Fenomena Gangguan Sinyal GPS, DPR: Berpotensi Ancam Keselamatan Penerbangan Sipil

Jum'at, 08 Mei 2026 - 11:01 WIB
loading...
Fenomena Gangguan Sinyal...
Fenomena gangguan sinyal GPS atau GPS Interference di ruang udara Indonesia berpotensi ganggu keselamatan penerbangan komersil. Foto/SindoNews.
A A A
JAKARTA - Anggota Komisi V DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofwan Dedy Ardyanto menyoroti fenomena gangguan sinyal GPS atau GPS Interference di ruang udara Indonesia. Gangguan tersebut berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan komersil di Indonesia.

“Berdasarkan informasi yang saya terima, Airnav Indonesia telah memberikan peringatan kepada komunitas pilot bahwa pada periode 8 sampai 13 April 2026 yang lalu, terdapat fenomena GPS interference yang terjadi secara masif,” ungkap Sofwan Dedy,Jumat (8/5/2026).

Atas dasar informasi tersebut, Ikatan Pilot Indonesia telah menghimbau kepada seluruh pilot untuk untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga situational awareness, dan tidak hanya bergantung pada sistem navigasi GPS. Unggahan akun media social @ikatanpilotindonesia pada 17 April 2026 menjelaskan hal tersebut.

Baca juga: Beban Biaya Perawatan Tinggi, Jumlah Pesawat Beroperasi di RI Kian Menyusut

Peringatan ini penting mengingat gangguan sinyal GPS tersebut dapat mempengaruhi akurasi posisi, kecepatan, atau waktu pada GPS yang digunakan pesawat penerbangan komersial.

Dalam unggahan resminya, akun Ikatan Pilot Indonesia menyatakan bahwa fenomena GPS Interference kini menjadi tantangan nyata dalam operasional penerbangan, termasuk di Indonesia. Sehingga menuntut setiap pilot untuk tetap waspada, menjaga situational awareness, disiplin dalam melakukan cross check, serta tidak bergantung pada sistem navigasi saja.

Lihat video: BANDARA SOETTA KACAU! Hujan Lebat Ganggu Penerbangan, Atap Terminal 3 Bocor!


“Pada akhirnya, ditengah kemajuan teknologi, kemampuan basic flying dan kesiapan pilot tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keselamatan penerbangan,” tulis unggahan di akun tersebut.

“Bahkan, saya mendapat informasi bahwa kejadian serupa terulang lagi pada 5 Mei dan 6 Mei 2026,” lanjut Sofwan Dedy.

Informasi yang beredar di kalangan terbatas menyebutkan sebanyak 52 penerbangan komersial telah mengalami gangguan GPS selama dua periode tersebut.

“Saya meminta Ditjen Perhubungan Udara untuk mendalami hal ini dan memberikan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kok bisa terjadi? Apa penyebabnya? Ini penting karena menyangkut jaminan keselamatan penerbangan sipil,” tegas Sofwan Dedy.

Dalam dunia aviasi, antisipasi terhadap penyebab gangguan sinyal GPS menjadi penting. Apalagi jika terjadi secara masif. “Ini persoalan serius karena jika pesawat komersil modern sangat bergantung pada GPS. Jika GPS terganggu, posisi bisa error, navigasi bisa terganggu, autopilot tertentu bisa terdampak, dan terrain awareness juga bisa terdampak,” tegas Sofwan Dedy.

Sebagai catatan, terrain awareness adalah kemampuan sistem avionik pesawat, yang dikenal sebagai TAWS (Terrain Awareness and Warning System), untuk mendeteksi posisi pesawat terhadap kontur tanah, gunung, atau rintangan di sekitarnya. Sistem ini memberikan peringatan visual dan suara kepada pilot guna menghindari tabrakan.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Besok Komisi I DPR Tetapkan...
Besok Komisi I DPR Tetapkan 7 Anggota KIP 2026-2030
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Singgung Peran KPRP,...
Singgung Peran KPRP, Pakar: Kritik Mahfud MD Terhadap UU Polri Sangat Aneh
Pakar Hukum: Pernyataan...
Pakar Hukum: Pernyataan Mahfud MD Soal UU Polri Abaikan KPRP Membingungkan
Pakar Hukum: UU Polri...
Pakar Hukum: UU Polri yang Baru Akomodasi Kepentingan Masyarakat dan Kepolisian
Revisi UU Polri Disahkan...
Revisi UU Polri Disahkan Jadi Undang-Undang, Pelayanan Kepolisian Diharapkan Meningkat
Penerbangan Umrah Dipindah...
Penerbangan Umrah Dipindah Mulai 1 Juli 2026, Terpusat di Terminal 2F Bandara Soetta
Ratusan Mahasiswa Trisakti...
Ratusan Mahasiswa Trisakti Bergerak dari Tugu 12 Mei Reformasi Menuju Gedung DPR
Ratusan Mahasiswa Trisakti...
Ratusan Mahasiswa Trisakti Bakal Geruduk DPR, Bawa Tiga Tuntutan Rakyat
Rekomendasi
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
5 Artis yang Ramaikan...
5 Artis yang Ramaikan HYROX Jakarta 2026, Luna Maya hingga Cinta Laura
Polisi Ungkap Alasan...
Polisi Ungkap Alasan Pelaku Sekap 3 Karyawan Percetakan, Tuduh Korban Curi Pelat Rp230 Juta
Berita Terkini
Rakor dengan Pimpinan...
Rakor dengan Pimpinan BGN, Dasco Tegaskan DPR Awasi Ketat Program MBG agar Tepat Sasaran
Besok Komisi I DPR Tetapkan...
Besok Komisi I DPR Tetapkan 7 Anggota KIP 2026-2030
5 Calon Manajer Kopdes...
5 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal, Kemhan Ganti Nama Latsarmil
Politikus PDIP Ungkap...
Politikus PDIP Ungkap Anggaran Pelatihan SPPI Lebih Besar untuk Latsarmil ketimbang Substansi Koperasi
Implementasi B50 Perkuat...
Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
Wamensesneg: Presiden...
Wamensesneg: Presiden Sangat Paham dan Menghargai Kebebasan Akademik di Kampus
Infografis
Fenomena Solar Maximum...
Fenomena Solar Maximum Berpotensi Membakar Satelit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved