menurutnya, hal itu merupakan efek pantul cermin.
"Saya prihatin terhadap kasus ini, kenapa ada pelarangan, tetapi di sisi lain kalau kita lihat teori efek cermin justru yang melarang itu mempromosikan film itu. Kalau tidak dilarang tidak se-booming itu. Jadi justru dia membantu, inilah efek pantul cermin," ujarnya.
Menurut Emrus, dia memiliki riwayat pendidikan S2 Komunikasi Pembangunan dari IPB, sehingga tahu betul tentang bagaimana pelaksanaan pembangunan. Dalam pembangunan, khususnya dalam konteks komunikasi pembangunan, selalu dilupakan tentang komunikasi.
Lihat Juga :