Jelang Muktamar ke-35 NU, Pengasuh Ponpes Daarul Falahiyah Ungkap 3 Pesan Mbah Bisri
Kamis, 16 April 2026 - 15:05 WIB
loading...
Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, wacana arah kepemimpinan kembali menjadi perhatian. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, wacana arah kepemimpinan kembali menjadi perhatian. Pasal,organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut tengah menghadapi dinamika kepemimpinan.
Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falahiyah Cisoka Ahmad Imron atau Gus Imron, mengangkat kembali pesan klasik pendiri NU, KH Bisri Syansuri atau Mbah Bisri. Menurut Gus Imron, kondisi NU saat ini menuntut refleksi mendalam dengan berpegang pada nilai-nilai dasar yang telah diwariskan para muassis.
Anggota DPRD Provinsi Banten ini menilai, tiga pesan Mbah Bisri bukan sekadar nasihat, tetapi dapat menjadi solusi strategis untuk menjawab dinamika kepemimpinan NU hari ini.
“Untuk mengatasi kebuntuan dan gejolak arah kepemimpinan NU, saya menyebutnya sebagai triple problem solving. Tiga pesan Mbah Bisri ini masih sangat relevan,” ujar Gus Imron, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Nahdlatul Ulama Bukan Komoditas! Muktamar NU Harus Bersih dari Mainan Aktor Politik
Adapun tiga pesan yang dimaksud adalah pertama, warga NU diingatkan agar tidak menjadikan NU sebagai ladang mencari keuntungan pribadi. Kedua, jangan meninggalkan atau membenci NU karena hal itu justru akan membawa dampak buruk. Ketiga, warga nahdliyin didorong untuk membesarkan NU dan aktif dalam program-programnya agar mendapatkan keberkahan hidup.
“Jika tiga prinsip tersebut dipegang teguh, maka arah organisasi akan kembali pada khittah perjuangan yang lurus dan berkelanjutan,” katanya.
Gus Imron menyebut sosok yang dinilai mampu menerjemahkan pesan tersebut dalam konteks kekinian adalah cucu langsung Mbah Bisri, yakni KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam.
Lihat video: Bukan Sekadar Dukungan, Prabowo Akui Jadi Lebih Berani Bela Rakyat Saat di Tengah NU
“Kalau yang lain mungkin tidak memiliki beban moral yang sama. Tapi sebagai cucu, Gus Salam punya kedekatan nilai dan tanggung jawab untuk menerjemahkan pesan Mbah Bisri,” tegasnya.
Nama Gus Salam belakangan menjadi sorotan di lingkungan NU. Kiai muda asal Pondok Pesantren Denanyar, Jombang itu saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU periode 2022–2027 dan dikenal aktif dalam berbagai struktur organisasi sejak awal 2000-an.
Dalam perkembangan terbaru, KH Abdussalam Shohib secara terbuka menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Halalbihalal PC IKA PMII Jombang di Al-Aqobah International School, dan disambut antusias oleh peserta beberapa waktu yang lalu.
“Saya diperintah para kiai untuk berikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 nanti,” ujar Gus Salam.
Gus Salam menegaskan langkah tersebut bukan didorong ambisi pribadi, melainkan bentuk ketaatan kepada para guru dan sesepuh pesantren. Gus Salam juga memohon doa restu serta masukan dari para kiai dan warga NU agar dapat menjalankan amanah dengan baik.
Di tengah dinamika menuju Muktamar, gagasan tiga pesan Mbah Bisri yang kembali digaungkan Gus Imron menjadi refleksi penting bahwa masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh figur, tetapi juga sejauh mana nilai-nilai dasar organisasi dijaga dan diterjemahkan dalam kepemimpinan ke depan.
Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falahiyah Cisoka Ahmad Imron atau Gus Imron, mengangkat kembali pesan klasik pendiri NU, KH Bisri Syansuri atau Mbah Bisri. Menurut Gus Imron, kondisi NU saat ini menuntut refleksi mendalam dengan berpegang pada nilai-nilai dasar yang telah diwariskan para muassis.
Anggota DPRD Provinsi Banten ini menilai, tiga pesan Mbah Bisri bukan sekadar nasihat, tetapi dapat menjadi solusi strategis untuk menjawab dinamika kepemimpinan NU hari ini.
“Untuk mengatasi kebuntuan dan gejolak arah kepemimpinan NU, saya menyebutnya sebagai triple problem solving. Tiga pesan Mbah Bisri ini masih sangat relevan,” ujar Gus Imron, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Nahdlatul Ulama Bukan Komoditas! Muktamar NU Harus Bersih dari Mainan Aktor Politik
Adapun tiga pesan yang dimaksud adalah pertama, warga NU diingatkan agar tidak menjadikan NU sebagai ladang mencari keuntungan pribadi. Kedua, jangan meninggalkan atau membenci NU karena hal itu justru akan membawa dampak buruk. Ketiga, warga nahdliyin didorong untuk membesarkan NU dan aktif dalam program-programnya agar mendapatkan keberkahan hidup.
“Jika tiga prinsip tersebut dipegang teguh, maka arah organisasi akan kembali pada khittah perjuangan yang lurus dan berkelanjutan,” katanya.
Gus Imron menyebut sosok yang dinilai mampu menerjemahkan pesan tersebut dalam konteks kekinian adalah cucu langsung Mbah Bisri, yakni KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam.
Lihat video: Bukan Sekadar Dukungan, Prabowo Akui Jadi Lebih Berani Bela Rakyat Saat di Tengah NU
“Kalau yang lain mungkin tidak memiliki beban moral yang sama. Tapi sebagai cucu, Gus Salam punya kedekatan nilai dan tanggung jawab untuk menerjemahkan pesan Mbah Bisri,” tegasnya.
Nama Gus Salam belakangan menjadi sorotan di lingkungan NU. Kiai muda asal Pondok Pesantren Denanyar, Jombang itu saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU periode 2022–2027 dan dikenal aktif dalam berbagai struktur organisasi sejak awal 2000-an.
Dalam perkembangan terbaru, KH Abdussalam Shohib secara terbuka menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Halalbihalal PC IKA PMII Jombang di Al-Aqobah International School, dan disambut antusias oleh peserta beberapa waktu yang lalu.
“Saya diperintah para kiai untuk berikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 nanti,” ujar Gus Salam.
Gus Salam menegaskan langkah tersebut bukan didorong ambisi pribadi, melainkan bentuk ketaatan kepada para guru dan sesepuh pesantren. Gus Salam juga memohon doa restu serta masukan dari para kiai dan warga NU agar dapat menjalankan amanah dengan baik.
Di tengah dinamika menuju Muktamar, gagasan tiga pesan Mbah Bisri yang kembali digaungkan Gus Imron menjadi refleksi penting bahwa masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh figur, tetapi juga sejauh mana nilai-nilai dasar organisasi dijaga dan diterjemahkan dalam kepemimpinan ke depan.
(cip)
Lihat Juga :